Thursday, May 17, 2012

Cinta Terbesar

Gambar: Getty Images

Ini bukanlah kisah tentang putri sejati yang menemukan pangerannya. Bukan pula tentang gadis teraniaya yang akhirnya mendapatkan cinta dari seorang pangeran yang didambakan setiap gadis. Tapi, ini adalah kisah seekor induk kucing yang sangat mencintai anak-anaknya.

Dahulu kala, para penyihir bisa dipastikan memiliki seekor kucing berbulu hitam. Kucing-kucing itu selalu berada di sisi para penyihir untuk membantu mereka melakukan kejahatan. Mereka dengan senang hati menjadi pembantu para penyihir dan ikut tertawa di atas penderitaan orang-orang yang merana akibat ulah sang penyihir. Namun, ada satu kucing yang berbeda.

Kucing betina itu sedang hamil tua dan siap melahirkan anak-anaknya. Saat itu dia berpikir bahwa anaknya harus memiliki kehidupan yang lebih baik darinya. Anak-anaknya tidak boleh menjadi peliharaan penyihir jahat dan harus mengabdikan diri untuk kejahatan. Karena itu, kucing ini berniat kabur dari pemiliknya, seorang penyihir tua yang keji. Di malam yang telah ia tentukan, kucing itu berjalan dengan melipat kuku-kukunya agar si penyihir tidak mendengarnya. Namun saying, saat berhasil melewati pintu, penyihir itu memergokinya.

Meskipun kaget, kucing itu tetap berusaha kabar dengan lari sekuat tenaga sambil menghindari mantra-mantra yang dirapelkan kepadanya. Karena geram, penyihir pun mengucapkan sebuah kutukan, yaitu dia akan mencari dan memakan anak-anak kucing itu. Kutukan itu membuat si kucing sangat bersedih hati. Dia selalu memikirkan cara menyelamatkan anak-anaknya hingga tiba saatnya dia melahirkan.

Setelah melahirkan di tempat yang aman, si kucing tidak pernah meninggalkan ketiga anaknya untuk melindungi mereka. Si kucing rela menahan lapar dan tetap menyusui bayi-bayi itu. Sampai suatu hari ia melihat ada burung gagak bertengger di dekat tempat persembunyiannya dan melihat ke arah mereka. Induk kucing pun ketakutan karena ia tahu siapa pun bisa menjadi mata-mata si penyihir. Maka, setelah burung gagak itu pergi, induk kucing berniat untuk memindahkan anak-anaknya ke tempat lain. Tapi, dia tidak bisa menggendong mereka karena ia harus berjalan dengan empat kaki. Akhirnya dia hanya bisa memindahkan mereka satu per satu dengan cara menggigit kulit leher anak-anak kucing itu.

Induk kucing harus bolak – balik membawa mereka satu per satu namun itu dia lakukan tanpa mengeluh demi keselamatan anak-anaknya. Mereka pun bersembunyi di tempat yang baru yang lebih aman. Namun ternyata, di tempat baru itu dia melihat ada seekor ular yang melintas di depan persembunyiannya. Ular itu mengintip ke dalam persembunyian mereka, lalu pergi. Induk kucing panik. Segera ia memindahkan anak-anaknya ke tempat lain yang lebih aman.
Usaha memindahkan anak-anak kucing ini terjadi hingga sembilan kali telah Sembilan kali pula tempat persembunyiannya diketahui oleh mata-mata penyihir. Dan di usaha ke Sembilan, anak-anaknya sudah cukup besar untuk bisa mengungkapkan rasa sakit di lehernya ketika dibawa oleh sang induk.

“Ibu, mengapa kau menyakiti kami berkali-kali?” Tanya anak-anak kucing itu.

Mendengarnya, induk kucing menangis sedih. Lalu ia berkata, “Maafkan ibu anak-anakku sayang, ibu tidak bermaksud menyakiti kalian, tapi hanya itulah cara terbaik yang ibu tahu untuk menjaga kalian. Maafkan ibu, andai saja ibu bisa melakukan yang lebih baik dari yang ibu bisa.”

Mendengar kata-kata sang ibu, anak-anak kucing itu meminta maaf. Selama ini mereka tidak tahu bahwa yang dilakukan ibunya itu, meski kadang membuat mereka merasa tidak nyaman, ternyata adalah untuk kebaikan mereka. Mereka bahkan sekarang menyadari betapa besar usaha yang harus dilakukan ibunya untuk memberikan kehidupan yang baik bagi mereka. Dan karena mereka sekarang sudah cukup besar untuk berjalan sendiri, mereka meminta ibunya untuk tidak repot-repot membawa mereka. Mereka dengan senang hati berjalan di samping induk kucing dan berpindah-pindah mencari tempat yang aman untuk hidup.

Dan itulah mengapa sekarang kau sering melihat induk kucing menggigit leher anaknya dan berpindah tempat hingga sembilan kali. Jangan pernah memberhentikan induk kucing itu dan memisahkan anak kucing darinya, karena sebenarnya, itulah tanda cinta terbesar induk kucing terhadap anak-anaknya.

***
Dongeng ini adalah karya asli Damar Wijayanti yang bisa digunakan atau disebarkan dengan mencantumkan nama penulis dan link blog ini. Terima kasih karena telah menghargai karya dan hak cipta penulis.

Wednesday, May 16, 2012

Anak Rakus, Peri dan Perumpamaan Balon

Gambar: Getty Images


Di sebuah kota, terdapat seorang anak laki-laki yang rakus. Dia selalu merasa tidak cukup dengan apa yang dimakannya, meskipun sebenarnya perutnya sudah terasa begitu penuh karena kekenyangan. Anak ini selalu berusaha untuk menambah jatah makanannya dengan mengambil sebagian makanan dari orang lain. Dia terus makan dan makan tanpa mempedulikan perutnya yang terasa sesak.

Suatu hari, seluruh anak di kota itu diundang ke festival para peri. Konon di negeri para peri, anak-anak bisa tidur di atas awan yang putih dan lembut, serta bermain bersama hewan-hewan ajaib. Bahkan di sana terdapat istana yang terbuat dari permen dan coklat tempat anak-anak bisa mengambil makanan manis secukupnya untuk dibawa pulang seusai festival.

Sesuai dengan peraturan festival, anak-anak akan dijemput oleh para peri di balai kota. Masing-masing anak akan mendapat satu peri sebagai pendamping, dan peri pendamping inilah yang akan membawa mereka terbang ke negeri ajaib. Hari yang ditunggu-tunggu semua anak di kota itu pun tiba. Anak-anak yang antusias dan para orang tua sudah menunggu di balai kota menunggu kedatangan para peri, termasuk si anak rakus.

Peri-peri datang beterbangan di atas mereka dan segera mendarat di sebelah anak yang akan dia terbangkan. Meskipun ukurannya kecil, peri-peri ini mampu mengangkat beban tubuh seorang anak dengan berat badan normal. Satu per satu anak terbang bersama peri-peri mereka. Namun, kesulitan dialami oleh peri yang bertugas menerbangkan si anak rakus. Karena terlalu banyak makan, si anak rakus memiliki berat badan di atas berat badan normal anak-anak. Peri itu pun tidak sanggup menerbangkan si anak rakus. Dengan sedih, peri itu meminta maaf kepada si anak rakus karena tidak bisa membawanya pergi ke festival di dunia ajaib.

Melihat si anak yang bersedih, peri itu menawarkan untuk menemaninya bermain di kota karena teman-temannya tidak ada yang berada di kota itu untuk bermain. Si anak setuju dan mereka bermain di belakang rumah si anak. Saat itu, ibu si anak menyediakan makanan untuk si anak dan si peri. Si anak segera menghabiskan makanannya yang banyak, dan meskipun perutnya sudah sesak dan kekenyangan, dia mengambil jatah makanan si peri. Si peri mencoba menasihatinya untuk tidak makan secukupnya saja karena makan berlebihan bisa membuat perutnya sakit, namun si anak tidak peduli.

Akhirnya si peri mengeluarkan dua balon dati tas ajaibnya. Dia menunjukkan kepada si anak bahwa perut anak itu bisa jadi seperti salah satu balon ini. Balon pertama diberinya udara yang cukup dan mengembang sempurna. Sedangkan balon kedua diberinya udara yang berlebihan. Balon itu terus membesar dan membesar.

“Sudah cukup peri, sudah ada banyak udara di dalam balon itu.” Kata si anak.

“Nah, seperti perutmu yang sudah kenyang kan? Apa yang terjadi jika aku terus menambahkan udara ke balon ini?” Tanya peri.

“Balonnya bisa meletus.” Jawab si anak. “Apakah perutku akan meletus karena kebanyakan makan?” Tanya si anak.

“Tidak akan sampai meletus, tapi akan terasa sakit seperti ada balon yang meletus di dalam perutmu.” Jelas peri. “Nah apa kau mau perutmu sakit?” Tanya peri.

Si anak menggeleng.

“Kalau begitu, makanlah secukupnya. Jangan paksa perutmu untuk terus makan kalau sudah merasa kenyang.” Si peri menasihati.

“Kalau aku makan secukupnya, apakah tahun depan kau bisa membawaku terbang ke festival peri?” Tanya si anak.

“Tentu saja, asal kau berjanji untuk tidak makan berlebihan mulai sekarang. Tahun depan aku akan menjemputmu. Jika kau lebih ringan, aku bisa membawamu terbang ke festival peri di negeri ajaib.” Jawab si peri.

Sejak saat itu, si anak berjanji untuk tidak rakus lagi. Dia makan secukupnya dan tidak memaksa perutnya lagi untuk menampung makanan berlebihan. Dia berusaha keras agar tahun depan dia bisa bermain di festival peri di negeri ajaib bersama teman-temannya.

***
Dongeng ini adalah karya asli Damar Wijayanti yang bisa digunakan atau disebarkan dengan mencantumkan nama penulis dan link blog ini. Terima kasih karena telah menghargai karya dan hak cipta penulis.

Tuesday, May 15, 2012

Rumah Para Liliput Hutan

Gambar: Getty Images


Di pinggir hutan, hiduplah sekelompok penebang kayu yang rakus. Mereka ingin mendapatkan banyak keuntungan dan menebang segala pohon yang ada di hadapannya tanpa peduli akan merusak rumah burung-burung dan makhluk-makhluk lain di pepohonan. Mereka bahkan tidak tahu bawa para liliput hutan hidup di dalam kulit kayu dan bahwa mereka sudah membunuh banyak liliput karena asal menebang pohon.

Para liliput yang bersedih hati untuk teman-teman dan keluarga mereka yang meninggal karena rumahnya dihancurkan, akhirnya menggelar sebuah ritual. Malam-malam, bersama-sama mereka menculik salah satu penebang kayu dan mengelilinginya sembari menarikan gerakan-gerakan sakral lengkap dengan mantra-mantra. Si penebang kayu pun dengan ajaib menyusut ukutannya dan menjadi bagian dari keluarga liliput itu.

Si penebang kayu itu kebingungan namun tidak bisa melakukan apa-apa. Akhirnya dia hanya bisa pasrah dan menjalani hidup bersama keluarga besar liliput di dalam kulit kayu. Suatu ketika, di tengah tidur mereka, para liliput merasakan goncangan keras dan suara bising dari mesin gergaji kayu. Sekelompok penebang kayu rakus yang juga teman dari si penebang kayu itu menebang kayu tempat dia hidup bersama para liliput. Si penebang kayu segera keluar dari balik kulit kayu dan berteriak-teriak minta tolong kepada teman-temannya, agar mereka tidak menebang pohon itu. Namun tak ada satu orang pun dari mereka yang dapat mendengarnya.

Akhirnya pohon itu tetap rubuh dan rumah bagi keluarga besar liliput di pohon itu hancur. Hampir setengah dari liliput, terutama anak-anak liliput tidak bisa menyelamatkan diri. Para ibu liliput menangis histeris mengetahui anaknya tak bernyawa lagi. Si penebang kayu sangat sedih melihat pemandangan itu. Dia merasa bersalah dan menyesali perbuatannya selama ini. Dia tidak menyangka, tiap kali dia menebang pohon sembarangan, dia dapat melukai bahkan membunuh berbagai makhluk yang hidupnya bergantung pada pohon itu.

Untuk menebus kesalahannya, si penebang kayu mengajukan ide kepada seluruh keluarga besar lilipun yang hidup di pepohonan lain. Dia mengajak semua liliput di hutan bekerja sama menghentikan para penebang rakus. Jika dengan bersama-sama para liliput itu pernah bisa menculiknya, kali ini mereka pasti bisa menghentikan para penebang rakus itu. Para liliput pun setuju karena mereka sudah muak rumah mereka dihancurkan.

Esok harinya, saat para penebang memasuki hutan untuk menebang pohon lagi, semua liliput keluar dari dalam pepohonan. Sebelumnya mereka telah mengangkut batu-batu yang cukup besar ke dahan-dahan pohon. Saat para penebang datang dan menyalakan mesin gergaji, mereka menjatuhkan semua batu secara bersamaan. Batu-batu itu meluncur dari atas pepohonan seperti sebuah hujan batu, melukai para penebang rakus dan merusak mesin gergaji. Para penebang pohon pun berlarian ke luar hutan.

Hari itu dengan kerjasama yang baik, mereka sukses menyelamatkan rumah mereka. Ata side yang diusulkannya, si penebang kayu akhirnya dimaafkan oleh para liliput. Mereka setuju untuk mengubah si penebang kayu ke ukuran semula asalkan si penebang kayu mau melindungi pepohonan tempat tinggal para liliput. Si penebang kayu pun segera mengiyakan dan berjanji kepada mereka.

Para liliput kembali menggelar ritual sakral. Mereka menari-nari mengelilingi si penebang kayu dan mengucapkan mantra-mantra. Si penebang kayu makin lama makin membesar dan kembali ke ukuran semula. Sebelum pergi dari hutan, dia mengucapkan terimakasih kepada para liliput. Si penebang kayu pun kembali ke pondoknya di pinggir hutan dan menemui teman-temannya. Dia berniat untuk menceritakan pengalaman ajaibnya ini dan meminta teman-temannya untuk tidak merusak pepohonan rumah para liliput. Sejak saat itu, si penebang kayu itu justru menjadi si penjaga hutan.

***
Dongeng ini adalah karya asli Damar Wijayanti yang bisa digunakan atau disebarkan dengan mencantumkan nama penulis dan link blog ini. Terima kasih karena telah menghargai karya dan hak cipta penulis.

Monday, May 14, 2012

Putri Duyung di Dalam Bola Kristal

Gambar: Getty Images

Di kedalaman laut, tinggal keluarga duyung yang memiliki anak yang pemarah. Putri duyung kecil itu selalu berteriak-teriak dan menggunakan kata-kata kasar kepda orang tuanya. Sebenarnya sang ibu sudah sering menasihatinya dengan lembut namun sikapnya tidak membaik.

Sampai suatu hari, putri duyung itu memaki ibunya dengan kata-kata yang menyakitkan. Sang ibu yang marah dan sakit hati akhirnya tanpa sengaja mengucapkan kata-kata kutukan yang membuat putri duyung diliputi gelembung udara. Gelembung udara itu membawanya melayang ke permukaan air dan mengeras menjadi bola kristal, menjebak putri duyung di dalamnya. Dia terapung-apung di permukaan laut dan terombang-ambing. Sang ibu yang menyadari hal itu segera menyesal namun tak dapat menarik kutukannya. Akhirnya dia meminta dewi laut untuk membebaskan putrinya. Dewi laut pun berjanji akan membebaskan putri duyung apabila putri duyung telah menyadari dan menyesali perbuatan kasarnya kepada sang ibu.

Setelah terombang-ambing beberapa hari, bola kristal berisi putri duyung itu ditemukan oleh seorang nelayan tua. Dia memungut bola kristal itu, matanya berbinar-binar melihat keindahannya. Dia pun berbicara sendiri, mengatakan bahwa putrinya pasti akan sangat menyukai bola kristal ini sebagai hadiah. Dia pun membawanya pulang. Di tengah perjalanan pulang, nelayan tua itu harus menghadapi badai. Dia berjuang keras mengendalikan perahunya agar dia bisa pulang dengan selamat dengan membawa ikan-ikan hasil tangkapannya untuk keluarganya.

Untunglah dewi laut masih berpihak kepadanya sehingga ia bisa selamat sampai di rumah. Setelah memasuki pintu rumah, yang pertama kali dilakukan oleh si nelayan adalah memberikan bola kristal itu kepada anaknya. Meskipun sebenarnya sangat senang dengan hadiah itu, sang anak sama sekali tidak berterimakasih kepada sang ayah. Sang ayah pun sedikit kecewa.

Beberapa hari putri duyung berada di atas meja di rumah kecil itu. Dia melihat aktifitas keluarga kecil itu, bagaimana sang ibu bekerja menyiapkan makanan untuk mereka makan, dan ayah yang pergi pagi-pagi buta untuk melaut dan pulang hampir tengah malam untuk menangkap ikan bagi mereka. Namun anak mereka hanya bermalas-malasan seharian tanpa membantu sama sekali. Bahkan anak itu cenderung selalu minta dilayani. Jika tidak diruti, dia akan mencaci-maki kedua orang tuanya.

Melihat hal itu, putri duyung jadi bersedih. Dia terngat perlakuannya kepada ibunya, dia baru menyadari bahwa selama ini ibunya telah bekerja keras merawatnya namun dia justru semena-mena dan tidak berterimakasih. Dia pun menyesal telah meneriakkan kata-kata kasar yang menyakiti ibunya. Akhirnya dia menangis sendirian di dalam bola kristalnya, ia menangis karena merasa bersalah. Ia menangis karena rindu kepada ibunya dan sangat ingin meminta maaf dan memeluk ibunya dengan sayang.

Tanpa ia sadari, setiap butir tangisannya menjadi pertanda bagi dewi laut untuk membebaskan putri duyung dari kutukan ibunya. Keajaiban terjadi malam itu. Bola kristal itu pecah dan putri duyung diangkat melayang oleh butira-butiran kristal yang siap membawanya kembali ke laut. Namun sebelum pergi, putri duyung mendekati anak nelayan yang tercengang melihat kejadian itu. Dia membisikkan pesan kepada anak itu agar tidak bersikap kasar kepada orang tuanya agar dia tidak menyesal suatu saat nanti. Setelah itu, putri duyung pun kembali ke laut dan segera berenang ke kedalaman untuk menemui ibunya, meminta maaf dan memeluk, dan mencium sang ibu dengan sayang.

***
Dongeng ini adalah karya asli Damar Wijayanti yang bisa digunakan atau disebarkan dengan mencantumkan nama penulis dan link blog ini. Terima kasih karena telah menghargai karya dan hak cipta penulis.

Sunday, May 13, 2012

Goldy


Gambar: Getty Images

Di sebuah desa, terdapat seorang saudagar kaya yang kewalahan mengurus anak lelakinya yang sangat nakal karena istrinya telah meninggal. Karenanya, dia ingin mencari istri baru untuk merawat anaknya itu. Saudagar kaya ini pun menikahi seorang janda yang juga memiliki anak laki-laki sebaya dengan anaknya. Saudagar itu berpikir, anak lelaki janda ini tentu bisa menjadi saudara sekaligus teman bermain bagi anaknya yang tidak memiliki teman.

Anak janda itu bernama Goldy, sesuai dengan namanya, dia adalah anak berhati emas yang ramah dan baik kepada setiap orang sehingga memiliki banyak teman. Sedangkan anak saudagar kaya itu bernama Bogy. Bogy anak yang sangat nakal dan kasar sehingga tak ada anak lain yang mau bermain dengannya.

Setelah orang tua mereka menikah, Goldy yang baik hati mengajak Bogy untuk ikut bermain bersama teman-temannya. Bogy senang, namun karena sikapnya yang kasar dan nakal saat bermain, teman-teman Goldy tidak mau bermain dengan Bogy. Mereka justru mengajak Goldy bermain di tempat lain dan meninggalkan Bogi.

Karena iri terhadap Goldy yang memiliki banyak teman, Bogi pergi ke tempat tukang sihir di sebuah pasar malam. Dia meminta tukang sihir mengubah Goldy menjadi Troll agar tidak ada anak-anak yang berani bermain bersama dia, sehingga Goldy tidak memiliki teman dan teman-teman Goldy bisa menjadi teman-teman Bogi. Dengan bayaran, si tukang sihir pun melakukan perintah Bogi.

Esok hari, Goldy terbangun di tempat yang asing baginya. Dia terbangung di kubangan lumpur yang kotor di lembah sebuah bukit. Dalam keadaan bingung, Goldy mencari sungai untuk membersihkan dirinya. Dalam perjalanan mencari sungai, dia agak heran karena tanaman-tanaman di sekitarnya seperti menyusut. Setelah sampai di sebuah sungai, baru Goldy menyadari bahwa dirinya telah berubah menjadi troll yang mengerikan.

Goldy pun berjalan ke desa untuk mencari bantuan, namun tak seorang pun yang mau didekatinya. Mereka takut dan segera bersembunyi, bahkan ada yang melemparinya dengan batu dan obor agar Goldy pergi dari desa itu.

Setelah beberapa hari menyendiri di bukit di samping desa, Goldy merasa kesepian. Kebetulan, saat itu dia mendengar suara teman-temannya sedang asyik bermain di padang rumput. Mereka bermain bersama Bogi. Goldy pun mendatangi mereka karena ingin bergabung. Namun apa yang terjadi? Teman-temannya ketakutan dan bersembunyi, sedangkan Bogi melemparinya dengan batu agar pergi dari tempat bermain itu.

Dengan sedih, Goldy meninggalkan mereka dan kembali ke balik bukit. Dia duduk berkubang di lembah lumpur dan mencoba bermain sendiri. Dia memetik daun yang lebar dan menjadikannya perahu untuk dijalankan di atas kubangan lumpur itu. Goldy tidak sadar bahwa ada seorang gadis cilik yang sedari tadi mengamatinya, sampai gadis itu berdeham.

“Bolehkah aku naik ke atas perahu itu?” tanya gadis itu sopan.

“Tentu saja, kalau kau tidak takut denganku.” Jawab Goldy.

“Kenapa harus takut? Kamu tidak berniat jahat kepada anak-anak tadi kan? Kamu hanya ingin bermain bersama?” tanya gadis itu yang ternyata juga melihat kejadian Goldy mendekati teman-temannya di padang rumput.

“Ya, tapi mereka takut padaku. Sekarang aku tidak punya teman lagi.” Jawab Goldy sedih.

“Jangan bersedih, aku ingin bermain denganmu. Ayo naikkan aku ke perahumu.” Hibur si gadis kecil.

Goldy menuruti kemauan gadis kecil itu. Mereka bermain bersama dengan gembira hingga sore hari. Sebelum matahari terbenam, gadis itu berpamitan pulang.

“Jangan bersedih lagi ya Goldy, tenang saja, aku mau kok menjadi temanmu.” Bujuk si gadis kecil.

Goldy tersenyum mendengarnya. Dan saat itu keajaiban terjadi. Tubuh Goldy tiba-tiba mengecil dan dia kembali ke wujudnya semula, seorang anak laki-laki normal. Ternyata mantra si tukang sihir lenyap saat Goldy menemukan teman sejati, yang tetap mau menemani Goldy di saat teman-temannya yang lain pergi. Goldy pun pulang bersama si gadis kecil menuju desa. Mereka pun akhirnya menjadi sahabat baik.

***
Dongeng ini adalah karya asli Damar Wijayanti yang bisa digunakan atau disebarkan dengan mencantumkan nama penulis dan link blog ini. Terima kasih karena telah menghargai karya dan hak cipta penulis.

Saturday, May 12, 2012

Rayuan Goblin

Gambar: Getty Images

Di musim-musim terdingin di sebuah desa di kaki gunung, anak-anak dilarang keluar rumah untuk bermain karena cuaca begitu buruk dan berbahaya bagi mereka. Selain itu, pada musim ini para goblin turun dari gunung untuk menculik anak-anak yang nekat bermain di luar rumah. Apalagi, para goblin jahat ini tahu bahwa anak-anak sering ditinggal di rumah oleh orang tuanya karena para orang tua ini tidak bisa mengajak anak-anak mereka saat mereka harus pergi karena cuaca yang begitu buruk.

Meskipun para orang tua sudah melarang anak-anaknya bermain di luar agar aman dari goblin, namun masih banyak anak-anak yang menghilang karena di culik para goblin. Para goblin merayu dengan banyak hal yang disukai anak-anak agar mereka mau membukakan pintu dan mengikuti goblin pergi dari rumah, saat para orang tua mereka tidak ada di rumah.

Suatu hari yang sangat suram dan bercuaca sangat buruk, orang tua Orka harus pergi ke kota untuk membeli roti dan bahan makanan lain. Mereka sebenarnya khawatir saat harus meninggalkan Orka sendirian di rumah karena anak-anak tetangga mereka sudah banyak yang termakan rayuan goblin dan menghilang dari rumah. Namun, karena cuaca sangat buruk dan berbahaya bagi Orka untuk keluar dari rumah, akhirnya mereka terpaksa meninggalkan Orka di rumah. Sebelum pergi, mereka meminta Orka untuk berjanji untuk tidak membukakan pintu bagi siapapun, dan berjanji untuk tidak menginjakkan kaki sedikit pun di luar rumah.

Seperti anak-anak lain, Orka berjanji kepada orang tuanya. Namun kebanyakan anak-anak lain mengingkari janjinya kepada orang tua mereka karena terbujuk rayuan para goblin, akibatnya mereka pun berhasil diculik.

Beberapa saat setelah orang tuanya pergi, sesosok goblin mengetuk pintu rumah Orka. Orka berjalan ke pintu dan mengintip melalui jendela di samping pintu. Dia melihat si goblin menyeringai sambil menyodorkan sekeranjang apel merah mengkilat yang sangat menggiurkan. Si goblin berkata bahwa semua apel itu dia bawakan dari gunung khusus untuk Orka, dan meminta Orka membukakan pintu agar ia bisa memberikan apel –apel itu. Namun Orka masih teringat janjinya kepada orang tuanya dan menolak pemberian itu. Goblin pun pergi dengan muka cemberut dan Orka menghembuskan nafas lega. Dia kembali menghangatkan diri di dekat perapian.

Beberapa saat kemudian, pintu kembali diketuk. Orka mengintip lagi dan dia mendapati seorang gadis cantik yang menawarkan gula kapas berwarna merah jambu yang begitu menggoda. Orka tidak tahu bahwa gadis itu adalah jelmaan goblin jahat. Gadis itu tampak baik dan tersenyum manis meminta Orka membukakan pintu agar dia bisa menyuapkan gula kapas itu ke Orka. Orka hampir saja tergoda untuk membukakan pintu, tapi kemudian dia teringat pesan orang tuanya untuk tidak membukakan pintu kepada siapa pun. Siapa pun. Orka pun menolak dengan halus. Si gadis berbalik dengan jengkel dan pergi.

Orka kembali menghangatkan diri di perapian. Perutnya keroncongan karena lapar, sedangkan makanan di rumah itu benar-benar habis. Di tengah kelaparan yang mendera, dia mendengar ada ketukan lagi di pintu. Kali ini dia melihat tetangga sebelah yang membawa roti, kentang tumbuk, dan ayam panggang. Semua itu adalah makanan favorit Orka. Perutnya semakin keroncongan melihat makanan yang lezat-lezat itu. Paman itu mengajak Orka keluar untuk ikut makan di rumahnya. Namun, tanpa disadari Orka, paman ini juga jelmaan dari goblin. Orka memutar kunci pintu. Satu kali putaran lagi, pintu terbuka, tapi tiba-tiba Orka teringat janjinya kepada orang tuanya bahwa dia tidak akan menginjakkan kaki sedikit pun di luar rumah. Dengan berat hati, Orka menolak tawaran paman tetangga dan menolak ajakannya dengan halus agar tak menyakiti perasaannya.

Orka kembali ke dekat perapian sambil menahan lapar. Perutnya meraung-raung dan dia hampir menangis karena sangat kelaparan. Tiba-tiba dia mendengar suara kunci diputar, dan pintu rumahnya terbuka. Dia mengintip dengan takut karena dia mengira dia lupa mengunci kembali pintu itu dan goblin berhasil masuk ke rumah. Tapi begitu melihat siapa yang masuk, Orka langsung berlari mendatanginya untuk memeluknya. Orka menangis sekaligus bahagia saat mengetahui orang tuanya pulang lebih cepat dari dugaan Orka. Orka pun dengan tidak sabar meminta orang tuanya membuka belanjaan mereka.

Betapa bahagianya Orka saat mengetahui orang tuanya tanpa sengaja membeli hal-hal yang ditolaknya dari goblin tadi. Apel-apel ranum yang menggiurkan, gula kapas berwarna merah muda, dan makanan-makanan lezat berupa roti, kentang tumbuk, dan ayam panggang yang siap dihangatkan oleh ibunya dan bisa dia makan dengan lahap. Bahkan, sebagai hadiah karena telah menepati janji Orka mendapatkan lolipop berwarna-warni.

Orka sangat bangga kepada dirinya karena mampu menepati janji dan menuruti aturan dari orang tuanya, serta bisa menolak godaan-godaan dari goblin jahat yang berusaha menculiknya.

***
Dongeng ini adalah karya asli Damar Wijayanti yang bisa digunakan atau disebarkan dengan mencantumkan nama penulis dan link blog ini. Terima kasih karena telah menghargai karya dan hak cipta penulis.

Friday, May 11, 2012

Bermain ke Negeri Ajaib

Gambar: Getty Images

Di sebuah desa di mana banyak anak-anak yang tinggal bersama orang tuanya di sana, tinggal pula dua gadis cilik bersaudari di sana. Namun, berbeda dengan anak-anak lain yang memiliki orang tua yang memiliki cukup banyak emas untuk membelikan mainan-mainan dari kota, kedua kakak beradik ini harus berpuas diri dengan bermain dengan mainan-mainan kayu usang yang bertahun-tahun lalu dibuatkan oleh ayahnya.

Pernah suatu kali, si adik ingin bermain dengan teman-teman sebayanya. Namun sayang, saat tiba di rumah salah satu temannya, dia tidak bisa ikut bermain karena semua teman-temannya bermain menggunakan mainan baru dari kota. Permainan itu mengharuskan semua anggota memiliki alat bermain yang harus dibeli di kota. Si adik pun terpaksa pulang dan batal bermain bersama.

Sesampai di rumah, dia menangis. Dia mengadu kepada orang tuanya, meminta untuk dibelikan alat permaian tersebut. Namun, orang tuanya tidak memiliki cukup banyak uang emas untuk membelikannya. Sang kakak yang mendengar rengekan adiknya kemudian mendekati si adik. Dia menenangkan si adik agar berhenti menangis dan mengajaknya bermain di belakang rumah.

“Lihat, kita tidak harus memiliki alat permainan dari kota untuk bisa bermain dengan gembira. Kita punya kebun bunga dan padang rumput kecil di belakang rumah.” Kata kakak.

“Tapi apa yang asyik di sini? Apa yang bisa kita mainkan?” Tanya adik.

“Ayo ikut aku, aku punya rahasia!” kata kakak sambil menggandeng tangan adiknya.

Mereka berjalan ke bawah pohon yang rindang di belakang rumahnya. Di sana terdapat sebongkah akar pohon tua yang telah mati. Akar itu bisa ditunggangi dan digoyang ke depan dan ke belakang seperti mainan kuda kayu.

“Ini adalah akar pohon ajaib! Ayo kita naik dan lihat kemana dia akan membawa kita pergi.” Kata kakak.

Adik agak tidak percaya tapi akhirnya mengikuti kakaknya karena dia juga penasaran. Setelah keduanya duduk di atas akar pohon itu, kakak mulai menggoyangkannya ke depan dan ke belakang. Mereka pun bergerak-gerak dan merasa seperti sedang menunggang mainan kuda kayu. Si adik mulai senang, namun lama kelamaan dia merasa bosan.

“Kenapa akar ajaib ini tidak membawa kita pergi seperti katamu?” Tanya si adik.

“Mungkin karena kau tidak membayangkannya. Aku dulu sering bermain di sini dan akar ajaib membawaku terbang ke dunia ajaib. Di sana banyak sekali mainan seru.” Jelas kakak.

“Apa yang kau lakukan waktu itu?” Tanya adik.

“Aku memejamkan mata dan membayangkan hal-hal yang menyenangkan seperti naik karosel.” Jawab kakak. Adik pun mengangguk dan mengikuti kata-kata kakak.

Sesaat kemudian, Adik merasa angin berhembus di wajahnya. Dia merasa kakinya terangkat dari tanah. Akar ajaib yang dia naiki berubah menjadi Unicorn kayu yang hidup dan membawa mereka terbang tinggi menembus awan. Seperti kata kakaknya, dia tadi membayangkan menyenangkannya naik karosel. Dan saat membuka mata, dia melihat ada karosel di atas awan!

“Bisakah kita turun dan bermain di taman bermain ajaib ini?” Tanya adik.

“Tentu saja bisa! Ayo kita bersenang-senang!” ajak kakak.

Mereka turun dari punggung Unicorn dan berlari ke arah karosel. Mereka merasakan lembut dan lembabnya awan di kaki mereka, seperti merasakan rumput yang baru tumbuh di pagi hari di musim semi. Mereka menaiki karosel dan berputar-putar senang. Setelah itu, mereka pun mencoba permainan lain sampai puas dan kembali menunggangi Unicorn saat mereka merasa kelelahan.
Kakak mengajak adiknya pulang untuk beristirahat dan berjanji akan menemaninya lagi untuk bermain ke negeri ajaib esok hari. Setelah kembali ke belakang rumah, mereka berjalan bergandengan masuk ke dalam rumah dengan perasaan gembira. Adik merasa sangat senang dan tidak pernah bersedih lagi karena sebelum dia pulang, dia sempat mengantongi tiket untuk kembali menuju negeri ajaib, yaitu sekantong penuh imajinasi :)

***
Dongeng ini adalah karya asli Damar Wijayanti yang bisa digunakan atau disebarkan dengan mencantumkan nama penulis dan link blog ini. Terima kasih karena telah menghargai karya dan hak cipta penulis.