Gambar: Getty Images
Pada awalnya, di rawa-rawa di kedalaman hutan, tidak pernah ada katak berwarna emas. Katak-katak yang tinggal di sana semuanya berwarna hijau, sehijau rawa-rawa tempat mereka tinggal, agar mudah bersembunyi dan menangkap nyamuk-nyamuk makanan mereka setiap hari. Suatu ketika ada seekor katak yang tak sengaja melihat seekor kunang-kunang terbang di atas rawa. Dia sangat terpesona dengan pendar cahaya kunang-kunang yang indah. Dia pun mendekati kunang-kunang itu.
"Hai" ucap katak.
"Astaga!!" teriak kunang-kunang yang kaget dan ketakutan akan di makan. Dia terbang menjauh.
"Tidak, tidak, jangan pergi. Kumohon. Aku tak akan memakanmu, aku hanya ingin mengagumi keindahan cahayamu." rayu katak.
"Benarkah?" tanya kunang-kunang ragu.
"Ya benar. Kau adalah makhluk terindah yang pernah aku lihat. Aku jadi ingin melihat kau dan teman-temanmu melayang bersama-sama di atas rawa ini. Pasti akan seindah bintang di langit, hanya saja terasa lebih dekat. Maukah kau mengajak teman-temanmu ke sini? Aku mohon aku ingin sekali melihat kalian berkelap kelip di atas rawa." pinta katak.
"Mereka pasti takut kau akan memakan kami. Mereka tidak akan mau datang." jawab kunang-kunang.
"Tolonglah, aku berjanji tidak akan memakan kalian. Kalian sangat indah untuk dilihat, bukan dimakan. Percayalah padaku, kita akan menjadi teman yang baik. Ya?" bujuk si katak lagi.
Akhirnya kunang-kunang itu setuju. Dia pergi dari rawa itu dan segera kembali dengan teman-temannya. Mereka melayang-layang di atas rawa yang gelap dan cahayanya sangat indah. Katak itu begitu bahagia dan sampai menangis terharu. Dia berterima kasih kepada kawannya, si kunang-kunang karena telah memberikan kesempatan baginya untuk melihat hal yang paling indah di dunianya.
Katak menikmati pertunjukan alam yang indah itu hingga larut malam dan perutnya berbunyi kelaparan. Rasa lapar yang amat sangat akhirnya menguasai pikirannya. Awalnya dia tak mau menuruti nafsunya untuk memakan kunang-kunang, tapi kemudian dia tak tahan lagi. Dengan cepat dia menyambar kunang-kunang yang paling dekat dengan menggunakan lidahnya. Hanya mencicipi sedikit saja, pikirnya. Namun ternyata kunang-kunang adalah makanan terenak yang pernah ia makan, jauh lebih enak dari nyamuk.
Katak itu pun melanjutkan kejahatannya. Dia memakan kunang-kunang satu per satu, menghiraukan teriakan dan larangan kawannya si kunang-kunang kecil. Hingga akhirnya hanya tersisa satu kunang-kunang di rawa itu, yaitu kawannya sendiri.
"Kau berbohong, kau telah berjanji tidak akan memakan kami." protes kunang-kunang sambil menangis.
"Mana kutahu kalian tidak hanya indah dipandang, tapi juga sangat lezat untuk disantap. Setelah mencicipi satu, ternyata aku sangat suka." seringai si katak sambil menyambar kunang-kunang terakhir dan menelannya. Si katak yang kekenyangan menepuk-nepuk perutnya yang gendut, dan dia kaget saat melihat warna kulitnya berubah menjadi kuning keemasan. Terang seperti kunang-kunang yang telah dimakannya.
Sejak saat itu warna katak itu tak lagi hijau, tapi kuning keemasan. Hal ini membuatnya sulit bertahan di tengah rawa-rawa hijau karena dia menjadi sulit bersembunyi untuk menangkap nyamuk-nyamuk. Dia pun akhirnya kelaparan, badannya semakin kurus dan dia meninggal akibat kerakusan dan kebohongannya sendiri.
***
Dongeng ini adalah karya asli Damar Wijayanti yang bisa digunakan atau disebarkan dengan mencantumkan nama penulis dan link blog ini. Terimakasih karena telah menghargai karya dan hak cipta penulis.
Thursday, May 31, 2012
Wednesday, May 30, 2012
Koloni Lebah Pemarah
Gambar: Getty Images
Di dalam sebuah hutan yang lebat, tinggal ratu lebah bersama koloninya. Meskipun ratu lebah adalah makhluk yang sabar, namun koloni lebah yang satu ini terkenal sangat pemarah dan suka menyakiti makhluk lain saat mereka marah. Saat sedang marah, koloni lebah ini menyengat makhluk lain tanpa kenal ampun. Bahkan lebah-lebah ini terlalu mudah marah sehingga seringkali kesalahan kecil seperti tidak sengaja menyenggol saja tidak bisa mereka maafkan. Namun, kejadian yang terparah terjadi pada seekor anak tupai yang malang. Begini ceritanya.
Suatu hari koloni lebah pergi ke padang bunga untuk mengambil sari bunga. Saat sarangnya kosong, seekor beruang madu mengambil madu dari sarang mereka dan menghabiskannya. Setelah kekenyangan, beruang itu segera pergi karena tak mau ketauan. Saat pulang ke sarang dan mengetahui madu mereka hilang, koloni lebah begitu marah dan mengamuk. Mereka mencari-cari si pencuri dan menemukan seekor anak tupai yang sedang tidur siang di atas dahan pohon di dekat sarang mereka. Koloni lebah pemarah itu pun tanpa bertanya-tanya langsung menyengat anak tupai malang itu tanpa ampun. Padahal anak tupai itu tidak tahu apa-apa, dia baru sampai di dahan itu untuk tidur siang saat beruang madu pergi meninggalkan pohon itu. Namun sayang, koloni lebah pemarah itu tidak mau bersabar mendengarkan penjelasan anak tupai yang malang itu, akhirnya karena terlalu kesakitan, anak tupai malang itu meninggal.
Setelah menyerang anak tupai, koloni lebah pemarah pulang ke sarangnya sambil mengucapkan kata-kata kasar karena emosi. Ratu lebah bertanya kepada mereka kenapa mereka begitu marah. Mereka pun menjawab bahwa mereka baru saja menyerang anak tupai yang mencuri madu mereka. Ratu lebah kaget. Seharian itu ratu lebah tetap tinggal di dalam sarang, jadi dia tahu bahwa pencuri sebenarnya adalah beruang madu. Karena itu dia sangat terkejut ketika mengetahui koloninya menyerang anak tupai yang tak berdosa. Karena tak mau kejadian seperti itu terulang lagi, ratu lebah pun menasihati koloninya untuk tidak mudah murah, dan harus sabar untuk mendengar penjelasan dan apa yang sebenarnya terjadi, bukannya langsung menyerang dengan penuh emosi, apalagi jika salah sasaran.
Namun dasar lebah pemarah, bukannya menurut mereka justru berteriak-teriak kepada ratu lebah karena merasa mereka disalahkan. Akhirnya ratu lebah yang sudah tak tahan lagi dengan teriakan mereka, meneriakkan sebuah kutukan yang pada akhirnya bisa mengubah kebiasaan lebah pemarah menjadi makhluk yang tidak mau gegabah menyerang makhluk lain kecuali saat mereka sangat terdesak.
"Diam kalian semua! Mulai saat ini dan seterusnya, setiap kalian menyengat makhluk lain, sengat kalian akan tertinggal di tubuh makhluk itu dan kalian akan meninggal karena tak memiliki sengat lagi!" Begitulah kutukan ratu lebah diteriakkan dengan lantang.
Mulai saat itu, lebah-lebah pemarah akhirnya harus belajar mengendalikan amarah mereka agar tidak mudah menyakiti makhluk lain dengan sengatnya, karena itu bisa membuat lebah sekarat dan akhirnya meninggal.
***
Dongeng ini adalah karya asli Damar Wijayanti yang bisa digunakan atau disebarkan dengan mencantumkan nama penulis dan link blog ini. Terimakasih karena telah menghargai karya dan hak cipta penulis.
Note: Satu dongeng lagi hasil brainstorm bersama Willy. Thank you Wil :)
Di dalam sebuah hutan yang lebat, tinggal ratu lebah bersama koloninya. Meskipun ratu lebah adalah makhluk yang sabar, namun koloni lebah yang satu ini terkenal sangat pemarah dan suka menyakiti makhluk lain saat mereka marah. Saat sedang marah, koloni lebah ini menyengat makhluk lain tanpa kenal ampun. Bahkan lebah-lebah ini terlalu mudah marah sehingga seringkali kesalahan kecil seperti tidak sengaja menyenggol saja tidak bisa mereka maafkan. Namun, kejadian yang terparah terjadi pada seekor anak tupai yang malang. Begini ceritanya.
Suatu hari koloni lebah pergi ke padang bunga untuk mengambil sari bunga. Saat sarangnya kosong, seekor beruang madu mengambil madu dari sarang mereka dan menghabiskannya. Setelah kekenyangan, beruang itu segera pergi karena tak mau ketauan. Saat pulang ke sarang dan mengetahui madu mereka hilang, koloni lebah begitu marah dan mengamuk. Mereka mencari-cari si pencuri dan menemukan seekor anak tupai yang sedang tidur siang di atas dahan pohon di dekat sarang mereka. Koloni lebah pemarah itu pun tanpa bertanya-tanya langsung menyengat anak tupai malang itu tanpa ampun. Padahal anak tupai itu tidak tahu apa-apa, dia baru sampai di dahan itu untuk tidur siang saat beruang madu pergi meninggalkan pohon itu. Namun sayang, koloni lebah pemarah itu tidak mau bersabar mendengarkan penjelasan anak tupai yang malang itu, akhirnya karena terlalu kesakitan, anak tupai malang itu meninggal.
Setelah menyerang anak tupai, koloni lebah pemarah pulang ke sarangnya sambil mengucapkan kata-kata kasar karena emosi. Ratu lebah bertanya kepada mereka kenapa mereka begitu marah. Mereka pun menjawab bahwa mereka baru saja menyerang anak tupai yang mencuri madu mereka. Ratu lebah kaget. Seharian itu ratu lebah tetap tinggal di dalam sarang, jadi dia tahu bahwa pencuri sebenarnya adalah beruang madu. Karena itu dia sangat terkejut ketika mengetahui koloninya menyerang anak tupai yang tak berdosa. Karena tak mau kejadian seperti itu terulang lagi, ratu lebah pun menasihati koloninya untuk tidak mudah murah, dan harus sabar untuk mendengar penjelasan dan apa yang sebenarnya terjadi, bukannya langsung menyerang dengan penuh emosi, apalagi jika salah sasaran.
Namun dasar lebah pemarah, bukannya menurut mereka justru berteriak-teriak kepada ratu lebah karena merasa mereka disalahkan. Akhirnya ratu lebah yang sudah tak tahan lagi dengan teriakan mereka, meneriakkan sebuah kutukan yang pada akhirnya bisa mengubah kebiasaan lebah pemarah menjadi makhluk yang tidak mau gegabah menyerang makhluk lain kecuali saat mereka sangat terdesak.
"Diam kalian semua! Mulai saat ini dan seterusnya, setiap kalian menyengat makhluk lain, sengat kalian akan tertinggal di tubuh makhluk itu dan kalian akan meninggal karena tak memiliki sengat lagi!" Begitulah kutukan ratu lebah diteriakkan dengan lantang.
Mulai saat itu, lebah-lebah pemarah akhirnya harus belajar mengendalikan amarah mereka agar tidak mudah menyakiti makhluk lain dengan sengatnya, karena itu bisa membuat lebah sekarat dan akhirnya meninggal.
***
Dongeng ini adalah karya asli Damar Wijayanti yang bisa digunakan atau disebarkan dengan mencantumkan nama penulis dan link blog ini. Terimakasih karena telah menghargai karya dan hak cipta penulis.
Note: Satu dongeng lagi hasil brainstorm bersama Willy. Thank you Wil :)
Tuesday, May 29, 2012
Kucing Hutan dan Ratu Hujan
Gambar: Getty Image
Di sebuah hutan hujan, pernah tinggal seekor kucing hutan. Seperti kucing-kucing lain, makhluk ini sangat tidak menyukai air, dan dia sangat geram karena hutan tempat tinggalnya selalu diguyur hujan setiap hari. Dia benci bulunya menjadi basah. Karena itu, dia memutuskan untuk belajar ilmu hitam untuk mengguna-gunai ratu hujan yang tinggal di tengah hutan agar dia tak bisa menurunkan hujan lagi.
Setelah menguasai ilmu hitam, si kucing hutan pergi menemui ratu hujan dan merapalkan guna-guna yang membuat ratu hujan tidur panjang dan tidak bisa dibangunkan. Satu-satunya cara untuk membangunkan ratu hujan adalah dengan membuatnya mencium bau kotoran si kucing hutan. Namun kotoran kucing hutan sangat susah ditemukan karena kucing hutan selalu mengubur kotorannya dengan aman agar sulit dicari.
Akibatnya, hutan hujan itu tidak pernah lagi diguyur hujan. Sungai-sungai di dalamnya kering. Tanah-tanah retak, dan tanaman-tanaman layu. Banyak hewan mati akibat kehausan. Seluruh isi hutan sedih. Hanya si kucing hutan, satu-satunya makhluk yang bahagia saat itu. Suatu ketika karena sudah tidak kuat hidup tanpa air, seluruh penduduk hutan berkumpul untuk rapat. Setiap makhluk harus mengerahkan tenaganya untuk mencari kotoran kucing yang selalu disembunyikan. Semua penduduk hutan kemudian berpencar namun setelah beberapa hari pencarian, tak ada satu pun yang berhasil. Bahkan anjing yang terkenal tajam penciumannya pun tak sanggup melacak kotoran si kucing hutan.
Namun si anjing hutan tidak menyerah. Meskipun sangat kehausan dan hampir pingsan, dia terus berjalan gontai. Ajing hutan bahkan tak sadar ke mana dia berjalan, dia tak sadar bahwa tanah yang dipijaknya telah berganti menjadi daerah berpasir. Di saat setengah sadar itulah, anjing hutan merasakan dia menginjak sesuatu yang lembek di dalam pasir yang kering. Dia mengeluarkan kakinya dan mengendus-endus, lalu dengan gembira dia menyadari itu adalah bau kotoran kucing. Dia pun segeran mencari sehelai daun yang lebar dan membawa kotoran itu ke tengah hutan.
Di sepanjang perjalanan dia bertemu dengan makhluk lain dan mengajak mereka untuk berkumpul untuk menyaksikan kebangkitan ratu hujan. Di tengah hutan, ratu hujan terbaring di atas meja batu yang kering. Di sekelilingnya penduduk hutan berharap dengan cemas. Anjing hutan segera mendekatkan bungkusan daun ke wajah ratu hujan dan membiarkan aromanya masuk ke hidung ratu hujan. Ajaib! Ratu hujan segera terbangun dan segar kembali. Dia pun siap bertugas kembali untuk membawa hujan ke dalam hutan.
Di cekungan sungai yang kering, kucing hutan yang tengah tertidur lelap ketika asik berjemur tak sadar bahwa guna-gunanya kepada ratu hujan telah dipatahkan. Tiba-tiba saja hujan turun di atasnya, dan kucing hutan itu kaget bukan main saat tiba-tiba hujan yang sangat deras mengguyurnya. Sungai itu tiba-tiba penuh dan arusnya yang sangat kuat menghanyutkan si kucing hutan yang jahat ke lautan, tempat dimana hanya ada air yang sangat dibencinya.
***
Dongeng ini adalah karya asli Damar Wijayanti yang bisa digunakan atau disebarkan dengan mencantumkan nama penulis dan link blog ini. Terimakasih karena telah menghargai karya dan hak cipta penulis.
Note: Maaf atas dongeng yang agak jorok. Ide tentang kotoran kucing datang dari partner kerja saya, Willy, saat saya bertanya-tanya tentang cara membangunkan ratu hujan. Bukannya ciuman pangeran, malah kotoran kucing hutan. -________- tapi jadinya nggak mainstream sih hehehehe. Thank you Wil!
Di sebuah hutan hujan, pernah tinggal seekor kucing hutan. Seperti kucing-kucing lain, makhluk ini sangat tidak menyukai air, dan dia sangat geram karena hutan tempat tinggalnya selalu diguyur hujan setiap hari. Dia benci bulunya menjadi basah. Karena itu, dia memutuskan untuk belajar ilmu hitam untuk mengguna-gunai ratu hujan yang tinggal di tengah hutan agar dia tak bisa menurunkan hujan lagi.
Setelah menguasai ilmu hitam, si kucing hutan pergi menemui ratu hujan dan merapalkan guna-guna yang membuat ratu hujan tidur panjang dan tidak bisa dibangunkan. Satu-satunya cara untuk membangunkan ratu hujan adalah dengan membuatnya mencium bau kotoran si kucing hutan. Namun kotoran kucing hutan sangat susah ditemukan karena kucing hutan selalu mengubur kotorannya dengan aman agar sulit dicari.
Akibatnya, hutan hujan itu tidak pernah lagi diguyur hujan. Sungai-sungai di dalamnya kering. Tanah-tanah retak, dan tanaman-tanaman layu. Banyak hewan mati akibat kehausan. Seluruh isi hutan sedih. Hanya si kucing hutan, satu-satunya makhluk yang bahagia saat itu. Suatu ketika karena sudah tidak kuat hidup tanpa air, seluruh penduduk hutan berkumpul untuk rapat. Setiap makhluk harus mengerahkan tenaganya untuk mencari kotoran kucing yang selalu disembunyikan. Semua penduduk hutan kemudian berpencar namun setelah beberapa hari pencarian, tak ada satu pun yang berhasil. Bahkan anjing yang terkenal tajam penciumannya pun tak sanggup melacak kotoran si kucing hutan.
Namun si anjing hutan tidak menyerah. Meskipun sangat kehausan dan hampir pingsan, dia terus berjalan gontai. Ajing hutan bahkan tak sadar ke mana dia berjalan, dia tak sadar bahwa tanah yang dipijaknya telah berganti menjadi daerah berpasir. Di saat setengah sadar itulah, anjing hutan merasakan dia menginjak sesuatu yang lembek di dalam pasir yang kering. Dia mengeluarkan kakinya dan mengendus-endus, lalu dengan gembira dia menyadari itu adalah bau kotoran kucing. Dia pun segeran mencari sehelai daun yang lebar dan membawa kotoran itu ke tengah hutan.
Di sepanjang perjalanan dia bertemu dengan makhluk lain dan mengajak mereka untuk berkumpul untuk menyaksikan kebangkitan ratu hujan. Di tengah hutan, ratu hujan terbaring di atas meja batu yang kering. Di sekelilingnya penduduk hutan berharap dengan cemas. Anjing hutan segera mendekatkan bungkusan daun ke wajah ratu hujan dan membiarkan aromanya masuk ke hidung ratu hujan. Ajaib! Ratu hujan segera terbangun dan segar kembali. Dia pun siap bertugas kembali untuk membawa hujan ke dalam hutan.
Di cekungan sungai yang kering, kucing hutan yang tengah tertidur lelap ketika asik berjemur tak sadar bahwa guna-gunanya kepada ratu hujan telah dipatahkan. Tiba-tiba saja hujan turun di atasnya, dan kucing hutan itu kaget bukan main saat tiba-tiba hujan yang sangat deras mengguyurnya. Sungai itu tiba-tiba penuh dan arusnya yang sangat kuat menghanyutkan si kucing hutan yang jahat ke lautan, tempat dimana hanya ada air yang sangat dibencinya.
***
Dongeng ini adalah karya asli Damar Wijayanti yang bisa digunakan atau disebarkan dengan mencantumkan nama penulis dan link blog ini. Terimakasih karena telah menghargai karya dan hak cipta penulis.
Note: Maaf atas dongeng yang agak jorok. Ide tentang kotoran kucing datang dari partner kerja saya, Willy, saat saya bertanya-tanya tentang cara membangunkan ratu hujan. Bukannya ciuman pangeran, malah kotoran kucing hutan. -________- tapi jadinya nggak mainstream sih hehehehe. Thank you Wil!
Monday, May 28, 2012
Roku dan Ruka
Gambar: Getty Images
Roku dan Ruka adalah saudara kembar anak sepasang petani sederhana. Karena bukan petani kaya yang bisa membayar orang untuk mengurus lahan dan ternaknya, orang tua Roku dan Ruka sering kewalahan. Roku dan Ruka sedih melihat orang tuanya yang seringkali pulang dengan kelelahan karena mengurus semuanya sendiri. Akhirnya, Roku dan Ruka menawarkan diri untuk membantu orang tuanya. Meskipun orang tuanya menolak dengan halus karena mereka ingin anak-anaknya punya cukup waktu untuk bermain, Roku dan Ruka tetap meminta pekerjaan ringan yang dapat mereka lakukan sambil bermain. Orang tuanya pun akhirnya setuju.
Tugas pertama yang diberikan oleh orang tuanya adalah menggembala biri-biri. Kedua anak kembar itu dengan senang hati berlarian menggiring biri-biri ke padang rumput. Sambil menunggu biri-birinya makan, mereka menggambar kotak-kotak di tanah dan melompat-lompat dengan satu kaki di setiap kotak. Mereka sangat menikmatinya karena tanah di padang rumput jauh lebih empuk daripada tanah di taman bermain, sehingga kaki mereka tidak akan sakit meskipun bermain tanpa alas kaki. Selain itu, jika terjatuh karena tidak bisa menjaga keseimbangan, kulit mereka tidak akan lecet. Saat sore hari, mereka dengan senang hati berlarian menggiring biri-biri kembali ke kandangnya. Tugas hari itu terpenuhi dan mereka juga bisa bermain dengan puas. Mereka sangat senang bisa membantu orang tuanya dan meminta tugas lain untuk hari berikutnya.
Tugas kedua yang diberikan orang tua mereka adalah menjemur biji beras hingga kering agar mudah digiling. Mereka pun berangkat lagi ke padang rumput dan mulai menghamparkan kain yang sangat lebar untuk menjemur biji beras. Kali ini mereka tidak bisa bermain dengan tanah lagi karena hampir tidak ada tempat yang cukup luas untuk melompat-lompat. Mereka justru harus sering melihat ke atas agar siap mengusir burung-burung nakal yang datang mendekat untuk mengambil biji-biji beras itu. Akhirnya mereka berbaring di tengah-tengah hamparan biji padi dan mengarahkan pandangan ke atas. Saat mulai bosan, tiba-tiba Roku menunjuk sebuah awan sambil berteriak girang.
"Lihat awan itu seperti biri-biri!" katanya senang.
"Ah benar juga, kalau yang itu seperti kelinci. Lucu sekali." sambung Roku.
Seharian itu, mereka pun bermain tebak-tebakan awan sambil sesekali menghalau burung yang terbang mendekat di atas mereka. Hingga sore hari tiba, tugas itu bisa mereka selesaikan dengan baik dan mereka tetap bisa bersenang-senang. Mereka ingin membantu lebih banyak lagi dan meminta tugas lain kepada orang tuanya.
Tugas ketiga yang diberikan adalah membantu orang tua mereka untuk memanen semangka dan labu. Dengan senang hati mereka berangkat keesokan harinya bersama orang tuanya. Mereka selalu suka hari panen. Saat panen selesai, mereka bisa menikmati masing-masing satu buah semangka yang segar. Seperti biasanya mereka menjadikan kulit semangka sebagai mobil-mobilan yang dapat ditarik ke sana ke mari. Panen hari itu selesai lebih cepat sehingga Roku dan Ruka bisa bermain di taman dengan membawa mobil-mobilan dari kulit semangka. Mereka berlari senang sambil balapan ke taman, namun apa yang mereka lihat di taman kemudian menghilangkan kebahagiaan mereka.
Anak-anak di taman tengah bermain dengan mobil-mobilan besar yang muat untuk dinaiki. Sedangkan mobil-mobilan milik mereka hanya terbuat dari kulit semangka dan sangat kecil, bahkan lebih kecil dari kakinya. Anak-anak di taman mengejek mereka berdua dan mereka pun pulang dengan bersedih, namun tak berani meminta mobil-mobilan kepada orang tuanya. Mereka tau orang tuanya tidak memiliki cukup banyak uang untuk membeli mainan mahal, dan mereka tak mau merengek-rengek manja kepada orang tuanya.
Ibu peri yang melihat kebaikan hati si kembar ini memutuskan untuk memberikan hadiah kepada mereka. Suatu pagi saat kedua anak itu menyiram benih semangka yang baru ditebar, ibu peri menghadiahkan biji semangka dan biji labu. Ibu peri meminta mereka untuk menanam dan menyiramnya. Mereka pun menuruti perintah ibu peri, dan kaget dengan keajaiban yang muncul setelah mereka menyiram biji itu. Dengan segera tunas-tunas berwarna hijau muda muncul dari biji-biji itu. Tunas itu tumbuh cepat menjadi sulur, lalu sulur itu dengan cepat berbunga, dan bunga itu dengan cepat berubah menjadi semangka dan labu yang sangat besar, bahkan muat untuk ana-anak itu masuk ke dalamnya.
Dengan senyum yang lebut, ibu peri lalu mengayunkan tongkatnya dan mengubah buah-buah raksasa itu menjadi mobil-mobilan. Roku dan Ruka terngaga tak percaya. Ibu peri kemudian berkata bahwa itu adalah hadiah bagi mereka berdua. Hadiah terindah bagi anak-anak yang rajin membantu orang tuanya dangan tulus, tanpa meminta imbalan apapun.
***
Dongeng ini adalah karya asli Damar Wijayanti yang bisa digunakan atau disebarkan dengan mencantumkan nama penulis dan link blog ini. Terimakasih karena telah menghargai karya dan hak cipta penulis.
Roku dan Ruka adalah saudara kembar anak sepasang petani sederhana. Karena bukan petani kaya yang bisa membayar orang untuk mengurus lahan dan ternaknya, orang tua Roku dan Ruka sering kewalahan. Roku dan Ruka sedih melihat orang tuanya yang seringkali pulang dengan kelelahan karena mengurus semuanya sendiri. Akhirnya, Roku dan Ruka menawarkan diri untuk membantu orang tuanya. Meskipun orang tuanya menolak dengan halus karena mereka ingin anak-anaknya punya cukup waktu untuk bermain, Roku dan Ruka tetap meminta pekerjaan ringan yang dapat mereka lakukan sambil bermain. Orang tuanya pun akhirnya setuju.
Tugas pertama yang diberikan oleh orang tuanya adalah menggembala biri-biri. Kedua anak kembar itu dengan senang hati berlarian menggiring biri-biri ke padang rumput. Sambil menunggu biri-birinya makan, mereka menggambar kotak-kotak di tanah dan melompat-lompat dengan satu kaki di setiap kotak. Mereka sangat menikmatinya karena tanah di padang rumput jauh lebih empuk daripada tanah di taman bermain, sehingga kaki mereka tidak akan sakit meskipun bermain tanpa alas kaki. Selain itu, jika terjatuh karena tidak bisa menjaga keseimbangan, kulit mereka tidak akan lecet. Saat sore hari, mereka dengan senang hati berlarian menggiring biri-biri kembali ke kandangnya. Tugas hari itu terpenuhi dan mereka juga bisa bermain dengan puas. Mereka sangat senang bisa membantu orang tuanya dan meminta tugas lain untuk hari berikutnya.
Tugas kedua yang diberikan orang tua mereka adalah menjemur biji beras hingga kering agar mudah digiling. Mereka pun berangkat lagi ke padang rumput dan mulai menghamparkan kain yang sangat lebar untuk menjemur biji beras. Kali ini mereka tidak bisa bermain dengan tanah lagi karena hampir tidak ada tempat yang cukup luas untuk melompat-lompat. Mereka justru harus sering melihat ke atas agar siap mengusir burung-burung nakal yang datang mendekat untuk mengambil biji-biji beras itu. Akhirnya mereka berbaring di tengah-tengah hamparan biji padi dan mengarahkan pandangan ke atas. Saat mulai bosan, tiba-tiba Roku menunjuk sebuah awan sambil berteriak girang.
"Lihat awan itu seperti biri-biri!" katanya senang.
"Ah benar juga, kalau yang itu seperti kelinci. Lucu sekali." sambung Roku.
Seharian itu, mereka pun bermain tebak-tebakan awan sambil sesekali menghalau burung yang terbang mendekat di atas mereka. Hingga sore hari tiba, tugas itu bisa mereka selesaikan dengan baik dan mereka tetap bisa bersenang-senang. Mereka ingin membantu lebih banyak lagi dan meminta tugas lain kepada orang tuanya.
Tugas ketiga yang diberikan adalah membantu orang tua mereka untuk memanen semangka dan labu. Dengan senang hati mereka berangkat keesokan harinya bersama orang tuanya. Mereka selalu suka hari panen. Saat panen selesai, mereka bisa menikmati masing-masing satu buah semangka yang segar. Seperti biasanya mereka menjadikan kulit semangka sebagai mobil-mobilan yang dapat ditarik ke sana ke mari. Panen hari itu selesai lebih cepat sehingga Roku dan Ruka bisa bermain di taman dengan membawa mobil-mobilan dari kulit semangka. Mereka berlari senang sambil balapan ke taman, namun apa yang mereka lihat di taman kemudian menghilangkan kebahagiaan mereka.
Anak-anak di taman tengah bermain dengan mobil-mobilan besar yang muat untuk dinaiki. Sedangkan mobil-mobilan milik mereka hanya terbuat dari kulit semangka dan sangat kecil, bahkan lebih kecil dari kakinya. Anak-anak di taman mengejek mereka berdua dan mereka pun pulang dengan bersedih, namun tak berani meminta mobil-mobilan kepada orang tuanya. Mereka tau orang tuanya tidak memiliki cukup banyak uang untuk membeli mainan mahal, dan mereka tak mau merengek-rengek manja kepada orang tuanya.
Ibu peri yang melihat kebaikan hati si kembar ini memutuskan untuk memberikan hadiah kepada mereka. Suatu pagi saat kedua anak itu menyiram benih semangka yang baru ditebar, ibu peri menghadiahkan biji semangka dan biji labu. Ibu peri meminta mereka untuk menanam dan menyiramnya. Mereka pun menuruti perintah ibu peri, dan kaget dengan keajaiban yang muncul setelah mereka menyiram biji itu. Dengan segera tunas-tunas berwarna hijau muda muncul dari biji-biji itu. Tunas itu tumbuh cepat menjadi sulur, lalu sulur itu dengan cepat berbunga, dan bunga itu dengan cepat berubah menjadi semangka dan labu yang sangat besar, bahkan muat untuk ana-anak itu masuk ke dalamnya.
Dengan senyum yang lebut, ibu peri lalu mengayunkan tongkatnya dan mengubah buah-buah raksasa itu menjadi mobil-mobilan. Roku dan Ruka terngaga tak percaya. Ibu peri kemudian berkata bahwa itu adalah hadiah bagi mereka berdua. Hadiah terindah bagi anak-anak yang rajin membantu orang tuanya dangan tulus, tanpa meminta imbalan apapun.
***
Dongeng ini adalah karya asli Damar Wijayanti yang bisa digunakan atau disebarkan dengan mencantumkan nama penulis dan link blog ini. Terimakasih karena telah menghargai karya dan hak cipta penulis.
Sunday, May 27, 2012
Kisah Seekor Kuda Bernama Lori
Gambar: Getty Images
Ini adalah kisah tentang seekor kuda yang tak dirawat dengan baik oleh pemiliknya. Sebenarnya kuda yang bernama Lori ini adalah kuda yang kuat. Tubuhnya tinggi dan besar, kakinya jenjang dan dapat menapak dengan kuat. Lori dapat berlari sekencang angin.
Dulu, dia mendapatkan perawatan terbaik oleh pemiliknya, seorang peternak tua yang sangat rajin. Lori selalu dibiarkan lepas di padang rumput di sekitar peternakan dan bebas memakan rumput segar sampai ia kenyang. Setelah kenyang, Lori akan kembali ke kandang untuk dimandikan dan disisir bulunya agar mengkilap.
Saat itu pekerjaan Lori tidaklah berat. Ia bertugas menjadi tunggangan si peternak tua untuk menggiring biri-biri ke dalam kandang. Namun, nasib Lori berubah saat si peternak tua meninggal karena usianya yang telah renta. Peternakan miliknya kemudian dijalankan oleh anak laki-lakinya yang pemalas.
Karena tak mau bersusah-susah menggembala biri-biri dan membesarkan ternak-ternaknya, anak peternak ini justru menebangi pohon-pohon di sekitar peternakan dan menjual kayunya ke pasar untuk mendapatkan uang secara instan. Dia menjadikan Lori sebagai pengangkut kayu-kayu yang berat. Tugas Lori menjadi sangat berat karena anak peternak itu tak mau repot-repot membuat gerobak untuk mengangkut kayu sehingga meringankan beban Lori yang hanya perlu menarik gerobaknya.
Anak peternak itu justru mengikatkan kayu-kayu itu di punggung Lori dan memaksanya berjalan dengan beban berat, melewati jalanan berbatu ke pasar. Karena jalanan yang rusak, kaki Lori pun sering lecet-lecet dan itu memperlambat larinya. Namun, bukannya mengobati kaki Lori, anak peternak itu justru mencambuk Lori agar terus berlari lebih cepat.
Lebih buruk lagi, anak peternak selalu langsung memasukkan Lori ke kandang, tanpa memberi kesempatan untuk makan di padang rumput karena mereka selalu pulang malam dari pasar. Anak peternak itu juga selalu lupa memberi makan. Tubuh Lori pun semakin kurus dan dia menjadi kuda yang lemah dan sakit-sakitan.
Suatu hari dia mendengar keluhan anak peternak. Dia berencana menyembelih Lori karena kuda itu sudah tidak kuat melakukan perkerjaan apapun. Dijual pun juga tak akan laku karena sangat kurus dan sakit-sakitan. Mendengar itu, Lori menangis di kandangnya. Malam itu ia hanya bisa menangis dan berdoa memohon keajaiban sampai ia tertidur dalam kelaparan.
Dalam tidurnya, Lori bermimpi ada malaikat yang membisikinya untuk mendobrak pintu kandang dan melarikan diri ke alam bebas. Namun itu tak mungkin karena kaki-kaki Lori yang penuh luka tak bisa digunakan untuk menendang pintu kandang. Lalu malaikat itu menyentuh dahi Lori. Lori merasa kepalanya sakit luar biasa sampai ia terbangun. Dia mencoba menggesekkan dahinya ke pintu kandang untuk meredakan rasa sakit, dan ia kaget menemukan ada tanduk yang tumbuh di tengah-tengah dahinya.
Tanduk itu bersinar terang begitu menyentuh pintu kandang, dan rasa sakit di dahi Lori tiba-tiba menghilang. Kemudian Lori mendengar bisikan malaikat lagi, agar dia mengetuk pintu kandang tida kali dengan tanduknya. Lori melakukannya dan betapa ajaibnya, pintu kandang itu terbuka. Lori pun dengan tertatih-tatih keluar dari kandang.
Namun saat dia keluar, anak peternak ternyata sedang berjalan ke arah kandang sambil membawa parang. Ternyata dia akan disembelih malam itu! Dengan ketakutan, Lori berlari sambil terpincang-pincang. Anak peternak mengejarnya dan hampir menangkapnya karena Lori tidak bisa berlari kencang. Dia merasakan kakinya berdarah dan perih setiap kali menjejak tanah.
Lori menangis dan berdoa sambil tetap berlari sekuat tenaga. Saat itu dia merasa sangat lelah dan kesakitan dan hampir menyerah. Namun tiba-tiba dia menyadari tubuhnya seperti melayang dari tanah. Kakinya tak lagi sakit karena tak menapak di atas tanah yang terjal.
Saat itu Lori berpikir bahwa dia telah meninggal, namun ternyata tidak. Dia menengok ke belakang dan mendapati sayap besar telah tumbuh di atas punggungnya. Sayap itu mengepak-ngepak dengan sendirinya, menggantikan tugas kaki-kaki Lori untuk menjauh dari kejaran anak peternak.
Lori menengok ke bawah. Dia bisa melihat anak peternak itu mendongak ke atas, mulutnya menganga tak percaya karena kuda miliknya telah berubah menjadi hewan ajaib bernama unicorn.
***
Dongeng ini adalah karya asli Damar Wijayanti yang bisa digunakan atau disebarkan dengan mencantumkan nama penulis dan link blog ini. Terimakasih karena telah menghargai karya dan hak cipta penulis.
Ini adalah kisah tentang seekor kuda yang tak dirawat dengan baik oleh pemiliknya. Sebenarnya kuda yang bernama Lori ini adalah kuda yang kuat. Tubuhnya tinggi dan besar, kakinya jenjang dan dapat menapak dengan kuat. Lori dapat berlari sekencang angin.
Dulu, dia mendapatkan perawatan terbaik oleh pemiliknya, seorang peternak tua yang sangat rajin. Lori selalu dibiarkan lepas di padang rumput di sekitar peternakan dan bebas memakan rumput segar sampai ia kenyang. Setelah kenyang, Lori akan kembali ke kandang untuk dimandikan dan disisir bulunya agar mengkilap.
Saat itu pekerjaan Lori tidaklah berat. Ia bertugas menjadi tunggangan si peternak tua untuk menggiring biri-biri ke dalam kandang. Namun, nasib Lori berubah saat si peternak tua meninggal karena usianya yang telah renta. Peternakan miliknya kemudian dijalankan oleh anak laki-lakinya yang pemalas.
Karena tak mau bersusah-susah menggembala biri-biri dan membesarkan ternak-ternaknya, anak peternak ini justru menebangi pohon-pohon di sekitar peternakan dan menjual kayunya ke pasar untuk mendapatkan uang secara instan. Dia menjadikan Lori sebagai pengangkut kayu-kayu yang berat. Tugas Lori menjadi sangat berat karena anak peternak itu tak mau repot-repot membuat gerobak untuk mengangkut kayu sehingga meringankan beban Lori yang hanya perlu menarik gerobaknya.
Anak peternak itu justru mengikatkan kayu-kayu itu di punggung Lori dan memaksanya berjalan dengan beban berat, melewati jalanan berbatu ke pasar. Karena jalanan yang rusak, kaki Lori pun sering lecet-lecet dan itu memperlambat larinya. Namun, bukannya mengobati kaki Lori, anak peternak itu justru mencambuk Lori agar terus berlari lebih cepat.
Lebih buruk lagi, anak peternak selalu langsung memasukkan Lori ke kandang, tanpa memberi kesempatan untuk makan di padang rumput karena mereka selalu pulang malam dari pasar. Anak peternak itu juga selalu lupa memberi makan. Tubuh Lori pun semakin kurus dan dia menjadi kuda yang lemah dan sakit-sakitan.
Suatu hari dia mendengar keluhan anak peternak. Dia berencana menyembelih Lori karena kuda itu sudah tidak kuat melakukan perkerjaan apapun. Dijual pun juga tak akan laku karena sangat kurus dan sakit-sakitan. Mendengar itu, Lori menangis di kandangnya. Malam itu ia hanya bisa menangis dan berdoa memohon keajaiban sampai ia tertidur dalam kelaparan.
Dalam tidurnya, Lori bermimpi ada malaikat yang membisikinya untuk mendobrak pintu kandang dan melarikan diri ke alam bebas. Namun itu tak mungkin karena kaki-kaki Lori yang penuh luka tak bisa digunakan untuk menendang pintu kandang. Lalu malaikat itu menyentuh dahi Lori. Lori merasa kepalanya sakit luar biasa sampai ia terbangun. Dia mencoba menggesekkan dahinya ke pintu kandang untuk meredakan rasa sakit, dan ia kaget menemukan ada tanduk yang tumbuh di tengah-tengah dahinya.
Tanduk itu bersinar terang begitu menyentuh pintu kandang, dan rasa sakit di dahi Lori tiba-tiba menghilang. Kemudian Lori mendengar bisikan malaikat lagi, agar dia mengetuk pintu kandang tida kali dengan tanduknya. Lori melakukannya dan betapa ajaibnya, pintu kandang itu terbuka. Lori pun dengan tertatih-tatih keluar dari kandang.
Namun saat dia keluar, anak peternak ternyata sedang berjalan ke arah kandang sambil membawa parang. Ternyata dia akan disembelih malam itu! Dengan ketakutan, Lori berlari sambil terpincang-pincang. Anak peternak mengejarnya dan hampir menangkapnya karena Lori tidak bisa berlari kencang. Dia merasakan kakinya berdarah dan perih setiap kali menjejak tanah.
Lori menangis dan berdoa sambil tetap berlari sekuat tenaga. Saat itu dia merasa sangat lelah dan kesakitan dan hampir menyerah. Namun tiba-tiba dia menyadari tubuhnya seperti melayang dari tanah. Kakinya tak lagi sakit karena tak menapak di atas tanah yang terjal.
Saat itu Lori berpikir bahwa dia telah meninggal, namun ternyata tidak. Dia menengok ke belakang dan mendapati sayap besar telah tumbuh di atas punggungnya. Sayap itu mengepak-ngepak dengan sendirinya, menggantikan tugas kaki-kaki Lori untuk menjauh dari kejaran anak peternak.
Lori menengok ke bawah. Dia bisa melihat anak peternak itu mendongak ke atas, mulutnya menganga tak percaya karena kuda miliknya telah berubah menjadi hewan ajaib bernama unicorn.
***
Dongeng ini adalah karya asli Damar Wijayanti yang bisa digunakan atau disebarkan dengan mencantumkan nama penulis dan link blog ini. Terimakasih karena telah menghargai karya dan hak cipta penulis.
Saturday, May 26, 2012
Rubby, Kelinci yang Beruntung
Gambar: Getty Images
Rubby adalah anak kelinci yang senang berjalan-jalan di sekitar hutan. Suatu sore yang cerah, dia mengajak adiknya untuk bermain dan berjalan-jalan bersama. Namun, si adik yang pemalas menolaknya. Adik Rubby memang hanya suka makan dan tidur di kamarnya, sebuah rongga di dalam tanah yang nyaman.
Rubby pun akhirnya berjalan-jalan sendirian. Dia melompat-lompat dengan senang dan bermandi cahaya matahari sore yang hangat, lebih hangat dari kamarnya di dalam rongga tanah yang nyaman. Ia terus melompat-lompat sampai kakinya menginjak sesuatu yang hampir membuatnya tergelincir. Dia mengamati benda yang ia injak itu, ternyata itu adalah sebuah wortel yang sangat langka ditemukan di padang tempat dia tinggal. Wortel ini pasti berasal dari padang rumput di seberang sungai. Petani yang lewat pasti tak sengaja menjatuhkan satu buah wortel ini. Rubby pun sangat senang dan segera membawa wortel itu pulang untuk dibagi dengan adiknya. Adiknya pasti akan sangat senang.
Sampai di rumah, adik Rubby yang tidur bermalas-malasan segera meloncat girang saat melihat kakaknya membawa sebuah wortel yang segar dan besar. Air liur keluar dari mulutnya, ia ingin segera memakan wortel itu. Perutnya pun keroncongan.
Rubby tersenyum melihat kelakuan adiknya. Melihat adiknya yang tak sabar, dia pun meletakkan wortel itu di meja dan berniat mencari alat untuk membaginya menjadi dua sama rata. Namun betapa kagetnya Rubby waktu melihat adiknya segera menyambar wortel itu dan menikmatinya sendirian. Rubby pun marah dan mencoba menarik pangkal worter, sedangkan ujung wortel telah berada di mulut adiknya. Tak mau kalah, adiknya juga menarik ujung wortel dengan sekuat tenaga. Dan karena tubuh adiknya yang besar karena banyak makan, Rubby kalah. Wortel itu patah, dan Rubby hanya mendapatkan sepotong kecil pangkal wortel.
Rubby yang sedih pergi ke kamarnya dengan sepotong kecil pangkal wortel miliknya. Karena takut adiknya akan mengambilnya lagi, Rubby pun menyembunyikan wortel itu dengan cara menguburnya di dalam kamarnya. Rubby tidak langsung memakannya karena ia kehilangan nafsu makan karena kejadian tadi.
Hari-hari berlalu, Rubby lupa akan pangkal wortel yang ia sembunyikan karena beberapa hari itu, orang tuanya yang pulang berkelana membawa banyak makanan. Dan tanpa disadari Rubby, pangkal wortel yang ia kubur itu lama kelamaan mengeluarkan tunas. Tunas itu makin lama tumbuh semakin besar bahkan merusak kamar Rubby. Rubby yang ketakutan melaporkan hal ini kepada orang tuanya.
Orang tua Rubby bertanya, apa yang ia simpan di bawah tanah kamarnya. Rubby yang akhirnya ingat, mengatakan bahwa ia pernah menyimpan pangkal wortel di sana. Orang tuanya pun manggut-manggut dan justru bergembira.
"Pangkal wortel bisa tumbuh menjadi tanaman wortel jika dikubur di dalam tanah, Rubby. Kau tak perlu khawatir. Justru ini hal yang menggembirakan, kita bisa memiliki kebun wortel sendiri, jadi ayah dan ibu tak perlu berkelana ke padang di seberang sungai untuk mencari makanan." jelas ibunya.
"Dan jangan khawatir tentang kamarmu, ayah akan menggali kamar baru yang sama nyamannya untukmu." kata ayah Rubby.
Rubby pun tersenyum senang. Dia berniat membantu ayah dan ibunya untuk mengembangkan satu tanaman wortel itu menjadi banyak hingga mereka memiliki kebun wortel sendiri. Dengan memiliki banyak wortel di kebun mereka sendiri, Rubby tak perlu berebut makanan dengan adiknya. Justru, dia bisa memberikan banyak wortel untuk adiknya tersayang.
***
Dongeng ini adalah karya asli Damar Wijayanti yang bisa digunakan atau disebarkan dengan mencantumkan nama penulis dan link blog ini. Terimakasih karena telah menghargai karya dan hak cipta penulis.
Rubby adalah anak kelinci yang senang berjalan-jalan di sekitar hutan. Suatu sore yang cerah, dia mengajak adiknya untuk bermain dan berjalan-jalan bersama. Namun, si adik yang pemalas menolaknya. Adik Rubby memang hanya suka makan dan tidur di kamarnya, sebuah rongga di dalam tanah yang nyaman.
Rubby pun akhirnya berjalan-jalan sendirian. Dia melompat-lompat dengan senang dan bermandi cahaya matahari sore yang hangat, lebih hangat dari kamarnya di dalam rongga tanah yang nyaman. Ia terus melompat-lompat sampai kakinya menginjak sesuatu yang hampir membuatnya tergelincir. Dia mengamati benda yang ia injak itu, ternyata itu adalah sebuah wortel yang sangat langka ditemukan di padang tempat dia tinggal. Wortel ini pasti berasal dari padang rumput di seberang sungai. Petani yang lewat pasti tak sengaja menjatuhkan satu buah wortel ini. Rubby pun sangat senang dan segera membawa wortel itu pulang untuk dibagi dengan adiknya. Adiknya pasti akan sangat senang.
Sampai di rumah, adik Rubby yang tidur bermalas-malasan segera meloncat girang saat melihat kakaknya membawa sebuah wortel yang segar dan besar. Air liur keluar dari mulutnya, ia ingin segera memakan wortel itu. Perutnya pun keroncongan.
Rubby tersenyum melihat kelakuan adiknya. Melihat adiknya yang tak sabar, dia pun meletakkan wortel itu di meja dan berniat mencari alat untuk membaginya menjadi dua sama rata. Namun betapa kagetnya Rubby waktu melihat adiknya segera menyambar wortel itu dan menikmatinya sendirian. Rubby pun marah dan mencoba menarik pangkal worter, sedangkan ujung wortel telah berada di mulut adiknya. Tak mau kalah, adiknya juga menarik ujung wortel dengan sekuat tenaga. Dan karena tubuh adiknya yang besar karena banyak makan, Rubby kalah. Wortel itu patah, dan Rubby hanya mendapatkan sepotong kecil pangkal wortel.
Rubby yang sedih pergi ke kamarnya dengan sepotong kecil pangkal wortel miliknya. Karena takut adiknya akan mengambilnya lagi, Rubby pun menyembunyikan wortel itu dengan cara menguburnya di dalam kamarnya. Rubby tidak langsung memakannya karena ia kehilangan nafsu makan karena kejadian tadi.
Hari-hari berlalu, Rubby lupa akan pangkal wortel yang ia sembunyikan karena beberapa hari itu, orang tuanya yang pulang berkelana membawa banyak makanan. Dan tanpa disadari Rubby, pangkal wortel yang ia kubur itu lama kelamaan mengeluarkan tunas. Tunas itu makin lama tumbuh semakin besar bahkan merusak kamar Rubby. Rubby yang ketakutan melaporkan hal ini kepada orang tuanya.
Orang tua Rubby bertanya, apa yang ia simpan di bawah tanah kamarnya. Rubby yang akhirnya ingat, mengatakan bahwa ia pernah menyimpan pangkal wortel di sana. Orang tuanya pun manggut-manggut dan justru bergembira.
"Pangkal wortel bisa tumbuh menjadi tanaman wortel jika dikubur di dalam tanah, Rubby. Kau tak perlu khawatir. Justru ini hal yang menggembirakan, kita bisa memiliki kebun wortel sendiri, jadi ayah dan ibu tak perlu berkelana ke padang di seberang sungai untuk mencari makanan." jelas ibunya.
"Dan jangan khawatir tentang kamarmu, ayah akan menggali kamar baru yang sama nyamannya untukmu." kata ayah Rubby.
Rubby pun tersenyum senang. Dia berniat membantu ayah dan ibunya untuk mengembangkan satu tanaman wortel itu menjadi banyak hingga mereka memiliki kebun wortel sendiri. Dengan memiliki banyak wortel di kebun mereka sendiri, Rubby tak perlu berebut makanan dengan adiknya. Justru, dia bisa memberikan banyak wortel untuk adiknya tersayang.
***
Dongeng ini adalah karya asli Damar Wijayanti yang bisa digunakan atau disebarkan dengan mencantumkan nama penulis dan link blog ini. Terimakasih karena telah menghargai karya dan hak cipta penulis.
Friday, May 25, 2012
Gagak dan Benda Berkilau
Hari ini sampai pukul lima sore saya belum juga mendapat ide untuk dongeng. Akhirnya saya mendekati partner kerja saya dan mengajaknya brainstorming. Hehehehe brainstorming nggak melulu harus soal iklan kan? Dan ngobrol ga sampai lima menit, akhirnya saya dan Willy (nama partner saya) menghasilkan dongeng tentang gagak, dan mengapa gagak selalu tertarik dengan benda-benda berkilau versi kami (Thank you Willy :D). Jadi, beginilah ceritanya...
Gambar: Getty Images
Dahulu, ada seorang gadis yang tidak pernah teliti dalam menjaga barang-barang pinjaman. Dia sering meminjam barang-barang dari saudara-saudaranya, dari orang tuanya, dari teman-temannya dan dari tetangga-tetangganya, namun barang-barang yang dipinjamnya selalu hilang entah kemana dan dia tidak bisa mengembalikannya. Alih-alih meminta maaf, gadis itu justru tak merasa bersalah sama sekali. Berbagai benda pinjaman telah ia hilangkan, mulai dari benang dan jarum, hingga cangkir keramik yang cantik. Betapapun berharganya barang yang dia hilangkan itu, dia tak pernah bertanggungjawab untuk mencarikan barang itu hingga ketemu, atau menggantinya dengan yang baru.
Gadis ini pernah meminjam sebuah bros batu yang berkilau cantik milik tetangganya, untuk dipakai ke sebuah pesta. Namun saat pulang kembali ke rumah, bros yang ia sematkan ke gaunnya itu sudah tidak melekat lagi di tempatnya. Namun seperti biasa, dia merasa tidak bersalah karena telah menghilangkannya. Dia hanya diam sampai si tetangga datang ke rumahnya untuk meminta kembali bros berharga itu. Namun dengan entengnya si gadis berkata bahwa bros itu telah hilang entah di mana saat perjalanannya pulang dari pesta. Bukannya meminta maaf, gadis itu justru menyalahkan pemilik bros yang meminjamkan bros dengan pengait yang tidak kuat sehingga terlepas dari gaunnya dan hilang. Pemilik bros yang sakit hati menjadi marah dan sebelum pergi dari rumah gadis itu, dia mengucapkan sebuah kutukan.
"Kau akan berubah menjadi seekor gagak dan terus mencari-cari bros yang berkilau itu untuk dikembalikan kepadaku. Kau baru akan kembali ke wujud semula setelah kau mengembalikan bros milikku!" ucapnya dengan penuh amarah.
Seketika, langit menjadi gelap dan angin menderu-deru. Gadis itu terbang terbawa angin yang kencang dan saat berada diudara, perlahan ia berubah menjadi burung gagak. Ia merasa takut dan sedih atas hukuman yang ia terima dan berniat segera mencari bros berkilau yang ia hilangkan untuk dikembalikan kepada tetangganya agar ia segera kembali ke wujud manusia.
Gagak itu berkelana sambil terus menatap daratan. Dia selalu terbang rendah saat melihat benda berkilauan dari atas. Jika benda itu ternyata bukan bros yang dicarinya, dia akan kembali terbang. Dia melakukannya selama bertahun-tahun sampai ia sendiri lupa bagaimana wujud bros berkilau yang ia cari. Karenanya, sejak saat itu, tiap kali melihat benda berkilau di tanah, si gagak akan mengambilnya dan membawanya ke hadapan si pemilik bros. Namun sayang, hingga saat ini si gagak belum juga menemukan bros berkilau itu. Dia sangat menyesal karena dulu dia tidak menjaga barang pinjaman dengan baik.
***
Dongeng ini adalah karya asli Damar Wijayanti yang bisa digunakan atau disebarkan dengan mencantumkan nama penulis dan link blog ini. Terimakasih karena telah menghargai karya dan hak cipta penulis.
Gambar: Getty Images
Dahulu, ada seorang gadis yang tidak pernah teliti dalam menjaga barang-barang pinjaman. Dia sering meminjam barang-barang dari saudara-saudaranya, dari orang tuanya, dari teman-temannya dan dari tetangga-tetangganya, namun barang-barang yang dipinjamnya selalu hilang entah kemana dan dia tidak bisa mengembalikannya. Alih-alih meminta maaf, gadis itu justru tak merasa bersalah sama sekali. Berbagai benda pinjaman telah ia hilangkan, mulai dari benang dan jarum, hingga cangkir keramik yang cantik. Betapapun berharganya barang yang dia hilangkan itu, dia tak pernah bertanggungjawab untuk mencarikan barang itu hingga ketemu, atau menggantinya dengan yang baru.
Gadis ini pernah meminjam sebuah bros batu yang berkilau cantik milik tetangganya, untuk dipakai ke sebuah pesta. Namun saat pulang kembali ke rumah, bros yang ia sematkan ke gaunnya itu sudah tidak melekat lagi di tempatnya. Namun seperti biasa, dia merasa tidak bersalah karena telah menghilangkannya. Dia hanya diam sampai si tetangga datang ke rumahnya untuk meminta kembali bros berharga itu. Namun dengan entengnya si gadis berkata bahwa bros itu telah hilang entah di mana saat perjalanannya pulang dari pesta. Bukannya meminta maaf, gadis itu justru menyalahkan pemilik bros yang meminjamkan bros dengan pengait yang tidak kuat sehingga terlepas dari gaunnya dan hilang. Pemilik bros yang sakit hati menjadi marah dan sebelum pergi dari rumah gadis itu, dia mengucapkan sebuah kutukan.
"Kau akan berubah menjadi seekor gagak dan terus mencari-cari bros yang berkilau itu untuk dikembalikan kepadaku. Kau baru akan kembali ke wujud semula setelah kau mengembalikan bros milikku!" ucapnya dengan penuh amarah.
Seketika, langit menjadi gelap dan angin menderu-deru. Gadis itu terbang terbawa angin yang kencang dan saat berada diudara, perlahan ia berubah menjadi burung gagak. Ia merasa takut dan sedih atas hukuman yang ia terima dan berniat segera mencari bros berkilau yang ia hilangkan untuk dikembalikan kepada tetangganya agar ia segera kembali ke wujud manusia.
Gagak itu berkelana sambil terus menatap daratan. Dia selalu terbang rendah saat melihat benda berkilauan dari atas. Jika benda itu ternyata bukan bros yang dicarinya, dia akan kembali terbang. Dia melakukannya selama bertahun-tahun sampai ia sendiri lupa bagaimana wujud bros berkilau yang ia cari. Karenanya, sejak saat itu, tiap kali melihat benda berkilau di tanah, si gagak akan mengambilnya dan membawanya ke hadapan si pemilik bros. Namun sayang, hingga saat ini si gagak belum juga menemukan bros berkilau itu. Dia sangat menyesal karena dulu dia tidak menjaga barang pinjaman dengan baik.
***
Dongeng ini adalah karya asli Damar Wijayanti yang bisa digunakan atau disebarkan dengan mencantumkan nama penulis dan link blog ini. Terimakasih karena telah menghargai karya dan hak cipta penulis.
Subscribe to:
Posts (Atom)






