Thursday, May 10, 2012
Elvie dan Kurcaci Tua
Gambar: Getty Images
Ini adalah cerita Elvie yang membututi seorang kurcaci tua ke dunianya. Elvie adalah gadis kecil yang kurus karena tak pernah mau menghabiskan makanannya. Meskipun diiming-imingi hadiah oleh orang tuanya setiap dia berhasil menghabiskan makanannya, terutama sayur-sayuran, Elvie tetap tidak suka makan.
Suatu malam, seperti biasa Elvie makan malam bersama orang tuanya dan dia hanya memakan beberapa suap dari makanannya. Elvie menyisakan begitu banyak makanan di piringnya dan tidak mau menghabiskannya. Elvie pun hanya mengaduk-aduk makanan di piringnya sambil menyangga dagu karena bosan. Saat sedang bosan dengan makanannya, tak sengaja Elvie melihat sesosok makhluk kecil tua mengintip di jendela. Makhluk berjenggot itu menempelkan muka di kaca jendela dengan mimic sedih, sangat sedih.
Makhluk itu menatap Elvie dengan tatapan sedih sampai orang tua Elvie membereskan meja dan piring Elvie yang masih terisi. Jam makan malam telah usai, dan si makhluk tua itu pun berbalik badan sambil menunduk sedih dan berjalan menjauh.
Malam-malam berikutnya, hal itu terjadi lagi. Tatapan sedih makhluk itu akhirnya membuat Elvie gusar dan setelah jam makan selesai, Elvie memutuskan untuk mencari tahu tentang makhluk itu. Elvie membututinya. Makhluk itu terus berjalan dan tanpa sadar Elvie telah membututi makhluk itu sampai ke dunia ajaib, tempat makhluk itu tinggal. Makhluk tua yang sebenarnya adalah kurcaci itu masuk ke dalam pondok kecil. Kini, giliran Elvie yang mengintip di jendela rumahnya.
Di dalam rumah itu, terdapat tiga sosok kurcaci. Si kurcaci tua, istrinya, dan anak mereka. Begitu memasuki rumah, istri kurcaci menghampiri si kurcaci tua, melepas mantel kumalnya dan bertanya apakah dia membawa pulang makanan malam ini. Kurcaci itu menggeleng dan menatap keluarganya dengan sedih.
“Elvie tidak menghabiskan makanannya lagi malam ini. Mungkin aku kurang bekerja keras di kebun untuk menghasilkan makanan yang ia sukai.” Jawab si kurcaci tua. Elvie bingung mendengarnya. Dia ingin mendengarkan percakapan lain, tapi keluarga kurcaci itu memilih untuk tidur daripada terbangun dengan rasa kelaparan.
Malam berikutnya, Elvie tidak menghabiskan makanannya lagi. Kali ini, dia tidak memainkan makanannya, tapi justru membawa piringnya ke luar rumah. Dia menemui si kurcaci tua yang lagi-lagi mengintipnya.
“Pak tua, ini bawa pulang makanan ini untuk keluargamu. Aku tidak memakannya.” Kata Elvie. Namun, kurcaci tua justru menggeleng.
“Elvie, makanan kami berbeda dengan makananmu. Kami bekerja keras menghasilkan makanan yang lezat untukmu agar kami mendapat imbalan berupa makanan kurcaci yang lezat bagi kami. Tapi, makanan kurcaci baru bisa kami dapatkan kalau anak-anak manusia yang menjadi tanggung jawab kami menghabiskan makanannya.” Jelas kurcaci tua. Elvie mendengarkan dengan baik.
“Aku bertugas untuk menghasilkan makanan untukmu, tapi kau tak pernah menghabiskan makananmu. Akibatnya aku dan keluargaku tidak pernah mendapatkan makanan kurcaci yang cukup. Kalau kau mau membantu kami Elvie, tolong habiskan makananmu. Aku telah bekerja keras untuk menghasilkan makanan lezat untukmu. Bisakah kau melakukannya untukku?” Tanya kurcaci tua dengan nada memohon.
Mendengar penjelasan kurcaci tua itu, kini Elvie mengerti bahwa setiap kali dia tidak menghabiskan makanannya, dia akan membuat kurcaci yang telah menyediakan makanan lezat untuknya menjadi bersedih. Elvie pun segera masuk ke dalam rumah dan melanjutkan makannya hingga habis tak bersisa. Orang tuanya heran namun juga senang melihat Elvie makan dengan lahap.
Kurcaci tua yang tetap mengintip di jendela kini mengintip dengan wajah gembira, dia tersenyum bangga kepada Elvie. Saat suapan terakhir telah ditelan oleh Elvie, secar ajaib, pundi-pundi milik kurcaci tua itu menjadi berat karena telah terisi makanan kurcaci yang cukup banyak. Melihatnya, Elvie tersenyum puas. Kurcaci tua membalasnya dengan tatapan penuh terimakasih. Dia pun pulang ke pondoknya dan disambut dengan gembira oleh istri dan anaknya yang kelaparan.
Sejak saat itu, Elvie selalu bersyukur atas makanan lezat yang telah disiapkan untuknya, dan selalu menghabiskan makanannya.
***
Dongeng ini adalah karya asli Damar Wijayanti yang bisa digunakan atau disebarkan dengan mencantumkan nama penulis dan link blog ini. Terima kasih karena telah menghargai karya dan hak cipta penulis.
Wednesday, May 9, 2012
Dandelion
Gambar: Getty Images
Pernahkah kamu mendengar cerita tentang kaum liliput? Banyak yang bilang liliput tinggal di negeri di atas awan yang putih bersinar. Negeri mereka kecil, begitu pula ukuran tubuh mereka. Hampir tidak pernah ada yang melihat langsung bagaimana wujud liliput karena tempat mereka tinggal terlalu tinggi. Namun, konon di sebuah desa, ada sepasang petani tua yang memiliki anak seukuran liliput. Tentu saja liliput itu bukan anak mereka, tapi suatu hari mereka menemukan makhluk imut itu tertidur pulas diantara rumput dandelion yang lembut. Karena hari itu mau hujan dan merasa kasihan, mereka pun membawa pulang liliput kecil ini.
Sesampai di rumah, liliput cantik itu mereka beri nama Dandelion, sesuai dengan tempat dia ditemukan. Mereka tak tahu bagaimana Dandelion bisa sampai ke desa mereka. Tak ada yang tahu bahwa Dandelion adalah putri kerajaan liliput yang dibuang oleh liliput jahat yang berambisi menguasai kerajaan. Di dalam ramalan kuno, putri dari raja ke-100 akan menjadi Ratu yang sangat tersohor dan tak terkalahkan, karenanya, begitu mengetahui raja ke-100 mendapatkan seorang putri dari permaisurinya, liliput jahat ini menculik putri itu dan membuangnya dari kerajaan langit.
Dandelion kecil jatuh melayang-layang dan sangat beruntung jatuh di antara bunga-bunga dandelion yang lembut, serta ditemukan oleh sepasang petani yang baik hati. Dandelion dirawat dengan sangat baik hingga dia tumbuh menjadi gadis liliput yang cantik dan berhati lembut. Namun Dandelion sering bersedih hati. Meskipun ayah dan ibu angkatnya sangat baik dan sayang padanya, namun Dandelion tak pernah memiliki teman bermain sejak kecil. Anak-anak di desa itu terlalu besar untuk bermain bersamanya sehingga seringkali hampir tidak sengaja menginjak atau melukai Dandelion. Dandelion jadi harus melakukan gerakan gesit agar tak terinjak.
Akhirnya Dandelion hanya berkawan dengan hewan-hewan kecil. Kupu-kupu adalah salah satu teman terbaiknya. Suatu hari saat melamun di jendela, kupu-kupu datang menghampiri Dandelion dengan penuh semangat. Dia membawa kabar dari burung-burung yang pulang dari berkelana dan sempat melewati negeri awan. Katanya negeri itu sekarang sangat suram dan tak seindah dulu. Negeri itu dikuasai oleh lilipun jahat, mengubah negeri awan yang putih bersinar menjadi awan kelabu, seperti suasana hati para liliput di sana. Kupu-kupu juga menceritakan tentang ramalan kuno yang didengar oleh burung-burung dari para liliput yang berhasil kabur dari negeri awan. Cerita tentang para liliput yang masih menunggu kembalinya sang putri liliput yang dikabarkan meninggal karena jatuh ke bumi saat masih kecil.
Mendengar cerita itu, Dandelion merasa yakin bahwa putri itu adalah dirinya. Dia segera menceritakan hal ini kepada orang tua angkatnya dan meminta izin untuk kembali ke negeri awan dan menyelamatkan negeri itu dari liliput jahat. Orang tuanya angkatnya dengan berat hati merelakan kepergian Dandelion karena memang di sanalah tempat Dandelion yang semestinya, hidup bersama liliput lain.
Setelah mendapatkan izin dari orang tua angkatnya, Dandelion mencari cara untuk pergi ke negeri awan. Dia bersama kupu-kupu mencari burung pengelana untuk mengantarkannya ke negeri awan. Namun sayang, burung pengelana tidak bisa membantu karena saat itu adalah musim angin yang membahayakan bagi mereka untuk terbang. Dandelion dengan sedih pergi ke padang rumput dandelion untuk merenung, ditemani oleh kupu-kupu. Ditengah lamunannya, dia melihat bunga-bunga dandelion beterbangan ditiup angin. Hal ini membuat Dandelion tersenyum lebar dan mendapatkan ide cara terbang ke negeri awan.
Dandelion segera berpegangan pada salah satu bunga yang terbang rendah. Seiiring angin bertiup, bunga itu semakin terbang tinggi. Sambil berpegangan erat, Dandelion berteriak kepada kupu-kupu untuk memberikan kabar ke orang tua angkatnya bahwa dia telah terbang ke negeri awan. Setelah beberapa lama terbang, akhirnya Dandelion sampai di atas sebuah awan yang begitu kelam. Di dalam awan itu, nampak sebuah kerajaan yang auranya dingin mencekam. Dandelion segera melompat dan mendarat tepat di menara kerajaan tempat singgasana si raja liliput jahat.
Saat si raja sedang tertidur pulas, Dandelion mengambil mahkota yang melekat di kepalanya. Raja liliput jahat terbangun dan kaget melihat putri liliput kembali ke kerajaan. Dandelion berlari keluar dari kerajaan dan raja liliput jahat mengejarnya. Dandelion terus berlari sampai ke ujung awan dan terjebak di sana. Raja liliput jahat siap mendorongnya, namun berkat gerakan Dandelion yang gesit karena terbiasa menghindari injakan anak-anak manusia di desa, Dandelion berhasil menghindar. Justru Raja liliput jahatlah yang jatuh dari ujung awan. Dia berteriak minta tolong namun tak ada yang mendengarnya, persis seperti apa yang dialami Dandelion kecil dahulu.
Setelah jatuhnya Raja liliput jahat, Dandelion pun diangkat menjadi Ratu Liliput dan seperti yang telah diramalkan, dia menjadi Ratu liliput paling hebat yang pernah ada. Orang tua kandungnya yang selama ini dipenjara oleh liliput jahat, akhirnya terbebas dan mereka sangat senang dan bangga melihat putrinya telah kembali dan menjadi Ratu yang hebat.
***
Dongeng ini adalah karya asli Damar Wijayanti yang bisa digunakan atau disebarkan dengan mencantumkan nama penulis dan link blog ini. Terima kasih karena telah menghargai karya dan hak cipta penulis.
Tuesday, May 8, 2012
Ramuan Cinta Kuali Ajaib
Gambar: Getty Images
Di sebuah kerajaan, tinggal dua orang gadis sebaya. Yang satu adalah putri raja, yang satu lagi adalah anak koki kerajaan. Meskipun mereka tumbuh berasama di lingkungan kerajaan, namun sifat mereka sangat berbeda. Sang putrid tumbuh menjadi gadis yang arogan karena terbiasa dipenuhi segala kemauannya. Seluruh orang di kerajaan harus menuruti kehendaknya. Sedangkan Marlin yang hanya anak koki tumbuh menjadi gadis yang rajin dan patuh karena terbiasa membantu orang tuanya di dapur dan menuruti perintah yang diberikan kepadanya.
Suatu hari, pangeran dari kerjaan seberang menggelar sayembara untuk mencari istri yang pandai memasak. Karena terpesona dengan ketampanan sang pangeran, sang putri pun berambisi untuk memenangkan sayembara itu meskipun dia sama sekali tidak bisa memasak, bahkan menginjakkan kaki di dapur pun belum pernah. Akhirnya sang putri menyuruh Marlin untuk membuat hidangan istimewa. Hidangan yang harus bisa memenangkan sayembara itu. Tapi bukan hanya menyuruh, sang putrid juga mengancam Marlin agar dia tidak membocorkan kepada siapapun bahwa Marlin lah yang memasak hidangan untuk sayembara itu. Marlin harus memasak secara sembunyi-sembunyi.
Marlin yang memang gemar memasak dengan senang hati menuruti kemauan sang putri. Malam itu saat dapur telah sepi, dia membuat hidangan paling istimewa yang pernah ia ciptakan. Pagi-pagi sekali sebelum seluruh isi kerajaan terbangun, dia mengantarkan hidangan itu kepada sang putrid yang dengan gembira menerimanya. Hari itu sang putrid datang ke sayembara dan ikut mengantri bersama gadis-gadis lain untuk dicicipi hidangannya oleh sang pangeran. Setelah penantian yang panjang hari itu, akhirnya diumumkan bahwa ada dua hidangan yang sangat disukai pangeran. Satu hidangan milik koki muda tersohor di kerajaan sang pangeran, dan hidangan satu lagi adalah hidangan sang putri yang dimasak oleh Marlin. Karena bingung memilih, akhirnya pangeran meminta mereka berdua untuk membuatkan hidangan spesial sekali lagi.
Mengetahui lawannya adalah koki tersohor, sang putri merasa dirinya akan kalah. Ia pun memikirkan cara curang untuk mendapatkan hati sang pangeran. Dia memaksa Marlin untuk membuat hidangan yang mengandung ramuan cinta yang akan membuat sang pangeran memilih hidangan itu dan membuat sang putri menang. Namun, Marlin tidak memiliki kemampuan sihir untuk membuat ramuan semacam itu. Marlin pun berusaha menjelaskan kepada sang putri bahwa kali ini dia tidak bisa membantunya. Tapi sang putri yang arogan tak mau tahu, dia bahkan mengancam Marlin, jika hidangannya tidak menang, maka Marlin dan keluarganya akan diusir dari kerajaan.
Malam itu Marlin yang bimbang akhirnya tetap memasak hidangan yang sangat spesial. Tapi, dia tidak tahu bagaimana cara membuat ramuan cinta, akhirnya dia hanya bisa memasak penuh dengan perasaan cinta. Tanpa dia tahu, kuali yang dia gunakan memasak adalah kuali ajaib yang dulunya milik penyihir kerajaan. Karena digunakan dengan perasaan penuh cinta, kuali itu mengeluarkan ramuan cinta dan bercampur dengan masakan Marlin.
Marlin menyerahkan hidangan itu kepada sang putri. Sang putri pun mengajak Marlin bersamanya ke kerajaan seberang. Dia mengajak Marlin untuk memastikan Marlin tidak kabur untuk menerima hukuman jika hidangannya tidak menang. Marlin hanya bisa menurut.
Di kerajaan seberang, dua hidangan sudah siap tersaji di depan pangeran. Pangeran mulai mencicipi hidangan dari koki muda tersohor dan merasa itu adalah hidangan ternikmat yang pernah ia makan selama ini. Selanjutnya dia mencicipi hidangan sang putri yang sebenarnya dimasak oleh Marlin. Setelah menelan suapan pertama, sang pangeran merasa hidangan itu adalah hidangan yang paling membahagiakan yang pernah ia makan. Masakan itu sangat enak dan sekaligus memberikan perasaan bahagia kepadanya. Tanpa ragu, pangeran memilih hidangan itu sebagai juaranya.
Sang putri pun segera maju ke hadapan pangeran dengan senyum paling lebar karena perasaan gembira akan dinikahi sang pangeran. Namun apa yang terjadi? Pangeran tidak melihat putri sebagai perempuan istimewa yang ingin ia nikahi, dia justru melihat pelayan yang dibawa sang putri. Merlin. Ya, Merlin tiba-tiba diliputi cahaya-cahaya berkilauan yang merubahnya menjadi putri yang sangat mempesona.
Sang pangeran pun bertanya kepada putri, “Apakah pelayanmu yang memasak hidangan ini? Jawablah dengan jujur!”
Dengan takut-takut sang putri mengangguk. Sang pangeran pun segera menghampiri Marlin yang cantik bak permaisuri. Pangeran meminta Marlin menikah dengannya. Marlin dan keluarganya pun pindah ke kerajaan seberang. Mereka hidup bahagia dan menikmati hidangan lezat setiap hari.
***
Dongeng ini adalah karya asli Damar Wijayanti yang bisa digunakan atau disebarkan dengan mencantumkan nama penulis dan link blog ini. Terima kasih karena telah menghargai karya dan hak cipta penulis.
Monday, May 7, 2012
Ong dan Buku Ajaib
Gambar: Getty Images
Ong adalah murid sekolah sihir di negeri sihir yang terletak di balik gunung ajaib. Tapi Ong bukanlah murid yang berprestasi, bukan karena dia tidak pintar, tetapi karena dia sangat malas membaca dan belajar dari buku. Setiap kali mendapatkan tugas untuk membaca di perpustakaan, dia justru berlari-lari di lorong di antara rak-rak buku. Dia mengganggu teman-temannya yang sedang membaca dan bersembunyi di balik rak buku.
Suatu hari, saat dia berlari-lari di lorong rak-rak buku, secara tak sengaja dia menjatuhkan dan menginjak sebuah buku tua. Dia tidak tahu bahwa buku itu adalah buku ajaib yang dapat menghukum orang yang menyia-nyiakannya. Seketika, Ong terjatuh dan terjerembab ke lantai. Dia berusaha bangun dan ingin kembali berlari, namun saat dia berdiri, dia merasa pusing dan sekelilingnya berputar-putar.
Ong merasakan ada sesuatu yang aneh, dan ternyata makin lama tubuhnya makin mengecil. Dia telah terkena hukuman sihir dari buku ajaib itu. Ong berusaha berteriak minta tolong, namun tak ada yang bisa mendengarnya, sampai perpustakaan tutup dan tidak ada lagi yang berada di dalam perpustakaan kecuali dirinya. Begitu perpustakaan sepi, Ong menangis di bawah rak buku. Dia meratap ingin kembali ke keadaan semula dan bisa keluar dari perpustakaan itu. Seketika, muncul suara dari buku ajaib.
“Kau ingin bisa kembali seperti semula? Bacalah buku-buku di sini, akan ada buku yang mengajarimu cara untuk memecahkan masalah ini.” Ujar buku ajaib.
Mendengarnya Ong merasa putus asa karena dia malas membaca, tapi demi kembali ke ukuran semula, Ong menuruti perintah buku itu. Dia memulai dengan membaca buku ajaib itu. Di sana dia menemukan cara untuk menjadikan tongkat apapun sebagai tongkat sihir. Ong pun mencari-cari barang yang berbentuk tongkat dan merubahnya menjadi tongkat sihir seperti panduan dari buku ajaib.
Setelah memiliki tongkat sihir, Ong mencari buku mantra. Dengan panduan dari buku mantra, dia dapat memanggil buku yang di dalamnya terdapat cara untuk kembali ke ukurannya semula. Hal ini tentu dapat menghemat waktu. Setelah merapalkan mantra, sebuah buku meluncur ke depannya. Ong membaca buku tersebut dan dikatakan dia harus membaca beberapa buku yang ditandai dengan serbuk ajaib yang berkilau. Setiap selesai membaca satu buku, pengetahuannya akan bertambah, begitu juga tubuhnya yang akan sedikit demi sedikit kembali ke ukuran semula.
Ong segera mengitari perpustakaan, dan dengan mudah menemukan buku-buku yang berkilauan di berbagai sudut. Dia memantrai buku-buku itu dan meletakkannya di meja. Ong juga merapalkan mantra untuk membuat tangga, agar dia bisa memanjat ke atas buku-buku itu dan membacanya sampai habis.
Meskipun Ong adalah anak yang malas membaca buku, namun begitu dia mencoba membaca buku, ternyata dia menyukainya. Dia sangat menikmati isi buku-buku itu dan sampai tak sadar bahwa setiap kali dia membaca halaman terakhir sebuah buku, dia mulai kembali ke ukuran sebenarnya, sampai buku terakhir telah selesai ia baca dan serbuk-serbuk ajaib beterbangan di depan mukanya, lalu menghilang seolah-olah masuk ke dalam kepalanya.
Setelah itu, Ong yang sudah kembali ke ukuran semula merasa ada hal baru di dalam dirinya yang membuatnya sangat gembira. Dia sekarang mengetahui mantra untuk membuka pintu besar dan menggunakannya untuk bisa keluar dari perpustakaan. Dia ingin segera pulang dan menceritakan kepada orang tuanya tentang hal-hal baru dan luar biasa yang beru saja ia dapatkan dari buku-buku ajaib di perpustakaan. Kini Ong merasa dia sangat menyukai buku dan ingin kembali untuk membaca buku-buku lain dan menemukan hal-hal baru setiap hari.
***
Dongeng ini adalah karya asli Damar Wijayanti yang bisa digunakan atau disebarkan dengan mencantumkan nama penulis dan link blog ini. Terima kasih karena telah menghargai karya dan hak cipta penulis.
Sunday, May 6, 2012
Naga yang Kesepian
Gambar: Getty Images
Di Negeri Naga yang terletak di kepulauan berisi ratusan gunung berapi, pernah lahir seekor anak naga yang berbeda dari naga-naga lain. Meskipun sama-sama memiliki sayap untuk terbang dan berekor panjang, namun anak naga ini tidak bisa menyemburkan api dari mulutnya. Padahal mengeluarkan api adalah salah satu senjata hidup bagi naga untuk bertempur.
Menjelang remaja, dimana naga-naga lain sudah mahir menyemburkan api dan bersiap-siap mengikuti ujian masuk anggota tempur, anak naga ini masih sibuk belajar menyemburkan api bersama balita-balita naga yang lain. Perkembangan paling bagus yang berhasil dia capai adalah bersin api berkekuatan kecil. Meskipun dianggap lucu dan diolok-olok balita-balita naga di kelasnya, dia merasa bangga karena berhasil mengeluarkan api dari tubuhnya, meskipun kecil.
Diperayaan gerhana bulan tahunan, para naga menggelar festival api untuk menggantikan cahaya bulan yang hilang. Semua naga saling beradu menyemburkan api ke udara diiringi tarian-tarian khas naga yang indah. Semburan api tak boleh terhenti sehingga selama gerhana bulan berlangsung, negeri naga akan tetap terang benderang, menandakan peruntungan yang baik selama setahun ke depan untuk negeri itu.
Si anak naga pun seperti tahun-tahun sebelumnya ikut menonton festival ini. Namun, karena dia merasa sudah bisa mengeluarkan api kecil, dia ingin ikut menyemburkan api bersama naga-naga lain. Dia pun bergabung di arena dan memutuskan untuk menghembuskan nafas apinya sekuat tenaga agar api yang keluar lebih besar dari hasil latihannya. Dia menghitung di dalam hati, satu.. dua.. tiga..
Puuuuuuuuuuf!
Seketika semua semburan api dari naga-naga lain padam. Semua naga panik, ibu-ibu naga dan bayi-bayinya histeris. Belum pernah ada kejadian seluruh api padam di saat festival bulan purnama. Hal ini dianggap akan membawa sial kepada negeri naga selama setahun penuh, dan hal itu dianggap sebagai kesalahan si anak naga yang bukannya menghembuskan api tapi justru angin kencang yang memadamkan semua api dari naga-naga lain.
Atas dorongan naga-naga di seluruh negeri, tetua naga yang merupakan ayah si anak naga sendiri terpaksa mengusir anak naga itu dari negerinya. Meskipun berat dan sangat sedih, sang ayah berpesan kepada anak naga untuk tidak berputus asa. Dia juga berpesan agar si anak naga tidak perlu khawatir karena disuatu tempat pasti kemampuan khususnya akan dibutuhkan.
Anak naga dengan sedih meninggalkan negerinya dan mulai berkelana. Dia terus terbang sampai merasa sangat lapar namun dia tak punya semburan api untuk berburu binatang di hutan. Akhirnya dia hanya melewati hutan di bawahnya dengan perut keroncongan. Dia merasa sangat sedih dan kesepian. Hari demi hari, siang dan malam dia habiskan dengan berkelana sendirian.
Sampai suatu saat dia melewati sebuah negeri di tengah lautan. Saat terbang di atas negeri itu, si anak naga melihat banyak penduduk duduk termenung dan sedih di depan ladangnya. Karena merasa kasihan, dia pun mendarat perlahan di negeri itu. Awalnya, sekelompok petani di sana kaget dan ketakutan dan langsung mengambil senjata dan diacungkan ke arah anak naga. Anak naga mundur dan dengan lembut berbicara kepada petani-petani itu.
“Tolong jangan sakiti aku. Aku hanya ingin menanyakan kenapa kalian begitu bersedih?” tanya anak naga.
“Sudah berhari-hari tidak ada angin yang melewati negeri kami. Padahal kami sangat membutuhkan angin untuk memutar kincir-kincir raksasa di lahan kami. Dari kincir itu kami bisa memompa air, bertani, dan mendapatkan makanan untuk kami dan ternak-ternak kami.” Jelas salah seorang petani.
“Jadi kalian membutuhkan angin?” tanya anak naga dengan mata berbinar. Petani-petani itu mengangguk bingung.
Tanpa basa-basi, si anak naga mengambil nafas dan bersiap-siap untuk menghembuskannya. Petani-petani itu berlindung sambil berteriak memohon agar negerinya jangan di bakar. Tapi sesaat kemudian yang keluar dari mulut si anak naga bukanlah api, namun angin yang cukup kuat untuk memutar kincir-kincir angin di lahan mereka. Penduduk negeri itu bersorak-sorai. Kini mereka bisa memompa air dan memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Karena telah menemukan negeri yang membutuhkan kemampuannya, si anak naga memohon izin untuk tinggal di sana membantu memutar seluruh kincir angin raksasa di negeri itu. Seluruh warga negeri itu sangat gembira, bahkan mereka membangunkan sarang untuk si anak naga dan bergiliran memberikan makanan kepada si anak naga. Mereka hidup bersama dan saling melengkapi. Kini si anak naga tidak hidup sendirian dan kesepian lagi.
***
Dongeng ini adalah karya asli Damar Wijayanti yang bisa digunakan atau disebarkan dengan mencantumkan nama penulis dan link blog ini. Terima kasih karena telah menghargai karya dan hak cipta penulis.
Saturday, May 5, 2012
Gadis Berhati Emas
Gambar: Getty Images
Suatu malam, Robin si pemburu berjalan di pinggir hutan untuk memulai perburuan malam itu. Tapi saat hendak memasuki hutan, dia mendengar keributan dari sebuah pondok reot di pinggir hutan. Dari suaranya, sepertinya di dalam pondok itu terdapat tiga perempuan dan satu laki-laki. Sepertinya seorang suami istri dan kedua anaknya.
Mereka saling adu mulut. Tiga orang melawan satu orang perempuan muda. Setelah mendengarkan cukup lama, Robin mulai mengerti asal muasal keributan tersebut. Sebelumnya, saat mengunjungi festival desa, salah satu anak perempuan yang dipanggil Peoni menemukan sebuah dompet antik berukirkan lambang kerajaan. Peoni membukanya dan melihat isinya penuh dengan koin emas. Peoni pun membawanya pulang dan berniat mengantarkannya ke kerajaan esok hari.
Sesampainya di rumah, keluarganya melihat dia membawa dompet antik nan sangat indah. Ibu dan kakak perempuannya segera menghampiri dan merebut dompet itu dari tangan Peoni. Peoni berteriak, jangan, ini bukan milikku. Tentu saja ini bukan milikmu, ini akan jadi milikku, begitu ujar saudarinya. Dan isinya akan menjadi milikku, begitu ujar ibunya. Peoni pun mengadukan hal ini kepada ayahnya. Ayahnya yang hanya seorang tukang kayu sangat senang begitu melihat isi dompet antik itu. Dia menenangkan anggota keluarganya, dan mengajukan diri untuk mengelola uang itu. Istrinya setuju asal dibelikan perhiasan. Anak sulungnya setuju asalkan dibelikan baju-baju yang cantik. Dan Si Tukang Kayu berencana membeli rumah mewah di desa. Dia tidak betah tinggal di pinggir hutan dan harus menjaga keluarganya sepanjang waktu dari binatang buas.
Saat ditanya Peoni menginginkan apa, dia menolak. Peoni juga merebut kembali tas antik itu dan mengutarakan niatnya untuk mengembalikan tas itu ke kerajaan. Hal inilah yang menjadi keributan di pondok reot itu. Karena semua orang tidak setuju, Peoni tiba-tiba berlari keluar rumah sambil membawa dompet itu. Ibunya berteriak kepada ayahnya untuk mengejar Peoni. Peoni terus berlari sambil menghindari jangkauan tangan ayahnya yang ingin menangkapnya. Saat melihatnya hampir tertangkap, Robin memutuskan untuk membantu Peoni, karena ia tahu niat Peoni baik. Robin segera menarik tangan Peoni waktu dia melewatinya, membawanya bersembunyi di balik semak. Setelah menenangkan Peoni agar dia tidak berisik, Robin mengecek apakah keadaan telah aman. Namun sang ayah masih mencari-cari Peoni di sekitar tempat persembunyian itu.
Beberapa menit berlalu, sang ayah yang mulai kelelahan akhirnya menyerah dan pulang. Setelah keadaan aman, Robin dan Peoni keluar dari tempat persembunyiannya. Robin pun menawarkan kepada Peoni untuk mengantarkannya mengembalikan dompet antik itu ke kerajaan.
Robin mengajak Peoni ke tempat kudanya diikat di dekat jalan masuk hutan. Keduanya kemudian melanjutkan perjalanan ke kerajaan dengan menunggangi kuda hitam milik Robin.
Sesampai di kerajaan, Robin dan Peoni disambut dengan sopan oleh para penjaga dan pelayan kerajaan. Peoni begitu heran karena orang-orang membungkuk saat mereka lewat. Setelah masuk ke istana, Peoni melihat Sang Ratu telah menunggu di dalam. Dia begitu gembira melihat tas antik miliknya yang dipegang erat oleh Peoni.
"Tas antikku telah kau temukan. Kerja yang bagus anakku!" kata Ratu kepada Robin.
Robin pun membungkuk menerima pujian itu. Peoni yang berdiri di sebelahnya kaget bukan main mengetahui Robin adalah pangeran, dia merasa canggung dan akhirnya membungkuk memberi hormat.
"Dan siapakah gadih cantik ini?" tanya Ratu.
"Dia gadis jujur yang menemukan tas antikmu yang Mulia. Dia melindungi barang milikmu dan berjuang untuk mengembalikannya padamu karena merasa barang ini bukanlah haknya." jawab Robin.
"Oh, sungguh mulia hatimu anak muda. Imbalan apa yang kau inginkan?" tanya Ratu kepada Peoni.
"Hamba tidak mengharapkan imbalan apa-apa yang mulia. Hamba melakukan ini karena inilah yang benar." jawab Peoni rendah hati.
Mendengar jawaban Peoni, Robin jatuh merasa jatuh cinta. Bukan hanya pada kecantikan Peoni, tapi juga kemuliaan hatinya. Setelah meminta persetujuan Peoni dan Ratu, Robin pun menikahi Peoni dan menjadikannya Puteri di kerajaan. Berita ini tentu mengagetkan keluarga Peoni yang menyesal karena kerakusan mereka, mereka tidak mendapatkan imbalan apa-apa.
Namun, sehari kemudian, datang utusan kerajaan ke pondok reot mereka. Peoni, dengan persetujuan Robin dan Ratu menghadiahkan rumah yang layak di dekat kerajaan kepada keluarganya agar mereka mendapatkan hidup yang lebih baik. Meskipun pada awalnya keluarganya tidak mendukung Peoni, dia tetap sayang dan tidak melupakan keluarganya saat dirinya mendapatkan kebahagian. Peoni benar-benar gadis berhati emas.
***
Dongeng ini adalah karya asli Damar Wijayanti yang bisa digunakan atau disebarkan dengan mencantumkan nama penulis dan link blog ini. Terima kasih karena telah menghargai karya dan hak cipta penulis.
Friday, May 4, 2012
Kucing yang Ingin Belajar Sihir
Gambar: Getty Images
Pernahkan kamu mendengar tentang Cinderella? Dari cerita orang-orang, katanya Cinderella sering berbicara kepada kucing untuk mencurahkan kesedihannya. Selama ini, kucing itu hanya bisa menghiburnya, sampai datang Ibu Peri yang menyihir Cinderella menjadi puteri yang cantik jelita. Setelah dipinang oleh pangeran, Cinderella meninggalkan rumah dan kucingnya.
Saudara-saudara Cinderella yang iri hati pun menyangka bahwa si kucing inilah yang telah membantu Cinderella dengan sihirnya. Mereka pun menangkap si kucing dan memaksanya untuk melakukan sihir yang sama kepada mereka. Padahal, sebenarnya si kucing tidak menguasai ilmu sihir. Waktu itu dia hanya membantu menangkap tujuh ekor tikus untuk disihir menjadi kuda putih oleh Ibu Peri.
Karena tak kunjung menyihir gadis-gadis itu menjadi puteri cantik jelita, si kucing diikat dan sering tak diberi makan. Karena tak tahan, si kucing memohon untuk dilepaskan dan diberi kesempatan untuk bergi belajar ilmu sihir agar bisa mengabulkan permintaan mereka. kedua gadis itu setuju. Si kucing pun dilepaskan dan memulai perjalanan mencari guru untuk mengajarkan sihir kepadanya.
Setelah beberapa hari pencarian, dia melihat ada seorang nenek sihir yang sedang mendarat di tengah hutan untuk memetik bahan-bahan ramuan. Dia pun mendekati nenek sihir itu, tapi tak mau mengganggu nenek sihir yang sedang sibuk memilih tanaman. Saat sudah selesai dan hendak terbang lagi dengan sapunya, si kucing menyapanya. Dia memohon untuk diajak pulang dan diajarkan sihir. Sebenarnya nenek sihir mau mengabulkan permohonan si kucing, namun sayang, sapu terbangnya sudah penuh dengan katak dan burung di masing-masing ujung. Karena tak mau kehilangan kesempatan, si kucing pun nekat bergelantungan di ujung sapu terbang, dan mereka pun terbang bersama.
Di tengah perjalanan, angin bertiup agak kencang, membuat si kucing kesulitan menjaga keseimbangan. Saat angin mulai bertiup lebih kencang, cakar si kucing terlepas dari cengkeramannya di sapu terbang. Si kucing jatuh dari ketinggian dan berteriak-teriak putus asa meminta tolong kepada siapapun.
Di tengah-tengah dia melayang jatuh dari udara, tiba-tiba ada serbuk emas yang melingkarinya dan menyelamatkannya. Ternyata itu adalah serbuk mantra dari Ibu Peri! Si kucing sampai menangis karena sangat gembira akan dua hal. Pertama, dia diselamatkan oleh Ibu Peri saat jatuh. Kedua, dia bisa belajar mantra-mantra ajaib dari Ibu Peri. Si kucing pun menceritakan penderitaannya kepada Ibu peri dan memohon untuk diajari mantra-mantra ajaib. Untunglah Ibu Peri setuju membantunya.
Setelah berhari-hari belajar mantra ajaib dari Ibu Peri, si kucing pun berpamitan untuk kembali pulang ke rumah dua bersaudara. Dia berniat untuk menggunakan mantra ajaibnya untuk membalas kejahatan dua bersaudara itu. Mengetahui niat buruk si kucing, Ibu peri melarangnya pergi.
"Dengar, mantra-mantra itu aku ajarkan hanya untuk digunakan untuk kebaikan saja!" kata Ibu Peri.
"Tapi Ibu Peri, mereka kejam sekali padaku. Aku tak sanggup hidup bersama orang-orang kejam yang tidak merawatku dengan baik." jawab si kucing.
"Kalau begitu, tinggallah bersamaku, aku akan merawatmu dengan baik, dan kau bisa membantuku memberikan mantra-mantra ajaib kepada anak-anak baik di seluruh dunia." Ajak Ibu Peri dengan senyum hangat.
Mendengarnya, si kucing sangat bahagia dan dengan segera melupakan dendamnya kepada dua gadis itu. Si kucing pun tinggal dengan Ibu Peri dan hidup sangat bahagia karena bisa membantu ibu peri membahagiakan anak-anak baik di seluruh dunia. :)
***
Dongeng ini adalah karya asli Damar Wijayanti yang bisa digunakan atau disebarkan dengan mencantumkan nama penulis dan link blog ini. Terima kasih karena telah menghargai karya dan hak cipta penulis.
Subscribe to:
Posts (Atom)






