Thursday, May 31, 2012

Katak Emas

Gambar: Getty Images

Pada awalnya, di rawa-rawa di kedalaman hutan, tidak pernah ada katak berwarna emas. Katak-katak yang tinggal di sana semuanya berwarna hijau, sehijau rawa-rawa tempat mereka tinggal, agar mudah bersembunyi dan menangkap nyamuk-nyamuk makanan mereka setiap hari. Suatu ketika ada seekor katak yang tak sengaja melihat seekor kunang-kunang terbang di atas rawa. Dia sangat terpesona dengan pendar cahaya kunang-kunang yang indah. Dia pun mendekati kunang-kunang itu.

"Hai" ucap katak.

"Astaga!!" teriak kunang-kunang yang kaget dan ketakutan akan di makan. Dia terbang menjauh.

"Tidak, tidak, jangan pergi. Kumohon. Aku tak akan memakanmu, aku hanya ingin mengagumi keindahan cahayamu." rayu katak.

"Benarkah?" tanya kunang-kunang ragu.

"Ya benar. Kau adalah makhluk terindah yang pernah aku lihat. Aku jadi ingin melihat kau dan teman-temanmu melayang bersama-sama di atas rawa ini. Pasti akan seindah bintang di langit, hanya saja terasa lebih dekat. Maukah kau mengajak teman-temanmu ke sini? Aku mohon aku ingin sekali melihat kalian berkelap kelip di atas rawa." pinta katak.

"Mereka pasti takut kau akan memakan kami. Mereka tidak akan mau datang." jawab kunang-kunang.

"Tolonglah, aku berjanji tidak akan memakan kalian. Kalian sangat indah untuk dilihat, bukan dimakan. Percayalah padaku, kita akan menjadi teman yang baik. Ya?" bujuk si katak lagi.

Akhirnya kunang-kunang itu setuju. Dia pergi dari rawa itu dan segera kembali dengan teman-temannya. Mereka melayang-layang di atas rawa yang gelap dan cahayanya sangat indah. Katak itu begitu bahagia dan sampai menangis terharu. Dia berterima kasih kepada kawannya, si kunang-kunang karena telah memberikan kesempatan baginya untuk melihat hal yang paling indah di dunianya.

Katak menikmati pertunjukan alam yang indah itu hingga larut malam dan perutnya berbunyi kelaparan. Rasa lapar yang amat sangat akhirnya menguasai pikirannya. Awalnya dia tak mau menuruti nafsunya untuk memakan kunang-kunang, tapi kemudian dia tak tahan lagi. Dengan cepat dia menyambar kunang-kunang yang paling dekat dengan menggunakan lidahnya. Hanya mencicipi sedikit saja, pikirnya. Namun ternyata kunang-kunang adalah makanan terenak yang pernah ia makan, jauh lebih enak dari nyamuk.

Katak itu pun melanjutkan kejahatannya. Dia memakan kunang-kunang satu per satu, menghiraukan teriakan dan larangan kawannya si kunang-kunang kecil. Hingga akhirnya hanya tersisa satu kunang-kunang di rawa itu, yaitu kawannya sendiri.

"Kau berbohong, kau telah berjanji tidak akan memakan kami." protes kunang-kunang sambil menangis.

"Mana kutahu kalian tidak hanya indah dipandang, tapi juga sangat lezat untuk disantap. Setelah mencicipi satu, ternyata aku sangat suka." seringai si katak sambil menyambar kunang-kunang terakhir dan menelannya. Si katak yang kekenyangan menepuk-nepuk perutnya yang gendut, dan dia kaget saat melihat warna kulitnya berubah menjadi kuning keemasan. Terang seperti kunang-kunang yang telah dimakannya.

Sejak saat itu warna katak itu tak lagi hijau, tapi kuning keemasan. Hal ini membuatnya sulit bertahan di tengah rawa-rawa hijau karena dia menjadi sulit bersembunyi untuk menangkap nyamuk-nyamuk. Dia pun akhirnya kelaparan, badannya semakin kurus dan dia meninggal akibat kerakusan dan kebohongannya sendiri.

***
Dongeng ini adalah karya asli Damar Wijayanti yang bisa digunakan atau disebarkan dengan mencantumkan nama penulis dan link blog ini. Terimakasih karena telah menghargai karya dan hak cipta penulis.

Wednesday, May 30, 2012

Koloni Lebah Pemarah

Gambar: Getty Images

Di dalam sebuah hutan yang lebat, tinggal ratu lebah bersama koloninya. Meskipun ratu lebah adalah makhluk yang sabar, namun koloni lebah yang satu ini terkenal sangat pemarah dan suka menyakiti makhluk lain saat mereka marah. Saat sedang marah, koloni lebah ini menyengat makhluk lain tanpa kenal ampun. Bahkan lebah-lebah ini terlalu mudah marah sehingga seringkali kesalahan kecil seperti tidak sengaja menyenggol saja tidak bisa mereka maafkan. Namun, kejadian yang terparah terjadi pada seekor anak tupai yang malang. Begini ceritanya.

Suatu hari koloni lebah pergi ke padang bunga untuk mengambil sari bunga. Saat sarangnya kosong, seekor beruang madu mengambil madu dari sarang mereka dan menghabiskannya. Setelah kekenyangan, beruang itu segera pergi karena tak mau ketauan. Saat pulang ke sarang dan mengetahui madu mereka hilang, koloni lebah begitu marah dan mengamuk. Mereka mencari-cari si pencuri dan menemukan seekor anak tupai yang sedang tidur siang di atas dahan pohon di dekat sarang mereka. Koloni lebah pemarah itu pun tanpa bertanya-tanya langsung menyengat anak tupai malang itu tanpa ampun. Padahal anak tupai itu tidak tahu apa-apa, dia baru sampai di dahan itu untuk tidur siang saat beruang madu pergi meninggalkan pohon itu. Namun sayang, koloni lebah pemarah itu tidak mau bersabar mendengarkan penjelasan anak tupai yang malang itu, akhirnya karena terlalu kesakitan, anak tupai malang itu meninggal.

Setelah menyerang anak tupai, koloni lebah pemarah pulang ke sarangnya sambil mengucapkan kata-kata kasar karena emosi. Ratu lebah bertanya kepada mereka kenapa mereka begitu marah. Mereka pun menjawab bahwa mereka baru saja menyerang anak tupai yang mencuri madu mereka. Ratu lebah kaget. Seharian itu ratu lebah tetap tinggal di dalam sarang, jadi dia tahu bahwa pencuri sebenarnya adalah beruang madu. Karena itu dia sangat terkejut ketika mengetahui koloninya menyerang anak tupai yang tak berdosa. Karena tak mau kejadian seperti itu terulang lagi, ratu lebah pun menasihati koloninya untuk tidak mudah murah, dan harus sabar untuk mendengar penjelasan dan apa yang sebenarnya terjadi, bukannya langsung menyerang dengan penuh emosi, apalagi jika salah sasaran.

Namun dasar lebah pemarah, bukannya menurut mereka justru berteriak-teriak kepada ratu lebah karena merasa mereka disalahkan. Akhirnya ratu lebah yang sudah tak tahan lagi dengan teriakan mereka, meneriakkan sebuah kutukan yang pada akhirnya bisa mengubah kebiasaan lebah pemarah menjadi makhluk yang tidak mau gegabah menyerang makhluk lain kecuali saat mereka sangat terdesak.

"Diam kalian semua! Mulai saat ini dan seterusnya, setiap kalian menyengat makhluk lain, sengat kalian akan tertinggal di tubuh makhluk itu dan kalian akan meninggal karena tak memiliki sengat lagi!" Begitulah kutukan ratu lebah diteriakkan dengan lantang.

Mulai saat itu, lebah-lebah pemarah akhirnya harus belajar mengendalikan amarah mereka agar tidak mudah menyakiti makhluk lain dengan sengatnya, karena itu bisa membuat lebah sekarat dan akhirnya meninggal.

***
Dongeng ini adalah karya asli Damar Wijayanti yang bisa digunakan atau disebarkan dengan mencantumkan nama penulis dan link blog ini. Terimakasih karena telah menghargai karya dan hak cipta penulis.

Note: Satu dongeng lagi hasil brainstorm bersama Willy. Thank you Wil :)

Tuesday, May 29, 2012

Kucing Hutan dan Ratu Hujan

Gambar: Getty Image

Di sebuah hutan hujan, pernah tinggal seekor kucing hutan. Seperti kucing-kucing lain, makhluk ini sangat tidak menyukai air, dan dia sangat geram karena hutan tempat tinggalnya selalu diguyur hujan setiap hari. Dia benci bulunya menjadi basah. Karena itu, dia memutuskan untuk belajar ilmu hitam untuk mengguna-gunai ratu hujan yang tinggal di tengah hutan agar dia tak bisa menurunkan hujan lagi.

Setelah menguasai ilmu hitam, si kucing hutan pergi menemui ratu hujan dan merapalkan guna-guna yang membuat ratu hujan tidur panjang dan tidak bisa dibangunkan. Satu-satunya cara untuk membangunkan ratu hujan adalah dengan membuatnya mencium bau kotoran si kucing hutan. Namun kotoran kucing hutan sangat susah ditemukan karena kucing hutan selalu mengubur kotorannya dengan aman agar sulit dicari.

Akibatnya, hutan hujan itu tidak pernah lagi diguyur hujan. Sungai-sungai di dalamnya kering. Tanah-tanah retak, dan tanaman-tanaman layu. Banyak hewan mati akibat kehausan. Seluruh isi hutan sedih. Hanya si kucing hutan, satu-satunya makhluk yang bahagia saat itu. Suatu ketika karena sudah tidak kuat hidup tanpa air, seluruh penduduk hutan berkumpul untuk rapat. Setiap makhluk harus mengerahkan tenaganya untuk mencari kotoran kucing yang selalu disembunyikan. Semua penduduk hutan kemudian berpencar namun setelah beberapa hari pencarian, tak ada satu pun yang berhasil. Bahkan anjing yang terkenal tajam penciumannya pun tak sanggup melacak kotoran si kucing hutan.

Namun si anjing hutan tidak menyerah. Meskipun sangat kehausan dan hampir pingsan, dia terus berjalan gontai. Ajing hutan bahkan tak sadar ke mana dia berjalan, dia tak sadar bahwa tanah yang dipijaknya telah berganti menjadi daerah berpasir. Di saat setengah sadar itulah, anjing hutan merasakan dia menginjak sesuatu yang lembek di dalam pasir yang kering. Dia mengeluarkan kakinya dan mengendus-endus, lalu dengan gembira dia menyadari itu adalah bau kotoran kucing. Dia pun segeran mencari sehelai daun yang lebar dan membawa kotoran itu ke tengah hutan.

Di sepanjang perjalanan dia bertemu dengan makhluk lain dan mengajak mereka untuk berkumpul untuk menyaksikan kebangkitan ratu hujan. Di tengah hutan, ratu hujan terbaring di atas meja batu yang kering. Di sekelilingnya penduduk hutan berharap dengan cemas. Anjing hutan segera mendekatkan bungkusan daun ke wajah ratu hujan dan membiarkan aromanya masuk ke hidung ratu hujan. Ajaib! Ratu hujan segera terbangun dan segar kembali. Dia pun siap bertugas kembali untuk membawa hujan ke dalam hutan.

Di cekungan sungai yang kering, kucing hutan yang tengah tertidur lelap ketika asik berjemur tak sadar bahwa guna-gunanya kepada ratu hujan telah dipatahkan. Tiba-tiba saja hujan turun di atasnya, dan kucing hutan itu kaget bukan main saat tiba-tiba hujan yang sangat deras mengguyurnya. Sungai itu tiba-tiba penuh dan arusnya yang sangat kuat menghanyutkan si kucing hutan yang jahat ke lautan, tempat dimana hanya ada air yang sangat dibencinya.

***
Dongeng ini adalah karya asli Damar Wijayanti yang bisa digunakan atau disebarkan dengan mencantumkan nama penulis dan link blog ini. Terimakasih karena telah menghargai karya dan hak cipta penulis.

Note: Maaf atas dongeng yang agak jorok. Ide tentang kotoran kucing datang dari partner kerja saya, Willy, saat saya bertanya-tanya tentang cara membangunkan ratu hujan. Bukannya ciuman pangeran, malah kotoran kucing hutan. -________- tapi jadinya nggak mainstream sih hehehehe. Thank you Wil!

Monday, May 28, 2012

Roku dan Ruka

Gambar: Getty Images

Roku dan Ruka adalah saudara kembar anak sepasang petani sederhana. Karena bukan petani kaya yang bisa membayar orang untuk mengurus lahan dan ternaknya, orang tua Roku dan Ruka sering kewalahan. Roku dan Ruka sedih melihat orang tuanya yang seringkali pulang dengan kelelahan karena mengurus semuanya sendiri. Akhirnya, Roku dan Ruka menawarkan diri untuk membantu orang tuanya. Meskipun orang tuanya menolak dengan halus karena mereka ingin anak-anaknya punya cukup waktu untuk bermain, Roku dan Ruka tetap meminta pekerjaan ringan yang dapat mereka lakukan sambil bermain. Orang tuanya pun akhirnya setuju.

Tugas pertama yang diberikan oleh orang tuanya adalah menggembala biri-biri. Kedua anak kembar itu dengan senang hati berlarian menggiring biri-biri ke padang rumput. Sambil menunggu biri-birinya makan, mereka menggambar kotak-kotak di tanah dan melompat-lompat dengan satu kaki di setiap kotak. Mereka sangat menikmatinya karena tanah di padang rumput jauh lebih empuk daripada tanah di taman bermain, sehingga kaki mereka tidak akan sakit meskipun bermain tanpa alas kaki. Selain itu, jika terjatuh karena tidak bisa menjaga keseimbangan, kulit mereka tidak akan lecet. Saat sore hari, mereka dengan senang hati berlarian menggiring biri-biri kembali ke kandangnya. Tugas hari itu terpenuhi dan mereka juga bisa bermain dengan puas. Mereka sangat senang bisa membantu orang tuanya dan meminta tugas lain untuk hari berikutnya.

Tugas kedua yang diberikan orang tua mereka adalah menjemur biji beras hingga kering agar mudah digiling. Mereka pun berangkat lagi ke padang rumput dan mulai menghamparkan kain yang sangat lebar untuk menjemur biji beras. Kali ini mereka tidak bisa bermain dengan tanah lagi karena hampir tidak ada tempat yang cukup luas untuk melompat-lompat. Mereka justru harus sering melihat ke atas agar siap mengusir burung-burung nakal yang datang mendekat untuk mengambil biji-biji beras itu. Akhirnya mereka berbaring di tengah-tengah hamparan biji padi dan mengarahkan pandangan ke atas. Saat mulai bosan, tiba-tiba Roku menunjuk sebuah awan sambil berteriak girang.

"Lihat awan itu seperti biri-biri!" katanya senang.

"Ah benar juga, kalau yang itu seperti kelinci. Lucu sekali." sambung Roku.

Seharian itu, mereka pun bermain tebak-tebakan awan sambil sesekali menghalau burung yang terbang mendekat di atas mereka. Hingga sore hari tiba, tugas itu bisa mereka selesaikan dengan baik dan mereka tetap bisa bersenang-senang. Mereka ingin membantu lebih banyak lagi dan meminta tugas lain kepada orang tuanya.

Tugas ketiga yang diberikan adalah membantu orang tua mereka untuk memanen semangka dan labu. Dengan senang hati mereka berangkat keesokan harinya bersama orang tuanya. Mereka selalu suka hari panen. Saat panen selesai, mereka bisa menikmati masing-masing satu buah semangka yang segar. Seperti biasanya mereka menjadikan kulit semangka sebagai mobil-mobilan yang dapat ditarik ke sana ke mari. Panen hari itu selesai lebih cepat sehingga Roku dan Ruka bisa bermain di taman dengan membawa mobil-mobilan dari kulit semangka. Mereka berlari senang sambil balapan ke taman, namun apa yang mereka lihat di taman kemudian menghilangkan kebahagiaan mereka.

Anak-anak di taman tengah bermain dengan mobil-mobilan besar yang muat untuk dinaiki. Sedangkan mobil-mobilan milik mereka hanya terbuat dari kulit semangka dan sangat kecil, bahkan lebih kecil dari kakinya. Anak-anak di taman mengejek mereka berdua dan mereka pun pulang dengan bersedih, namun tak berani meminta mobil-mobilan kepada orang tuanya. Mereka tau orang tuanya tidak memiliki cukup banyak uang untuk membeli mainan mahal, dan mereka tak mau merengek-rengek manja kepada orang tuanya.

Ibu peri yang melihat kebaikan hati si kembar ini memutuskan untuk memberikan hadiah kepada mereka. Suatu pagi saat kedua anak itu menyiram benih semangka yang baru ditebar, ibu peri menghadiahkan biji semangka dan biji labu. Ibu peri meminta mereka untuk menanam dan menyiramnya. Mereka pun menuruti perintah ibu peri, dan kaget dengan keajaiban yang muncul setelah mereka menyiram biji itu. Dengan segera tunas-tunas berwarna hijau muda muncul dari biji-biji itu. Tunas itu tumbuh cepat menjadi sulur, lalu sulur itu dengan cepat berbunga, dan bunga itu dengan cepat berubah menjadi semangka dan labu yang sangat besar, bahkan muat untuk ana-anak itu masuk ke dalamnya.

Dengan senyum yang lebut, ibu peri lalu mengayunkan tongkatnya dan mengubah buah-buah raksasa itu menjadi mobil-mobilan. Roku dan Ruka terngaga tak percaya. Ibu peri kemudian berkata bahwa itu adalah hadiah bagi mereka berdua. Hadiah terindah bagi anak-anak yang rajin membantu orang tuanya dangan tulus, tanpa meminta imbalan apapun.

***
Dongeng ini adalah karya asli Damar Wijayanti yang bisa digunakan atau disebarkan dengan mencantumkan nama penulis dan link blog ini. Terimakasih karena telah menghargai karya dan hak cipta penulis.

Sunday, May 27, 2012

Kisah Seekor Kuda Bernama Lori

Gambar: Getty Images

Ini adalah kisah tentang seekor kuda yang tak dirawat dengan baik oleh pemiliknya. Sebenarnya kuda yang bernama Lori ini adalah kuda yang kuat. Tubuhnya tinggi dan besar, kakinya jenjang dan dapat menapak dengan kuat. Lori dapat berlari sekencang angin.

Dulu, dia mendapatkan perawatan terbaik oleh pemiliknya, seorang peternak tua yang sangat rajin. Lori selalu dibiarkan lepas di padang rumput di sekitar peternakan dan bebas memakan rumput segar sampai ia kenyang. Setelah kenyang, Lori akan kembali ke kandang untuk dimandikan dan disisir bulunya agar mengkilap.

Saat itu pekerjaan Lori tidaklah berat. Ia bertugas menjadi tunggangan si peternak tua untuk menggiring biri-biri ke dalam kandang. Namun, nasib Lori berubah saat si peternak tua meninggal karena usianya yang telah renta. Peternakan miliknya kemudian dijalankan oleh anak laki-lakinya yang pemalas.

Karena tak mau bersusah-susah menggembala biri-biri dan membesarkan ternak-ternaknya, anak peternak ini justru menebangi pohon-pohon di sekitar peternakan dan menjual kayunya ke pasar untuk mendapatkan uang secara instan. Dia menjadikan Lori sebagai pengangkut kayu-kayu yang berat. Tugas Lori menjadi sangat berat karena anak peternak itu tak mau repot-repot membuat gerobak untuk mengangkut kayu sehingga meringankan beban Lori yang hanya perlu menarik gerobaknya.

Anak peternak itu justru mengikatkan kayu-kayu itu di punggung Lori dan memaksanya berjalan dengan beban berat, melewati jalanan berbatu ke pasar. Karena jalanan yang rusak, kaki Lori pun sering lecet-lecet dan itu memperlambat larinya. Namun, bukannya mengobati kaki Lori, anak peternak itu justru mencambuk Lori agar terus berlari lebih cepat.

Lebih buruk lagi, anak peternak selalu langsung memasukkan Lori ke kandang, tanpa memberi kesempatan untuk makan di padang rumput karena mereka selalu pulang malam dari pasar. Anak peternak itu juga selalu lupa memberi makan. Tubuh Lori pun semakin kurus dan dia menjadi kuda yang lemah dan sakit-sakitan.

Suatu hari dia mendengar keluhan anak peternak. Dia berencana menyembelih Lori karena kuda itu sudah tidak kuat melakukan perkerjaan apapun. Dijual pun juga tak akan laku karena sangat kurus dan sakit-sakitan. Mendengar itu, Lori menangis di kandangnya. Malam itu ia hanya bisa menangis dan berdoa memohon keajaiban sampai ia tertidur dalam kelaparan.

Dalam tidurnya, Lori bermimpi ada malaikat yang membisikinya untuk mendobrak pintu kandang dan melarikan diri ke alam bebas. Namun itu tak mungkin karena kaki-kaki Lori yang penuh luka tak bisa digunakan untuk menendang pintu kandang. Lalu malaikat itu menyentuh dahi Lori. Lori merasa kepalanya sakit luar biasa sampai ia terbangun. Dia mencoba menggesekkan dahinya ke pintu kandang untuk meredakan rasa sakit, dan ia kaget menemukan ada tanduk yang tumbuh di tengah-tengah dahinya.

Tanduk itu bersinar terang begitu menyentuh pintu kandang, dan rasa sakit di dahi Lori tiba-tiba menghilang. Kemudian Lori mendengar bisikan malaikat lagi, agar dia mengetuk pintu kandang tida kali dengan tanduknya. Lori melakukannya dan betapa ajaibnya, pintu kandang itu terbuka. Lori pun dengan tertatih-tatih keluar dari kandang.

Namun saat dia keluar, anak peternak ternyata sedang berjalan ke arah kandang sambil membawa parang. Ternyata dia akan disembelih malam itu! Dengan ketakutan, Lori berlari sambil terpincang-pincang. Anak peternak mengejarnya dan hampir menangkapnya karena Lori tidak bisa berlari kencang. Dia merasakan kakinya berdarah dan perih setiap kali menjejak tanah.

Lori menangis dan berdoa sambil tetap berlari sekuat tenaga. Saat itu dia merasa sangat lelah dan kesakitan dan hampir menyerah. Namun tiba-tiba dia menyadari tubuhnya seperti melayang dari tanah. Kakinya tak lagi sakit karena tak menapak di atas tanah yang terjal.

Saat itu Lori berpikir bahwa dia telah meninggal, namun ternyata tidak. Dia menengok ke belakang dan mendapati sayap besar telah tumbuh di atas punggungnya. Sayap itu mengepak-ngepak dengan sendirinya, menggantikan tugas kaki-kaki Lori untuk menjauh dari kejaran anak peternak.

Lori menengok ke bawah. Dia bisa melihat anak peternak itu mendongak ke atas, mulutnya menganga tak percaya karena kuda miliknya telah berubah menjadi hewan ajaib bernama unicorn.

***
Dongeng ini adalah karya asli Damar Wijayanti yang bisa digunakan atau disebarkan dengan mencantumkan nama penulis dan link blog ini. Terimakasih karena telah menghargai karya dan hak cipta penulis.

Saturday, May 26, 2012

Rubby, Kelinci yang Beruntung

Gambar: Getty Images

Rubby adalah anak kelinci yang senang berjalan-jalan di sekitar hutan. Suatu sore yang cerah, dia mengajak adiknya untuk bermain dan berjalan-jalan bersama. Namun, si adik yang pemalas menolaknya. Adik Rubby memang hanya suka makan dan tidur di kamarnya, sebuah rongga di dalam tanah yang nyaman.

Rubby pun akhirnya berjalan-jalan sendirian. Dia melompat-lompat dengan senang dan bermandi cahaya matahari sore yang hangat, lebih hangat dari kamarnya di dalam rongga tanah yang nyaman. Ia terus melompat-lompat sampai kakinya menginjak sesuatu yang hampir membuatnya tergelincir. Dia mengamati benda yang ia injak itu, ternyata itu adalah sebuah wortel yang sangat langka ditemukan di padang tempat dia tinggal. Wortel ini pasti berasal dari padang rumput di seberang sungai. Petani yang lewat pasti tak sengaja menjatuhkan satu buah wortel ini. Rubby pun sangat senang dan segera membawa wortel itu pulang untuk dibagi dengan adiknya. Adiknya pasti akan sangat senang.

Sampai di rumah, adik Rubby yang tidur bermalas-malasan segera meloncat girang saat melihat kakaknya membawa sebuah wortel yang segar dan besar. Air liur keluar dari mulutnya, ia ingin segera memakan wortel itu. Perutnya pun keroncongan.

Rubby tersenyum melihat kelakuan adiknya. Melihat adiknya yang tak sabar, dia pun meletakkan wortel itu di meja dan berniat mencari alat untuk membaginya menjadi dua sama rata. Namun betapa kagetnya Rubby waktu melihat adiknya segera menyambar wortel itu dan menikmatinya sendirian. Rubby pun marah dan mencoba menarik pangkal worter, sedangkan ujung wortel telah berada di mulut adiknya. Tak mau kalah, adiknya juga menarik ujung wortel dengan sekuat tenaga. Dan karena tubuh adiknya yang besar karena banyak makan, Rubby kalah. Wortel itu patah, dan Rubby hanya mendapatkan sepotong kecil pangkal wortel.

Rubby yang sedih pergi ke kamarnya dengan sepotong kecil pangkal wortel miliknya. Karena takut adiknya akan mengambilnya lagi, Rubby pun menyembunyikan wortel itu dengan cara menguburnya di dalam kamarnya. Rubby tidak langsung memakannya karena ia kehilangan nafsu makan karena kejadian tadi.

Hari-hari berlalu, Rubby lupa akan pangkal wortel yang ia sembunyikan karena beberapa hari itu, orang tuanya yang pulang berkelana membawa banyak makanan. Dan tanpa disadari Rubby, pangkal wortel yang ia kubur itu lama kelamaan mengeluarkan tunas. Tunas itu makin lama tumbuh semakin besar bahkan merusak kamar Rubby. Rubby yang ketakutan melaporkan hal ini kepada orang tuanya.

Orang tua Rubby bertanya, apa yang ia simpan di bawah tanah kamarnya. Rubby yang akhirnya ingat, mengatakan bahwa ia pernah menyimpan pangkal wortel di sana. Orang tuanya pun manggut-manggut dan justru bergembira.

"Pangkal wortel bisa tumbuh menjadi tanaman wortel jika dikubur di dalam tanah, Rubby. Kau tak perlu khawatir. Justru ini hal yang menggembirakan, kita bisa memiliki kebun wortel sendiri, jadi ayah dan ibu tak perlu berkelana ke padang di seberang sungai untuk mencari makanan." jelas ibunya.

"Dan jangan khawatir tentang kamarmu, ayah akan menggali kamar baru yang sama nyamannya untukmu." kata ayah Rubby.

Rubby pun tersenyum senang. Dia berniat membantu ayah dan ibunya untuk mengembangkan satu tanaman wortel itu menjadi banyak hingga mereka memiliki kebun wortel sendiri. Dengan memiliki banyak wortel di kebun mereka sendiri, Rubby tak perlu berebut makanan dengan adiknya. Justru, dia bisa memberikan banyak wortel untuk adiknya tersayang.

***
Dongeng ini adalah karya asli Damar Wijayanti yang bisa digunakan atau disebarkan dengan mencantumkan nama penulis dan link blog ini. Terimakasih karena telah menghargai karya dan hak cipta penulis.

Friday, May 25, 2012

Gagak dan Benda Berkilau

Hari ini sampai pukul lima sore saya belum juga mendapat ide untuk dongeng. Akhirnya saya mendekati partner kerja saya dan mengajaknya brainstorming. Hehehehe brainstorming nggak melulu harus soal iklan kan? Dan ngobrol ga sampai lima menit, akhirnya saya dan Willy (nama partner saya) menghasilkan dongeng tentang gagak, dan mengapa gagak selalu tertarik dengan benda-benda berkilau versi kami (Thank you Willy :D). Jadi, beginilah ceritanya...

Gambar: Getty Images

Dahulu, ada seorang gadis yang tidak pernah teliti dalam menjaga barang-barang pinjaman. Dia sering meminjam barang-barang dari saudara-saudaranya, dari orang tuanya, dari teman-temannya dan dari tetangga-tetangganya, namun barang-barang yang dipinjamnya selalu hilang entah kemana dan dia tidak bisa mengembalikannya. Alih-alih meminta maaf, gadis itu justru tak merasa bersalah sama sekali. Berbagai benda pinjaman telah ia hilangkan, mulai dari benang dan jarum, hingga cangkir keramik yang cantik. Betapapun berharganya barang yang dia hilangkan itu, dia tak pernah bertanggungjawab untuk mencarikan barang itu hingga ketemu, atau menggantinya dengan yang baru.

Gadis ini pernah meminjam sebuah bros batu yang berkilau cantik milik tetangganya, untuk dipakai ke sebuah pesta. Namun saat pulang kembali ke rumah, bros yang ia sematkan ke gaunnya itu sudah tidak melekat lagi di tempatnya. Namun seperti biasa, dia merasa tidak bersalah karena telah menghilangkannya. Dia hanya diam sampai si tetangga datang ke rumahnya untuk meminta kembali bros berharga itu. Namun dengan entengnya si gadis berkata bahwa bros itu telah hilang entah di mana saat perjalanannya pulang dari pesta. Bukannya meminta maaf, gadis itu justru menyalahkan pemilik bros yang meminjamkan bros dengan pengait yang tidak kuat sehingga terlepas dari gaunnya dan hilang. Pemilik bros yang sakit hati menjadi marah dan sebelum pergi dari rumah gadis itu, dia mengucapkan sebuah kutukan.

"Kau akan berubah menjadi seekor gagak dan terus mencari-cari bros yang berkilau itu untuk dikembalikan kepadaku. Kau baru akan kembali ke wujud semula setelah kau mengembalikan bros milikku!" ucapnya dengan penuh amarah.

Seketika, langit menjadi gelap dan angin menderu-deru. Gadis itu terbang terbawa angin yang kencang dan saat berada diudara, perlahan ia berubah menjadi burung gagak. Ia merasa takut dan sedih atas hukuman yang ia terima dan berniat segera mencari bros berkilau yang ia hilangkan untuk dikembalikan kepada tetangganya agar ia segera kembali ke wujud manusia.

Gagak itu berkelana sambil terus menatap daratan. Dia selalu terbang rendah saat melihat benda berkilauan dari atas. Jika benda itu ternyata bukan bros yang dicarinya, dia akan kembali terbang. Dia melakukannya selama bertahun-tahun sampai ia sendiri lupa bagaimana wujud bros berkilau yang ia cari. Karenanya, sejak saat itu, tiap kali melihat benda berkilau di tanah, si gagak akan mengambilnya dan membawanya ke hadapan si pemilik bros. Namun sayang, hingga saat ini si gagak belum juga menemukan bros berkilau itu. Dia sangat menyesal karena dulu dia tidak menjaga barang pinjaman dengan baik.


***
Dongeng ini adalah karya asli Damar Wijayanti yang bisa digunakan atau disebarkan dengan mencantumkan nama penulis dan link blog ini. Terimakasih karena telah menghargai karya dan hak cipta penulis.

Thursday, May 24, 2012

Pembuktian si Anak Anjing

Gambar: Getty Images

Dahulu kala, anjing bukanlah hewan yang bisa berenang. Jangankan berenang, menyentuh air saja mereka tidak suka karena akan membuat bulu mereka basah dan terasa lengket. Namun suatu ketika, ada seekor anak anjing yang selalu senang melihat hewan-hewan seperti bebek, angsa, katak, dan ikan yang berenang di air. Mereka begitu gembira bermain-main di air yang nampak begitu segar. Hal itu membuat si anak anjing memiliki keinginan yang besar untuk bisa berenang.

Maka, pulanglah anak anjing itu ke rumahnya dan mengutarakan keinginannya kepada orang tua dan saudara-saudaranya. Namun, betapa sedihnya si anak anjing waktu keluarganya justru menertawainya.

"Anjing tidak ditakdirkan untuk menjadi perenang seperti bebek." kata ayahnya dan ibunya.

"Anjing berenang? itu hal yang mustahil." kata kakaknya.

"Kau tidak mungkin bisa berenang!" kata saudara kembarnya.

Hal yang sama juga ia dengar dari teman-temannya dan kerabat dekat keluarganya. Maka si anak anjing merasa keinginannya tersebut tidak akan pernah terwujud karena semua anjing berkata anjing tidak mungkin bisa berenang. Ia pun memaksa dirinya untuk berpuas diri dengan hanya melihat kegembiraan hewan-hewan lain yang bisa berenang.

Suatu hari, seperti biasanya dia duduk di pinggir danau yang jernih. Kebetulan di sana sedang ada induk bebek yang membawa anak-anaknya untuk belajar berenang. Ini adalah pertama kalinya anak-anak bebek itu turun dari sangkar setelah menetas. Mereka berjalan berbaris di belakang induknya dan mengikuti sang induk. Namun mereka segera berhenti saat sang induk masuk ke air. Sang induk bebek berbalik.

"Ayo, kenapa kalian berhenti?" tanya induk bebek.

"Kami takut, kami belum pernah melakukannya." jawab anak-anak bebek.

"Jangan takut, kalian pasti bisa! ayo masuklah ke air." ajak induk bebek.

Anak-anak bebek pun dengan takut-takut masuk ke air. Saat pertama kali masuk ke air, ada anak bebek yang langsung tenggelam namun sesaat kemudian dengan terus menggerakkan kakinya, anak bebek itu bisa menucul kembali ke permukaan dan berenang dengan gembira. Anak bebek lainnya, ada yang terbalik dengan posisi kepala di bawah, namun sesaat kemudia dia bisa mengangkat kepalanya dan berenang menyusul saudaranya. Ada pula anak bebek yang begitu masuk ke air bisa mengambbang, namun dia tak bisa bergerak maju, hanya mengambang di tempat. Induk bebek pun menyemangatinya untuk terus menjejakkan kaki ke belakang, dan akhirnya dia bisa menyusul saudara-saudaranya.

Melihat kejadian itu, anak anjing sangat tertarik namun sekaligus bersedih. Dia pun menunduk memandangi air di pinggiran danau itu. Induk bebek yang melihatnya segera mendatangi dan menanyakan kenapa anak anjing itu bersedih.

"Aku ingin sekali berenang, tapi semua anjing berkata aku tak mungkin bisa berenang." jawab si anak anjing dengan sedih.

"Kau pernah mencobanya?" tanya induk bebek. Si anak anjing menggeleng.

"Kalau begitu, cobalah. Jangan begitu saja percaya kepada kata-kata yang lain kalau kau tidak bisa sebelum kau mencoba dan menbuktikannya. Ayo, kau pasti bisa!" bujuk induk bebek.

"Bagaimana kalau aku tenggelam?" tanya anak anjing.

"Aku akan menolongmu. Tapi selama kau terus menggerakkan kakimu seperti berlari di air, percayalah kau pasti bisa mengambang dan berenang." jelas induk bebek.

Dengan takut-takut anak anjing pun mencoba untuk pertama kalinya masuk ke air. Pertama kali dia langsung tenggelam dan tak bisa bernafas. Dia menahan nafas agar hidungnya tak kemasukan air. Namun makin lama, nafasnya mulai habis dan dia hampir tak kuat lagi. Di saat genting itu, dia teringat kata-kata induk bebek untuk menggerakkan kakinya seperti berlari di air. Dia pun segera melakukannya. Dan betapa bahagianya waktu dia menemukan bahwa cara itu berhasil!

Anak anjing itu mengambang dengan senang. Dia bergerak ke sana ke mari dan menggonggong senang. Dia merasakan kesegaran bermain di air. Hari itu juga, anak anjing itu pulang sebentar untuk mengajak keluarganya ke danau, agar dia bisa membuktikan bahwa dia pasti bisa karena mau mencoba dan berusaha. Untunglah dia tak lantas mengubur impiannya sebelum mencobanya.

***
Dongeng ini adalah karya asli Damar Wijayanti yang bisa digunakan atau disebarkan dengan mencantumkan nama penulis dan link blog ini. Terimakasih karena telah menghargai karya dan hak cipta penulis.

Wednesday, May 23, 2012

Pangeran yang Menyamar

Gambar: Getty Images

Di sebuah kerajaan yang indah, hidup seorang raja dan ratu yang hanya dikaruniai seorang anak laki-laki. Pangeran itu sangat disayang, hingga saat ia dewasa dan sudah waktunya untuk mencari pasangan hidup, sang ratu tetap ingin melindunginya. Sang ratu tidak mau putranya menikah dengan gadis yang hanya mencintai harta dan kedudukan sang pangeran. Oleh karena itu, sebelum pangeran mulai berkelana untuk mencari jodohnya, sang ratu meminta pangeran untuk menukar pakaiannya dengan pakaian pelayannya.

Pangeran juga setuju dengan ide sang ratu dan akhirnya dia pergi berkelana bersama pelayannya. Pengeran mengenakan pakaian pelayan, dan pelayan mengenakan pakaian pangeran. Pelayan yang menjadi pangeran palsu duduk di dalam kereta kencana dan pangeran asli yang menjadi pelayan mengendarai kuda di depannya. Setelah melalui perjalanan, mereka akhirnya sampai ke sebuah kota kecil. Gadis-gadis di sana cantik-cantik, namun pangeran asli tak boleh hanya memilih calon istrinya berdasarkan kecantikan fisiknya saja, namun juga kebaikan hati si gadis. Selain itu, sang ratu berpesan bahwa selama penyamarannya, sang pangeran asli tidak boleh merayu seorang gadis pun, dia harus menunggu ada gadis yang tertarik dengan sendirinya kepada pangeran asli yang berpenampilan pelayan itu.

Selama beberapa hari berada di kota itu, pangeran palsu sudah didekati oleh banyak gadis yang berusaha mencuri perhatiannya. Namun tentu saja gadis-gadis itu sama sekali tidak dilirik oleh pangeran asli. Sampai suatu siang, saat sedang member minum kepada kudanya, pangeran asli merasa diintip oleh seseorang. Dia pun mengedarkan pandangan dan sekilas melihat sepasang mata besar nan cantik yang mengintip dari sebuah jendela buram. Pangeran asli pun tersenyum kepada si pemilik mata itu.

Si pengintip itu adalah seorang pelayan keluarga ternama di kota itu. Melihat senyum lelaki yang manis itu, dia pun tersipu dan segera bersembunyi. Sejak saat itu pangeran asli tak pernah melihatnya lagi. Namun beberapa hari kemudian, saat pangeran dan pelayannya hendak pergi dari kota itu untuk mencari gadis di kota lain, pangeran asli kembali melihat sepasang mata indah itu. Di antara para gadis cantik berpakaian menarik yang melambai-lambaikan tangan sambil bersedih di sepanjang jalan, pangeran asli menemukan sosok gadis paling manis yang pernah ia lihat, meskipun pakaiannya kusam.

Pangeran asli pun segera menghentikan kudanya dan menghampiri gadis itu. Dia berlutut di depan gadis itu dan memintanya untuk ikut bersamanya dan menikah dengannya. Dengan malu-malu, gadis itu mengangguk setuju. Sesaat kemudian, pangeran palsu segera mengumumkan bahwa pangeran telah menemukan calon istrinya. Dia menjelaskan bahwa pelayan muda itulah pangeran yang sebenarnya. Seluruh gadis di kota itu menganga tak percaya bahwa pemuda berbaju pelayan itu adalah pangeran. Mereka pun menyesal karena selama ini mereka hanya melihat dari penampilan menarik si pangeran palsu yang sebenarnya hanya pelayan.

Akhirnya pangeran asli membawa pulang gadis pelayan itu dan dengan restu raja dan ratu, dia menikahi gadis cantik dan baik itu. Mereka berdua hidup bahagia di istana.

***
Dongeng ini adalah karya asli Damar Wijayanti yang bisa digunakan atau disebarkan dengan mencantumkan nama penulis dan link blog ini. Terimakasih karena telah menghargai karya dan hak cipta penulis.

Tuesday, May 22, 2012

Jerapah yang Ingin Menggapai Bintang

Gambar: Getty Images

Dahulu kala, di sebuah hutan di negeri ajaib, hidup seekor kerapah kecil bernama Jeremy. Saat itu jerapah masih memiliki kaki dan leher yang tidak terlalu panjang, mereka berukuran seperti zebra, hanya saja dengan mitif kulit yang berbeda.

Jeremy adalah anak jerapah yang sangat menyukai bintang-bintang. Di saat hewan lain bahagia menyambut malam karena waktu tidur sudah dekat, Jeremy justru bahagia karena dia dapat segera melihat sungai bintang di langit. Jeremy sering membayangkan dia dapat menggapai bintang dan bermain di sungai bintang yang berkelap kelip indah di matanya.

Keinginan Jeremy begitu kuat hingga berhasil mencetuskan sebuah ide. Jeremy meyakinkan dirinya untuk rajin berlatih agar dia bisa menjadi makhluk yang tinggi dan dapat menggapai bintang-bintang. Dia pun berusaha keras dengan latihan melompat-lompat setiap hari agar kakinya memanjang. Dia juga sering mencantolkan dagunya ke dahan pohon lalu menggantungkan badannya agar lehernya memanjang. Semuanya dilakukan dengan tekat yang kuat untuk mewujudkan mimpinya.

Jeremy sama sekali tak mengenal lelah dalam berusaha mengubah tinggi badannya agar bisa menggapai bintang. Kini leher Jeremy sangat panjang dan kakinya bergitu jenjang. Jeremy pun menjadi makhluk hutan yang paling tinggi menjulang. Namun seiring bertambahnya usia, Jeremy akhirnya mengerti bahwa kenyataannya bintang berjarak sangat jauh dari tempat dia berada.

Setelah mengetahui bahwa mimpinya tak mungkin tercapai, Jeremy bersedih hati. Namun hal itu tidak berlangsung lama karena dia merasakan usahanya untuk menggapai bintang tidak lantas menjadi sia-sia. Dengan menjadi makhluk paling tinggi di hutan, dia bisa mendapatkan pucuk-pucuk daun di puncak pohon yang tinggi yang merupakan bagian terlezat. Dia juga tak perlu kelaparan menunggu buah apel favoritnya jatuh dari pohon, karena dengan leher yang panjang, dia bisa memilih apel yang merah ranuh dan segar untuk langsung dipetik dari pohonnya.

Jeremy merasa menjadi makhluk yang paling beruntung di hutan dan dia tidak pernah menyesali usahanya yang gagal, karena usahanya selama ini pada akhirnya telah membawanya kepada keuntungan lain yang ternyata sangat menyenangkan baginya.

---inspired by a quote from Leo Burnett:
"When you reach for the stars, you may not quite get one, but you won't come up with a handful of mud either."


***
Dongeng ini adalah karya asli Damar Wijayanti yang bisa digunakan atau disebarkan dengan mencantumkan nama penulis dan link blog ini. Terimakasih karena telah menghargai karya dan hak cipta penulis.

Monday, May 21, 2012

Migo si Pemalas

Gambar: Getty Images

Ini adalah cerita tentang seekor semut pemalas yang berhutang budi kepada koloninya. Koloni semut itu tinggal di rongga-rongga akar sebuah pohon cherry di pinggir sungai kecil yang tenang. Setiap hari semut-semut itu memanjat pohon cherry yang sangat tinggi bagi mereka, bersama-sama mereka memetik buah cherry yang sudah masak dan terasa manis untuk dibawa ke rumah mereka dan dimakan bersama-sama.

Namun di antara koloni semut itu, terdapat seekor semut pemalas bernama Migo. Bukannya ikut bekerja sama mencari makanan, dia malah duduk bersantai di atas sehelai daun cherry sambil menikmati semilir angin. Beberapa semut yang lewat sering menasihatinya, namun dia tak peduli. Dia tetap bersantai dan mengabaikan teman-temannya yang bekerja keras. Bahkan seringkali Migo ketiduran saat tengah bersantai, seperti halnya hari ini.

Tanpa disadari Migo, hari ini angin bertiup lebih kencang dari biasanya. Angin yang cukup kencang ini membuat daun yang diduduki Migo terlepas dari dahannya dan terbang jatuh ke atas sungai yang tenang. Saat terbangun, Migo kaget karena dia mengapung di tengah-tengah sungai dan sangat sulit baginya untuk menggapai tepian.

Dengan ketakutan Migo berteriak-teriak minta tolong namun tak ada semut lain yang mendengarnya. Dia terus berteriak dan hampir putus asa saat seekor semut yang hendak minum dari tepian sungai mendengar suaranya dan melihat Migo terjebak di atas sehelai daun yang mengapung di tengah sungai. Migo memohon pertolongannya, namun semut itu justru pergi dari tepi sungai. Migo menjadi sedih dan sadar akan perasaan semut lain yang selama ini ia perlakukan seperti itu. Saat semut-semut lain meminta bantuannya untuk bersama-sama mengangkat buah cherry yang cukup besar, dia justru pergi meninggalkan mereka dan sibuk memilih daun yang nyaman untuk bersantai.

Namun tanpa di sadari Migo, semut tadi berjalan menuju pohon Cherry. Di dalam perjalanannya itu, setiap kali bertemu dengan semut lain, semut ini membisikkan sebuah berita bahwa Migo terjebak di tengah sungai dan membutuhkan bantuan mereka. Semut ini meminta setiap semut yang ia lewati untuk segera berjalan ke tepi sungai dan memikirkan cara untuk menyelamatkan Migo. Setiap kali ia berpapasan dengan semut lain, ia menyampaikan berita itu.

Beberapa saat kemudian, hampir seluruh koloni sudah berkumpul di pinggir sungai. Satu persatu mereka memanjat sebatang rumput yang panjang dan membuatnya melengkung hingga ujungnya mencapai tempat di mana Migo berada. Namun sayang, jaraknya masih terlalu jauh untuk menjangkau Migo. Semut yang berada di ujung yang paling dekat dengan Migo pun berkata, “Ayo Migo gunakan tanganmu untuk mendayung daun itu kemari. Kali ini kau tidak boleh malas agar bisa selamat.”

Migo pun menuruti perintah semut itu dan melawan rasa malasnya. Dia mulai mendayung sedikit demi sedikit hingga akhirnya bisa meraih ujung rumput itu. Semua semut bersorak gembira. Satu per satu mereka berjalan di atas batang rumput yang melengkung itu ke atas daratan. Akhirnya Migo bisa diselamatkan berkat bantuan dan kerja sama teman-temannya, dan yang paling penting Migo juga berperan dalam menyelamatkan dirinya sendiri dengan melawan rasa malas yang selama ini ada di dalam dirinya.

***
Dongeng ini adalah karya asli Damar Wijayanti yang bisa digunakan atau disebarkan dengan mencantumkan nama penulis dan link blog ini. Terima kasih karena telah menghargai karya dan hak cipta penulis.

Sunday, May 20, 2012

Lebah Murah Hati dan Ulat Rakus


Gambar: Getty Images


Di musim semi yang indah, saat-saat di mana padang rumput yang luas dipenuhi oleh bunga-bunga liar nan indah, gerombolan lebah madu akan keluar dari sarangnya untuk mengumpulkan madu bagi sang ratu lebah dan keluarga mereka. Musim semi adalah musim terbaik untuk menngambil bahan-bahan pembuatan madu yang tersimpan di setiap kelopak bunga, karena pada musim ini ribuan bunga bermekarang di sepanjang penglihatan lebah.

Namun sayang, musim semi kali ini bunga-bunga tidak bermekaran sebanyak dulu. Hal ini terjadi karena pada awal musim semu, gerombolan ulat datang menjajah padang rumput dan memakan dedaunan hingga habis. Rumput-tumput bunga yang daunnya habis akhirnya tak bisa berbunga pada musim semi kali ini. Para lebah madu pun dengan sedih melintasi padang rumput yang gundul yang dipenuhi oleh ulat-ulat gemuk yang kekenyangan. Lebah-lebah itu kembali ke sarang tanpa membawa hasil dan disambut oleh keluarga dan taru yang juga sedih karena hal itu berarti mereka akan kelaparan untuk waktu yang cukup lama.

Tak mau melihat rakyatnya kelaparan, ratu lebah pun keluar dari sarang dan menemui peri hutan. Peri hutan yang baik menyambutnya dengan penuh rasa penasaran.

“Ada apakah gerangan yang mulia ratu lebah? Kau tak pernah keluar dari sarangmu, pasti ada hal penting yang membuatmu sampai harus terbang keluar dari istanamu.” Tanya peri hutan penasaran.

“Rakyatku kelaparan karena ulat-ulat rakus di padang rumput telah menghabiskan seluruh tanaman bunga. Kalau sampai akhir musim semi ini tak ada bunga yang bisa tumbuh, maka kebanyakan dari kami bisa mati kelaparan. Dan aku datang ke sini untuk meminta bantuanmu. Bisakah kau melenyapkan gerombolan rakus itu?” Jelas ratu lebah.

“Tapi sebagai peri hutan, aku harus menjaga keseimbangan hidup penghuni hutan. Aku tak bisa memusnahkan mereka. Tapi jangan khawatir, aku akan memikirkan cara agar ulat-ulat rakus itu tak lagi menghabiskan tanaman bunga sendirian. Akan kubuat mereka bisa berbagi dengan para lebah.” Jawab peri hutan.

Ratu lebah cukup senang mendengar jawaban peri hutan, karena para lebah juga tidak keberatan berbagi dengan makhluk lain. Akhirnya ratu lebah pulang dan menunggu keajaiban yang akan dikerjakan oleh peri hutan.

Beberapa hari berlalu. Ratu lebah menyuruh utusannya untuk melihat apa yang terjadi di padang rumput. Betapa kagetnya waktu beberapa ekor lebah utusan itu melintasi padang rumput yang dipenuhi oleh kepompong. Mereka pun segera menuju istana dan melaporkan kepada ratu lebah bahwa ulat-ulat rakus sedang mendapat hukuman dari peri hutan. Ulat-ulat itu dibalut dengan benang-benang putih yang sangat lembuh yang dijalin oleh peri-peri hutan.

Selama para ulat itu di dalam kepompong, rumput-rumput bunga mulai bisa menumbuhkan daun-daunnya lagi tanpa ada yang menggigiti. Mereka terus tumbuh dengan subur selama pertengahan musim semi dan akhirnya semuanya berbunga bersamaan mendekati akhir musim semi. Para lebah sangat gembira melihatnya. Mereka pun dengan gembira keluar dari sarang-sarangnya untuk memanen.

Di padang rumput itu, ketika para lebah sedang mengambil sari-sari bunga, kepompong-kepompong putih di bawah dedaunan terbuka. Para lebah yang melihatnya menjadi bersedih karena mengira mereka akan melihat ulat-ulat rakus lagi yang akan segera melahap tanaman-tanaman bunga di padang itu. Namun, yang mereka lihat justru sebuah keajaiban. Bukannya ulat gendut, makhluk-makluk cantik dengan sayap yang berwarna-warni keluar dari kepompong itu dan ikut terbang di atas padang rumput yang berbunga. Para lebah terpesona akan keindahannya, hal itu membuat hati mereka senang.

Selama menjalani hukuman di dalam kepompong, para ulat itu telah berjanji kepada peri hutan untuk bersikap baik dan mau berbagi dengan para lebah. Karena itu, dengan sopan makhluk-makhluk cantik itu bertanya kepada para lebah dengan sangat sopan, “Bolehkan kami meminta sebagian dari sari-sari bunga ini?”

“Tentu saja, kita bisa saling berbagi. Alam ini kan milik kita bersama.” Jawab para lebah.

Di akhir musim semi itu, padang rumput penuh bunga pun dipenuhi oleh dua gerombolan makhluk yang terbang bersamaan, mengunjungi setiap kelopak bunga. Mereka hidup bersama, damai, dan dengan senang hati mau berbagi.

***
Dongeng ini adalah karya asli Damar Wijayanti yang bisa digunakan atau disebarkan dengan mencantumkan nama penulis dan link blog ini. Terima kasih karena telah menghargai karya dan hak cipta penulis.

Saturday, May 19, 2012

Happily Never After Story (Requested)

Selama seminggu kemarin saya sempet berbagi dongeng-dongeng saya kepada teman-teman kantor sebelum saya posting untuk #31HariMenulis. Komentar mereka adalah: Kenapa sih selalu Happy Ending?

Saya pun menjawab, karena dongeng saya ini untuk anak-anak. Setelah mereka maklum dengan jawaban saya, mereka request sekali-sekali ada yang ga happy ending dong dongengnya. Bahkan salah satu dongeng saya ada yang di twist menjadi sebuah black comedy. Mau tau? Ini Dia (bagian yang di twist saya tulis dengan font italic):

Naga yang Benar-Benar Kesepian

Di Negeri Naga yang terletak di kepulauan berisi ratusan gunung berapi, pernah lahir seekor anak naga yang berbeda dari naga-naga lain. Meskipun sama-sama memiliki sayap untuk terbang dan berekor panjang, namun anak naga ini tidak bisa menyemburkan api dari mulutnya. Padahal mengeluarkan api adalah salah satu senjata hidup bagi naga untuk bertempur.

Menjelang remaja, dimana naga-naga lain sudah mahir menyemburkan api dan bersiap-siap mengikuti ujian masuk anggota tempur, anak naga ini masih sibuk belajar menyemburkan api bersama balita-balita naga yang lain. Perkembangan paling bagus yang berhasil dia capai adalah bersin api berkekuatan kecil. Meskipun dianggap lucu dan diolok-olok balita-balita naga di kelasnya, dia merasa bangga karena berhasil mengeluarkan api dari tubuhnya, meskipun kecil.

Diperayaan gerhana bulan tahunan, para naga menggelar festival api untuk menggantikan cahaya bulan yang hilang. Semua naga saling beradu menyemburkan api ke udara diiringi tarian-tarian khas naga yang indah. Semburan api tak boleh terhenti sehingga selama gerhana bulan berlangsung, negeri naga akan tetap terang benderang, menandakan peruntungan yang baik selama setahun ke depan untuk negeri itu.

Si anak naga pun seperti tahun-tahun sebelumnya ikut menonton festival ini. Namun, karena dia merasa sudah bisa mengeluarkan api kecil, dia ingin ikut menyemburkan api bersama naga-naga lain. Dia pun bergabung di arena dan memutuskan untuk menghembuskan nafas apinya sekuat tenaga agar api yang keluar lebih besar dari hasil latihannya. Dia menghitung di dalam hati, satu.. dua.. tiga..

Puuuuuuuuuuf!

Seketika semua semburan api dari naga-naga lain padam. Semua naga panik, ibu-ibu naga dan bayi-bayinya histeris. Belum pernah ada kejadian seluruh api padam di saat festival bulan purnama. Hal ini dianggap akan membawa sial kepada negeri naga selama setahun penuh, dan hal itu dianggap sebagai kesalahan si anak naga yang bukannya menghembuskan api tapi justru angin kencang yang memadamkan semua api dari naga-naga lain.

Atas dorongan naga-naga di seluruh negeri, tetua naga yang merupakan ayah si anak naga sendiri terpaksa mengusir anak naga itu dari negerinya. Meskipun berat dan sangat sedih, sang ayah berpesan kepada anak naga untuk tidak berputus asa. Dia juga berpesan agar si anak naga tidak perlu khawatir karena disuatu tempat pasti kemampuan khususnya akan dibutuhkan.

Anak naga dengan sedih meninggalkan negerinya dan mulai berkelana. Dia terus terbang sampai merasa sangat lapar namun dia tak punya semburan api untuk berburu binatang di hutan. Akhirnya dia hanya melewati hutan di bawahnya dengan perut keroncongan. Dia merasa sangat sedih dan kesepian. Hari demi hari, siang dan malam dia habiskan dengan berkelana sendirian.

Sampai suatu saat dia melewati sebuah negeri di tengah lautan. Saat terbang di atas negeri itu, si anak naga melihat banyak penduduk duduk termenung dan sedih di depan ladangnya. Karena merasa kasihan, dia pun mendarat perlahan di negeri itu. Awalnya, sekelompok petani di sana kaget dan ketakutan dan langsung mengambil senjata dan diacungkan ke arah anak naga. Anak naga mundur dan dengan lembut berbicara kepada petani-petani itu.

“Tolong jangan sakiti aku. Aku hanya ingin menanyakan kenapa kalian begitu bersedih?” tanya anak naga.

“Sudah berhari-hari tidak ada angin yang melewati negeri kami. Padahal kami sangat membutuhkan angin untuk memutar kincir-kincir raksasa di lahan kami. Dari kincir itu kami bisa memompa air, bertani, dan mendapatkan makanan untuk kami dan ternak-ternak kami.” Jelas salah seorang petani.

“Jadi kalian membutuhkan angin?” tanya anak naga dengan mata berbinar. Petani-petani itu mengangguk bingung.

"Jangan khawatir, aku adalah ahlinya menghembuskan angin. Setelah apa yang kulakukan ini, kalian akan berterimakasih kepadaku dan akan menyebut-nyubutku sebagai Naga Angin yang hebat. kata si anak naga dengan sombongnya.


Si anak naga pun mengambil nafas panjang dan menghembuskannya dengan kencang ke arah kincir - kincir angin raksasa di negeri itu. Namun betapa kagetnya si anak naga dan para petani di sana, karena si anak naga justru mengeluarkan semburan api besar yang dengan segera membakar dan merusak seluruh kincir angin di negeri itu.

Warga pun geram dan melembarkan batu dan tombak ke arah si anak naga untuk mengusirnya. Dengan ketakutan, si anak naga segera terbang tanpa sempat meminta maaf. Dia pun kembali berkelana sendirian karena dia tak mungkin kembali ke nergeri naga meskipun dia sudah bisa menyemburkan api, karena sekali diusir dari negeri itu, seekor naga tidak akan pernah diterima kembali. Akhirnya si naga ini tetap terbang sendirian tak tentu arah, dan menjadi naga yang kesepian untuk selama-lamanya.


***
Dongeng ini adalah karya asli Damar Wijayanti yang bisa digunakan atau disebarkan dengan mencantumkan nama penulis dan link blog ini. Terima kasih karena telah menghargai karya dan hak cipta penulis.

Friday, May 18, 2012

Kisah Saudagar dan Keledai Hitam yang Hilang

Gambar: Getty Images

Suatu senja, seorang saudagar berkendara pulang dengan menunggangi keledainya yang berwarna hitam. Keledai ini cukup langka dan khas karena kebanyakan keledai berwarna coklat. Sore itu saudagar pulang dengan hati muram karena barang dagangannya berupa beberapa buah semangka, jatuh dan pecah di jalan sehingga hari itu dia tidak membawa pulang uang sepeser pun. Karena tidak membawa uang sedikitpun, dia memberanikan diri melewati jalan pintas ke desanya, yaitu menembus hutan sepi selama beberapa menit, menyeberang sebuah desa, dan sampailah dia di desa tempat tinggalnya. Biasanya tak ada orang yang berani melewati jalan pintas seorang diri karena daerah itu terkenal sebagai daerah rawan perampokan.

Sang saudagar yang nekat lewat itu awalnya tidak khawatir karena dia merasa tidak ada harta yang dia miliki untuk dirampok, pasti dia akan dibiarkan lewat. Namun, ternyata hal buruk tetap terjadi. Saudagar itu dihadang oleh seorang perampok bersenjata. Perampok itu tidak memakai topeng sehingga saudagar bisa melihat dengan jelas bagaimana wajahnya. Saudagar pun berterus terang bahwa dia sama sekali tidak memiliki uang, namun perampok tidak mau pulang dengan tangan kosong. Akhirnya dia merampas dengan paksa keledai hitam itu dan membawanya pergi, meninggalkan saudagar di tengah hutan. Saudagar itu dengan terpaksa harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Malam itu, dia baru sampai di desa yang harus dia seberangi sebelum mencapai desanya. Alangkah kagetnya dia melihat seorang pemuda berwajah persis dengan si perampok tadi berada di kota itu. Dia pun segera melaporkan pemuda itu ke prajurit yang berjaga di desa itu, namun tentu saja si pemuda mengelak bahwa dialah perampok itu. Karenanya, prajurit menyarankan mereka berdua pergi ke pengadilan desa untuk membuktikan siapa yang salah dan siapa yang benar.

Di pengadilan, hakim desa telah menunggu dan bertanya apa masalahnya. Saudagar itu menceritakan bahwa pemuda itu telah mengambil paksa keledai hitam miliknya. Si pemuda yang ternyata adalah anak si hakim, membela diri.

"Ayah tahu sore tadi aku tidak pulang dengan menunggang keledai hitam. Aku justru pulang menuntun satu ekor zebra yang tersesat di hutan." kata pemuda itu membela diri.

"Yang mulia hakim, hamba memohon keadilan. hamba benar-benar ingat wajah perampok itu, benar-benar mirip dengan pemuda ini." kata saudagar tak mau kalah.

"Apakah ada saksi yang melihat perampokan itu?" tanya hakim.

"Sayangnya tidak, tapi saya bisa mengenali keledai saya dengan baik. Warnanya hitam, itu adalah satu-satunya keledai yang berwarna hitam. Jika ada yang menyimpan keledai berwarna hitam, itu pasti milik saya." jawab saudagar.

"Kalau begitu, kita akan minta seluruh warga yang memiliki keledai untuk mengeluarkan keledainya." kata hakim.

Dan malam itu, saudagar, pemuda, hakim, dan prajurit yang bertugas menyusuri sepanjang jalan desa. Di samping kanan dan kiri telah terbaris keledai-keledai milik warga desa dengan berbagai ukuran, namun tidak ada satu pun yang berwarna hitam. Mereka terus meneliti keledai-keledai itu hingga hujan mulai turun. Karena hujan yang sangat deras, akhirnya hakim menawarkan kepada saudagar untuk ikut pulang ke rumahnya untuk berteduh. Saudagar itu setuju. Mereka berlari menuju rumah hakim, di mana ada seekor zebra terikat di halamannya. Zebra yang katanya ditemukan oleh anak sang hakim.

Namun betapa kagetnya si pemuda itu waktu mereka semakin mendekati zebra di depan rumahnya itu. Pemuda itu panik bukan main saat menyadari bahwa cat putih yang ia goreskan di badan keledai hitam hasil rampokannya perlahan-lahan luntur terkena air hujan. Dan begitu mereka semua sampai di depan rumah, seluruh cat putih itu telah luntur, menampakkan sosok asli zebra itu, seekor keledai hitam.

Melihat keledai hitamnya, saudagar itu sangat gembira. Begitu pula keledai hitam itu, dia meringkik mendekati pemilik aslinya meskipun dia masih terikat di tiang rumah hakim. Melihat kenyataan ini, sang hakim malu bukan main kepada si saudagat. Dia juga geram kepada anaknya yang telah berbuat kriminal dan berbohong. Akhirnya dia pun meminta prajurit untuk menangkap dan memenjarakan anaknya sendiri atas perbuatan salahnya itu. Saudagar ditawari menginap semalam sebagai permohonan maaf sang hakim dan boleh melanjutkan perjalanan pulang esok harinya.

***
Dongeng ini adalah karya asli Damar Wijayanti yang bisa digunakan atau disebarkan dengan mencantumkan nama penulis dan link blog ini. Terima kasih karena telah menghargai karya dan hak cipta penulis.

Thursday, May 17, 2012

Cinta Terbesar

Gambar: Getty Images

Ini bukanlah kisah tentang putri sejati yang menemukan pangerannya. Bukan pula tentang gadis teraniaya yang akhirnya mendapatkan cinta dari seorang pangeran yang didambakan setiap gadis. Tapi, ini adalah kisah seekor induk kucing yang sangat mencintai anak-anaknya.

Dahulu kala, para penyihir bisa dipastikan memiliki seekor kucing berbulu hitam. Kucing-kucing itu selalu berada di sisi para penyihir untuk membantu mereka melakukan kejahatan. Mereka dengan senang hati menjadi pembantu para penyihir dan ikut tertawa di atas penderitaan orang-orang yang merana akibat ulah sang penyihir. Namun, ada satu kucing yang berbeda.

Kucing betina itu sedang hamil tua dan siap melahirkan anak-anaknya. Saat itu dia berpikir bahwa anaknya harus memiliki kehidupan yang lebih baik darinya. Anak-anaknya tidak boleh menjadi peliharaan penyihir jahat dan harus mengabdikan diri untuk kejahatan. Karena itu, kucing ini berniat kabur dari pemiliknya, seorang penyihir tua yang keji. Di malam yang telah ia tentukan, kucing itu berjalan dengan melipat kuku-kukunya agar si penyihir tidak mendengarnya. Namun saying, saat berhasil melewati pintu, penyihir itu memergokinya.

Meskipun kaget, kucing itu tetap berusaha kabar dengan lari sekuat tenaga sambil menghindari mantra-mantra yang dirapelkan kepadanya. Karena geram, penyihir pun mengucapkan sebuah kutukan, yaitu dia akan mencari dan memakan anak-anak kucing itu. Kutukan itu membuat si kucing sangat bersedih hati. Dia selalu memikirkan cara menyelamatkan anak-anaknya hingga tiba saatnya dia melahirkan.

Setelah melahirkan di tempat yang aman, si kucing tidak pernah meninggalkan ketiga anaknya untuk melindungi mereka. Si kucing rela menahan lapar dan tetap menyusui bayi-bayi itu. Sampai suatu hari ia melihat ada burung gagak bertengger di dekat tempat persembunyiannya dan melihat ke arah mereka. Induk kucing pun ketakutan karena ia tahu siapa pun bisa menjadi mata-mata si penyihir. Maka, setelah burung gagak itu pergi, induk kucing berniat untuk memindahkan anak-anaknya ke tempat lain. Tapi, dia tidak bisa menggendong mereka karena ia harus berjalan dengan empat kaki. Akhirnya dia hanya bisa memindahkan mereka satu per satu dengan cara menggigit kulit leher anak-anak kucing itu.

Induk kucing harus bolak – balik membawa mereka satu per satu namun itu dia lakukan tanpa mengeluh demi keselamatan anak-anaknya. Mereka pun bersembunyi di tempat yang baru yang lebih aman. Namun ternyata, di tempat baru itu dia melihat ada seekor ular yang melintas di depan persembunyiannya. Ular itu mengintip ke dalam persembunyian mereka, lalu pergi. Induk kucing panik. Segera ia memindahkan anak-anaknya ke tempat lain yang lebih aman.
Usaha memindahkan anak-anak kucing ini terjadi hingga sembilan kali telah Sembilan kali pula tempat persembunyiannya diketahui oleh mata-mata penyihir. Dan di usaha ke Sembilan, anak-anaknya sudah cukup besar untuk bisa mengungkapkan rasa sakit di lehernya ketika dibawa oleh sang induk.

“Ibu, mengapa kau menyakiti kami berkali-kali?” Tanya anak-anak kucing itu.

Mendengarnya, induk kucing menangis sedih. Lalu ia berkata, “Maafkan ibu anak-anakku sayang, ibu tidak bermaksud menyakiti kalian, tapi hanya itulah cara terbaik yang ibu tahu untuk menjaga kalian. Maafkan ibu, andai saja ibu bisa melakukan yang lebih baik dari yang ibu bisa.”

Mendengar kata-kata sang ibu, anak-anak kucing itu meminta maaf. Selama ini mereka tidak tahu bahwa yang dilakukan ibunya itu, meski kadang membuat mereka merasa tidak nyaman, ternyata adalah untuk kebaikan mereka. Mereka bahkan sekarang menyadari betapa besar usaha yang harus dilakukan ibunya untuk memberikan kehidupan yang baik bagi mereka. Dan karena mereka sekarang sudah cukup besar untuk berjalan sendiri, mereka meminta ibunya untuk tidak repot-repot membawa mereka. Mereka dengan senang hati berjalan di samping induk kucing dan berpindah-pindah mencari tempat yang aman untuk hidup.

Dan itulah mengapa sekarang kau sering melihat induk kucing menggigit leher anaknya dan berpindah tempat hingga sembilan kali. Jangan pernah memberhentikan induk kucing itu dan memisahkan anak kucing darinya, karena sebenarnya, itulah tanda cinta terbesar induk kucing terhadap anak-anaknya.

***
Dongeng ini adalah karya asli Damar Wijayanti yang bisa digunakan atau disebarkan dengan mencantumkan nama penulis dan link blog ini. Terima kasih karena telah menghargai karya dan hak cipta penulis.

Wednesday, May 16, 2012

Anak Rakus, Peri dan Perumpamaan Balon

Gambar: Getty Images


Di sebuah kota, terdapat seorang anak laki-laki yang rakus. Dia selalu merasa tidak cukup dengan apa yang dimakannya, meskipun sebenarnya perutnya sudah terasa begitu penuh karena kekenyangan. Anak ini selalu berusaha untuk menambah jatah makanannya dengan mengambil sebagian makanan dari orang lain. Dia terus makan dan makan tanpa mempedulikan perutnya yang terasa sesak.

Suatu hari, seluruh anak di kota itu diundang ke festival para peri. Konon di negeri para peri, anak-anak bisa tidur di atas awan yang putih dan lembut, serta bermain bersama hewan-hewan ajaib. Bahkan di sana terdapat istana yang terbuat dari permen dan coklat tempat anak-anak bisa mengambil makanan manis secukupnya untuk dibawa pulang seusai festival.

Sesuai dengan peraturan festival, anak-anak akan dijemput oleh para peri di balai kota. Masing-masing anak akan mendapat satu peri sebagai pendamping, dan peri pendamping inilah yang akan membawa mereka terbang ke negeri ajaib. Hari yang ditunggu-tunggu semua anak di kota itu pun tiba. Anak-anak yang antusias dan para orang tua sudah menunggu di balai kota menunggu kedatangan para peri, termasuk si anak rakus.

Peri-peri datang beterbangan di atas mereka dan segera mendarat di sebelah anak yang akan dia terbangkan. Meskipun ukurannya kecil, peri-peri ini mampu mengangkat beban tubuh seorang anak dengan berat badan normal. Satu per satu anak terbang bersama peri-peri mereka. Namun, kesulitan dialami oleh peri yang bertugas menerbangkan si anak rakus. Karena terlalu banyak makan, si anak rakus memiliki berat badan di atas berat badan normal anak-anak. Peri itu pun tidak sanggup menerbangkan si anak rakus. Dengan sedih, peri itu meminta maaf kepada si anak rakus karena tidak bisa membawanya pergi ke festival di dunia ajaib.

Melihat si anak yang bersedih, peri itu menawarkan untuk menemaninya bermain di kota karena teman-temannya tidak ada yang berada di kota itu untuk bermain. Si anak setuju dan mereka bermain di belakang rumah si anak. Saat itu, ibu si anak menyediakan makanan untuk si anak dan si peri. Si anak segera menghabiskan makanannya yang banyak, dan meskipun perutnya sudah sesak dan kekenyangan, dia mengambil jatah makanan si peri. Si peri mencoba menasihatinya untuk tidak makan secukupnya saja karena makan berlebihan bisa membuat perutnya sakit, namun si anak tidak peduli.

Akhirnya si peri mengeluarkan dua balon dati tas ajaibnya. Dia menunjukkan kepada si anak bahwa perut anak itu bisa jadi seperti salah satu balon ini. Balon pertama diberinya udara yang cukup dan mengembang sempurna. Sedangkan balon kedua diberinya udara yang berlebihan. Balon itu terus membesar dan membesar.

“Sudah cukup peri, sudah ada banyak udara di dalam balon itu.” Kata si anak.

“Nah, seperti perutmu yang sudah kenyang kan? Apa yang terjadi jika aku terus menambahkan udara ke balon ini?” Tanya peri.

“Balonnya bisa meletus.” Jawab si anak. “Apakah perutku akan meletus karena kebanyakan makan?” Tanya si anak.

“Tidak akan sampai meletus, tapi akan terasa sakit seperti ada balon yang meletus di dalam perutmu.” Jelas peri. “Nah apa kau mau perutmu sakit?” Tanya peri.

Si anak menggeleng.

“Kalau begitu, makanlah secukupnya. Jangan paksa perutmu untuk terus makan kalau sudah merasa kenyang.” Si peri menasihati.

“Kalau aku makan secukupnya, apakah tahun depan kau bisa membawaku terbang ke festival peri?” Tanya si anak.

“Tentu saja, asal kau berjanji untuk tidak makan berlebihan mulai sekarang. Tahun depan aku akan menjemputmu. Jika kau lebih ringan, aku bisa membawamu terbang ke festival peri di negeri ajaib.” Jawab si peri.

Sejak saat itu, si anak berjanji untuk tidak rakus lagi. Dia makan secukupnya dan tidak memaksa perutnya lagi untuk menampung makanan berlebihan. Dia berusaha keras agar tahun depan dia bisa bermain di festival peri di negeri ajaib bersama teman-temannya.

***
Dongeng ini adalah karya asli Damar Wijayanti yang bisa digunakan atau disebarkan dengan mencantumkan nama penulis dan link blog ini. Terima kasih karena telah menghargai karya dan hak cipta penulis.

Tuesday, May 15, 2012

Rumah Para Liliput Hutan

Gambar: Getty Images


Di pinggir hutan, hiduplah sekelompok penebang kayu yang rakus. Mereka ingin mendapatkan banyak keuntungan dan menebang segala pohon yang ada di hadapannya tanpa peduli akan merusak rumah burung-burung dan makhluk-makhluk lain di pepohonan. Mereka bahkan tidak tahu bawa para liliput hutan hidup di dalam kulit kayu dan bahwa mereka sudah membunuh banyak liliput karena asal menebang pohon.

Para liliput yang bersedih hati untuk teman-teman dan keluarga mereka yang meninggal karena rumahnya dihancurkan, akhirnya menggelar sebuah ritual. Malam-malam, bersama-sama mereka menculik salah satu penebang kayu dan mengelilinginya sembari menarikan gerakan-gerakan sakral lengkap dengan mantra-mantra. Si penebang kayu pun dengan ajaib menyusut ukutannya dan menjadi bagian dari keluarga liliput itu.

Si penebang kayu itu kebingungan namun tidak bisa melakukan apa-apa. Akhirnya dia hanya bisa pasrah dan menjalani hidup bersama keluarga besar liliput di dalam kulit kayu. Suatu ketika, di tengah tidur mereka, para liliput merasakan goncangan keras dan suara bising dari mesin gergaji kayu. Sekelompok penebang kayu rakus yang juga teman dari si penebang kayu itu menebang kayu tempat dia hidup bersama para liliput. Si penebang kayu segera keluar dari balik kulit kayu dan berteriak-teriak minta tolong kepada teman-temannya, agar mereka tidak menebang pohon itu. Namun tak ada satu orang pun dari mereka yang dapat mendengarnya.

Akhirnya pohon itu tetap rubuh dan rumah bagi keluarga besar liliput di pohon itu hancur. Hampir setengah dari liliput, terutama anak-anak liliput tidak bisa menyelamatkan diri. Para ibu liliput menangis histeris mengetahui anaknya tak bernyawa lagi. Si penebang kayu sangat sedih melihat pemandangan itu. Dia merasa bersalah dan menyesali perbuatannya selama ini. Dia tidak menyangka, tiap kali dia menebang pohon sembarangan, dia dapat melukai bahkan membunuh berbagai makhluk yang hidupnya bergantung pada pohon itu.

Untuk menebus kesalahannya, si penebang kayu mengajukan ide kepada seluruh keluarga besar lilipun yang hidup di pepohonan lain. Dia mengajak semua liliput di hutan bekerja sama menghentikan para penebang rakus. Jika dengan bersama-sama para liliput itu pernah bisa menculiknya, kali ini mereka pasti bisa menghentikan para penebang rakus itu. Para liliput pun setuju karena mereka sudah muak rumah mereka dihancurkan.

Esok harinya, saat para penebang memasuki hutan untuk menebang pohon lagi, semua liliput keluar dari dalam pepohonan. Sebelumnya mereka telah mengangkut batu-batu yang cukup besar ke dahan-dahan pohon. Saat para penebang datang dan menyalakan mesin gergaji, mereka menjatuhkan semua batu secara bersamaan. Batu-batu itu meluncur dari atas pepohonan seperti sebuah hujan batu, melukai para penebang rakus dan merusak mesin gergaji. Para penebang pohon pun berlarian ke luar hutan.

Hari itu dengan kerjasama yang baik, mereka sukses menyelamatkan rumah mereka. Ata side yang diusulkannya, si penebang kayu akhirnya dimaafkan oleh para liliput. Mereka setuju untuk mengubah si penebang kayu ke ukuran semula asalkan si penebang kayu mau melindungi pepohonan tempat tinggal para liliput. Si penebang kayu pun segera mengiyakan dan berjanji kepada mereka.

Para liliput kembali menggelar ritual sakral. Mereka menari-nari mengelilingi si penebang kayu dan mengucapkan mantra-mantra. Si penebang kayu makin lama makin membesar dan kembali ke ukuran semula. Sebelum pergi dari hutan, dia mengucapkan terimakasih kepada para liliput. Si penebang kayu pun kembali ke pondoknya di pinggir hutan dan menemui teman-temannya. Dia berniat untuk menceritakan pengalaman ajaibnya ini dan meminta teman-temannya untuk tidak merusak pepohonan rumah para liliput. Sejak saat itu, si penebang kayu itu justru menjadi si penjaga hutan.

***
Dongeng ini adalah karya asli Damar Wijayanti yang bisa digunakan atau disebarkan dengan mencantumkan nama penulis dan link blog ini. Terima kasih karena telah menghargai karya dan hak cipta penulis.

Monday, May 14, 2012

Putri Duyung di Dalam Bola Kristal

Gambar: Getty Images

Di kedalaman laut, tinggal keluarga duyung yang memiliki anak yang pemarah. Putri duyung kecil itu selalu berteriak-teriak dan menggunakan kata-kata kasar kepda orang tuanya. Sebenarnya sang ibu sudah sering menasihatinya dengan lembut namun sikapnya tidak membaik.

Sampai suatu hari, putri duyung itu memaki ibunya dengan kata-kata yang menyakitkan. Sang ibu yang marah dan sakit hati akhirnya tanpa sengaja mengucapkan kata-kata kutukan yang membuat putri duyung diliputi gelembung udara. Gelembung udara itu membawanya melayang ke permukaan air dan mengeras menjadi bola kristal, menjebak putri duyung di dalamnya. Dia terapung-apung di permukaan laut dan terombang-ambing. Sang ibu yang menyadari hal itu segera menyesal namun tak dapat menarik kutukannya. Akhirnya dia meminta dewi laut untuk membebaskan putrinya. Dewi laut pun berjanji akan membebaskan putri duyung apabila putri duyung telah menyadari dan menyesali perbuatan kasarnya kepada sang ibu.

Setelah terombang-ambing beberapa hari, bola kristal berisi putri duyung itu ditemukan oleh seorang nelayan tua. Dia memungut bola kristal itu, matanya berbinar-binar melihat keindahannya. Dia pun berbicara sendiri, mengatakan bahwa putrinya pasti akan sangat menyukai bola kristal ini sebagai hadiah. Dia pun membawanya pulang. Di tengah perjalanan pulang, nelayan tua itu harus menghadapi badai. Dia berjuang keras mengendalikan perahunya agar dia bisa pulang dengan selamat dengan membawa ikan-ikan hasil tangkapannya untuk keluarganya.

Untunglah dewi laut masih berpihak kepadanya sehingga ia bisa selamat sampai di rumah. Setelah memasuki pintu rumah, yang pertama kali dilakukan oleh si nelayan adalah memberikan bola kristal itu kepada anaknya. Meskipun sebenarnya sangat senang dengan hadiah itu, sang anak sama sekali tidak berterimakasih kepada sang ayah. Sang ayah pun sedikit kecewa.

Beberapa hari putri duyung berada di atas meja di rumah kecil itu. Dia melihat aktifitas keluarga kecil itu, bagaimana sang ibu bekerja menyiapkan makanan untuk mereka makan, dan ayah yang pergi pagi-pagi buta untuk melaut dan pulang hampir tengah malam untuk menangkap ikan bagi mereka. Namun anak mereka hanya bermalas-malasan seharian tanpa membantu sama sekali. Bahkan anak itu cenderung selalu minta dilayani. Jika tidak diruti, dia akan mencaci-maki kedua orang tuanya.

Melihat hal itu, putri duyung jadi bersedih. Dia terngat perlakuannya kepada ibunya, dia baru menyadari bahwa selama ini ibunya telah bekerja keras merawatnya namun dia justru semena-mena dan tidak berterimakasih. Dia pun menyesal telah meneriakkan kata-kata kasar yang menyakiti ibunya. Akhirnya dia menangis sendirian di dalam bola kristalnya, ia menangis karena merasa bersalah. Ia menangis karena rindu kepada ibunya dan sangat ingin meminta maaf dan memeluk ibunya dengan sayang.

Tanpa ia sadari, setiap butir tangisannya menjadi pertanda bagi dewi laut untuk membebaskan putri duyung dari kutukan ibunya. Keajaiban terjadi malam itu. Bola kristal itu pecah dan putri duyung diangkat melayang oleh butira-butiran kristal yang siap membawanya kembali ke laut. Namun sebelum pergi, putri duyung mendekati anak nelayan yang tercengang melihat kejadian itu. Dia membisikkan pesan kepada anak itu agar tidak bersikap kasar kepada orang tuanya agar dia tidak menyesal suatu saat nanti. Setelah itu, putri duyung pun kembali ke laut dan segera berenang ke kedalaman untuk menemui ibunya, meminta maaf dan memeluk, dan mencium sang ibu dengan sayang.

***
Dongeng ini adalah karya asli Damar Wijayanti yang bisa digunakan atau disebarkan dengan mencantumkan nama penulis dan link blog ini. Terima kasih karena telah menghargai karya dan hak cipta penulis.

Sunday, May 13, 2012

Goldy


Gambar: Getty Images

Di sebuah desa, terdapat seorang saudagar kaya yang kewalahan mengurus anak lelakinya yang sangat nakal karena istrinya telah meninggal. Karenanya, dia ingin mencari istri baru untuk merawat anaknya itu. Saudagar kaya ini pun menikahi seorang janda yang juga memiliki anak laki-laki sebaya dengan anaknya. Saudagar itu berpikir, anak lelaki janda ini tentu bisa menjadi saudara sekaligus teman bermain bagi anaknya yang tidak memiliki teman.

Anak janda itu bernama Goldy, sesuai dengan namanya, dia adalah anak berhati emas yang ramah dan baik kepada setiap orang sehingga memiliki banyak teman. Sedangkan anak saudagar kaya itu bernama Bogy. Bogy anak yang sangat nakal dan kasar sehingga tak ada anak lain yang mau bermain dengannya.

Setelah orang tua mereka menikah, Goldy yang baik hati mengajak Bogy untuk ikut bermain bersama teman-temannya. Bogy senang, namun karena sikapnya yang kasar dan nakal saat bermain, teman-teman Goldy tidak mau bermain dengan Bogy. Mereka justru mengajak Goldy bermain di tempat lain dan meninggalkan Bogi.

Karena iri terhadap Goldy yang memiliki banyak teman, Bogi pergi ke tempat tukang sihir di sebuah pasar malam. Dia meminta tukang sihir mengubah Goldy menjadi Troll agar tidak ada anak-anak yang berani bermain bersama dia, sehingga Goldy tidak memiliki teman dan teman-teman Goldy bisa menjadi teman-teman Bogi. Dengan bayaran, si tukang sihir pun melakukan perintah Bogi.

Esok hari, Goldy terbangun di tempat yang asing baginya. Dia terbangung di kubangan lumpur yang kotor di lembah sebuah bukit. Dalam keadaan bingung, Goldy mencari sungai untuk membersihkan dirinya. Dalam perjalanan mencari sungai, dia agak heran karena tanaman-tanaman di sekitarnya seperti menyusut. Setelah sampai di sebuah sungai, baru Goldy menyadari bahwa dirinya telah berubah menjadi troll yang mengerikan.

Goldy pun berjalan ke desa untuk mencari bantuan, namun tak seorang pun yang mau didekatinya. Mereka takut dan segera bersembunyi, bahkan ada yang melemparinya dengan batu dan obor agar Goldy pergi dari desa itu.

Setelah beberapa hari menyendiri di bukit di samping desa, Goldy merasa kesepian. Kebetulan, saat itu dia mendengar suara teman-temannya sedang asyik bermain di padang rumput. Mereka bermain bersama Bogi. Goldy pun mendatangi mereka karena ingin bergabung. Namun apa yang terjadi? Teman-temannya ketakutan dan bersembunyi, sedangkan Bogi melemparinya dengan batu agar pergi dari tempat bermain itu.

Dengan sedih, Goldy meninggalkan mereka dan kembali ke balik bukit. Dia duduk berkubang di lembah lumpur dan mencoba bermain sendiri. Dia memetik daun yang lebar dan menjadikannya perahu untuk dijalankan di atas kubangan lumpur itu. Goldy tidak sadar bahwa ada seorang gadis cilik yang sedari tadi mengamatinya, sampai gadis itu berdeham.

“Bolehkah aku naik ke atas perahu itu?” tanya gadis itu sopan.

“Tentu saja, kalau kau tidak takut denganku.” Jawab Goldy.

“Kenapa harus takut? Kamu tidak berniat jahat kepada anak-anak tadi kan? Kamu hanya ingin bermain bersama?” tanya gadis itu yang ternyata juga melihat kejadian Goldy mendekati teman-temannya di padang rumput.

“Ya, tapi mereka takut padaku. Sekarang aku tidak punya teman lagi.” Jawab Goldy sedih.

“Jangan bersedih, aku ingin bermain denganmu. Ayo naikkan aku ke perahumu.” Hibur si gadis kecil.

Goldy menuruti kemauan gadis kecil itu. Mereka bermain bersama dengan gembira hingga sore hari. Sebelum matahari terbenam, gadis itu berpamitan pulang.

“Jangan bersedih lagi ya Goldy, tenang saja, aku mau kok menjadi temanmu.” Bujuk si gadis kecil.

Goldy tersenyum mendengarnya. Dan saat itu keajaiban terjadi. Tubuh Goldy tiba-tiba mengecil dan dia kembali ke wujudnya semula, seorang anak laki-laki normal. Ternyata mantra si tukang sihir lenyap saat Goldy menemukan teman sejati, yang tetap mau menemani Goldy di saat teman-temannya yang lain pergi. Goldy pun pulang bersama si gadis kecil menuju desa. Mereka pun akhirnya menjadi sahabat baik.

***
Dongeng ini adalah karya asli Damar Wijayanti yang bisa digunakan atau disebarkan dengan mencantumkan nama penulis dan link blog ini. Terima kasih karena telah menghargai karya dan hak cipta penulis.

Saturday, May 12, 2012

Rayuan Goblin

Gambar: Getty Images

Di musim-musim terdingin di sebuah desa di kaki gunung, anak-anak dilarang keluar rumah untuk bermain karena cuaca begitu buruk dan berbahaya bagi mereka. Selain itu, pada musim ini para goblin turun dari gunung untuk menculik anak-anak yang nekat bermain di luar rumah. Apalagi, para goblin jahat ini tahu bahwa anak-anak sering ditinggal di rumah oleh orang tuanya karena para orang tua ini tidak bisa mengajak anak-anak mereka saat mereka harus pergi karena cuaca yang begitu buruk.

Meskipun para orang tua sudah melarang anak-anaknya bermain di luar agar aman dari goblin, namun masih banyak anak-anak yang menghilang karena di culik para goblin. Para goblin merayu dengan banyak hal yang disukai anak-anak agar mereka mau membukakan pintu dan mengikuti goblin pergi dari rumah, saat para orang tua mereka tidak ada di rumah.

Suatu hari yang sangat suram dan bercuaca sangat buruk, orang tua Orka harus pergi ke kota untuk membeli roti dan bahan makanan lain. Mereka sebenarnya khawatir saat harus meninggalkan Orka sendirian di rumah karena anak-anak tetangga mereka sudah banyak yang termakan rayuan goblin dan menghilang dari rumah. Namun, karena cuaca sangat buruk dan berbahaya bagi Orka untuk keluar dari rumah, akhirnya mereka terpaksa meninggalkan Orka di rumah. Sebelum pergi, mereka meminta Orka untuk berjanji untuk tidak membukakan pintu bagi siapapun, dan berjanji untuk tidak menginjakkan kaki sedikit pun di luar rumah.

Seperti anak-anak lain, Orka berjanji kepada orang tuanya. Namun kebanyakan anak-anak lain mengingkari janjinya kepada orang tua mereka karena terbujuk rayuan para goblin, akibatnya mereka pun berhasil diculik.

Beberapa saat setelah orang tuanya pergi, sesosok goblin mengetuk pintu rumah Orka. Orka berjalan ke pintu dan mengintip melalui jendela di samping pintu. Dia melihat si goblin menyeringai sambil menyodorkan sekeranjang apel merah mengkilat yang sangat menggiurkan. Si goblin berkata bahwa semua apel itu dia bawakan dari gunung khusus untuk Orka, dan meminta Orka membukakan pintu agar ia bisa memberikan apel –apel itu. Namun Orka masih teringat janjinya kepada orang tuanya dan menolak pemberian itu. Goblin pun pergi dengan muka cemberut dan Orka menghembuskan nafas lega. Dia kembali menghangatkan diri di dekat perapian.

Beberapa saat kemudian, pintu kembali diketuk. Orka mengintip lagi dan dia mendapati seorang gadis cantik yang menawarkan gula kapas berwarna merah jambu yang begitu menggoda. Orka tidak tahu bahwa gadis itu adalah jelmaan goblin jahat. Gadis itu tampak baik dan tersenyum manis meminta Orka membukakan pintu agar dia bisa menyuapkan gula kapas itu ke Orka. Orka hampir saja tergoda untuk membukakan pintu, tapi kemudian dia teringat pesan orang tuanya untuk tidak membukakan pintu kepada siapa pun. Siapa pun. Orka pun menolak dengan halus. Si gadis berbalik dengan jengkel dan pergi.

Orka kembali menghangatkan diri di perapian. Perutnya keroncongan karena lapar, sedangkan makanan di rumah itu benar-benar habis. Di tengah kelaparan yang mendera, dia mendengar ada ketukan lagi di pintu. Kali ini dia melihat tetangga sebelah yang membawa roti, kentang tumbuk, dan ayam panggang. Semua itu adalah makanan favorit Orka. Perutnya semakin keroncongan melihat makanan yang lezat-lezat itu. Paman itu mengajak Orka keluar untuk ikut makan di rumahnya. Namun, tanpa disadari Orka, paman ini juga jelmaan dari goblin. Orka memutar kunci pintu. Satu kali putaran lagi, pintu terbuka, tapi tiba-tiba Orka teringat janjinya kepada orang tuanya bahwa dia tidak akan menginjakkan kaki sedikit pun di luar rumah. Dengan berat hati, Orka menolak tawaran paman tetangga dan menolak ajakannya dengan halus agar tak menyakiti perasaannya.

Orka kembali ke dekat perapian sambil menahan lapar. Perutnya meraung-raung dan dia hampir menangis karena sangat kelaparan. Tiba-tiba dia mendengar suara kunci diputar, dan pintu rumahnya terbuka. Dia mengintip dengan takut karena dia mengira dia lupa mengunci kembali pintu itu dan goblin berhasil masuk ke rumah. Tapi begitu melihat siapa yang masuk, Orka langsung berlari mendatanginya untuk memeluknya. Orka menangis sekaligus bahagia saat mengetahui orang tuanya pulang lebih cepat dari dugaan Orka. Orka pun dengan tidak sabar meminta orang tuanya membuka belanjaan mereka.

Betapa bahagianya Orka saat mengetahui orang tuanya tanpa sengaja membeli hal-hal yang ditolaknya dari goblin tadi. Apel-apel ranum yang menggiurkan, gula kapas berwarna merah muda, dan makanan-makanan lezat berupa roti, kentang tumbuk, dan ayam panggang yang siap dihangatkan oleh ibunya dan bisa dia makan dengan lahap. Bahkan, sebagai hadiah karena telah menepati janji Orka mendapatkan lolipop berwarna-warni.

Orka sangat bangga kepada dirinya karena mampu menepati janji dan menuruti aturan dari orang tuanya, serta bisa menolak godaan-godaan dari goblin jahat yang berusaha menculiknya.

***
Dongeng ini adalah karya asli Damar Wijayanti yang bisa digunakan atau disebarkan dengan mencantumkan nama penulis dan link blog ini. Terima kasih karena telah menghargai karya dan hak cipta penulis.

Friday, May 11, 2012

Bermain ke Negeri Ajaib

Gambar: Getty Images

Di sebuah desa di mana banyak anak-anak yang tinggal bersama orang tuanya di sana, tinggal pula dua gadis cilik bersaudari di sana. Namun, berbeda dengan anak-anak lain yang memiliki orang tua yang memiliki cukup banyak emas untuk membelikan mainan-mainan dari kota, kedua kakak beradik ini harus berpuas diri dengan bermain dengan mainan-mainan kayu usang yang bertahun-tahun lalu dibuatkan oleh ayahnya.

Pernah suatu kali, si adik ingin bermain dengan teman-teman sebayanya. Namun sayang, saat tiba di rumah salah satu temannya, dia tidak bisa ikut bermain karena semua teman-temannya bermain menggunakan mainan baru dari kota. Permainan itu mengharuskan semua anggota memiliki alat bermain yang harus dibeli di kota. Si adik pun terpaksa pulang dan batal bermain bersama.

Sesampai di rumah, dia menangis. Dia mengadu kepada orang tuanya, meminta untuk dibelikan alat permaian tersebut. Namun, orang tuanya tidak memiliki cukup banyak uang emas untuk membelikannya. Sang kakak yang mendengar rengekan adiknya kemudian mendekati si adik. Dia menenangkan si adik agar berhenti menangis dan mengajaknya bermain di belakang rumah.

“Lihat, kita tidak harus memiliki alat permainan dari kota untuk bisa bermain dengan gembira. Kita punya kebun bunga dan padang rumput kecil di belakang rumah.” Kata kakak.

“Tapi apa yang asyik di sini? Apa yang bisa kita mainkan?” Tanya adik.

“Ayo ikut aku, aku punya rahasia!” kata kakak sambil menggandeng tangan adiknya.

Mereka berjalan ke bawah pohon yang rindang di belakang rumahnya. Di sana terdapat sebongkah akar pohon tua yang telah mati. Akar itu bisa ditunggangi dan digoyang ke depan dan ke belakang seperti mainan kuda kayu.

“Ini adalah akar pohon ajaib! Ayo kita naik dan lihat kemana dia akan membawa kita pergi.” Kata kakak.

Adik agak tidak percaya tapi akhirnya mengikuti kakaknya karena dia juga penasaran. Setelah keduanya duduk di atas akar pohon itu, kakak mulai menggoyangkannya ke depan dan ke belakang. Mereka pun bergerak-gerak dan merasa seperti sedang menunggang mainan kuda kayu. Si adik mulai senang, namun lama kelamaan dia merasa bosan.

“Kenapa akar ajaib ini tidak membawa kita pergi seperti katamu?” Tanya si adik.

“Mungkin karena kau tidak membayangkannya. Aku dulu sering bermain di sini dan akar ajaib membawaku terbang ke dunia ajaib. Di sana banyak sekali mainan seru.” Jelas kakak.

“Apa yang kau lakukan waktu itu?” Tanya adik.

“Aku memejamkan mata dan membayangkan hal-hal yang menyenangkan seperti naik karosel.” Jawab kakak. Adik pun mengangguk dan mengikuti kata-kata kakak.

Sesaat kemudian, Adik merasa angin berhembus di wajahnya. Dia merasa kakinya terangkat dari tanah. Akar ajaib yang dia naiki berubah menjadi Unicorn kayu yang hidup dan membawa mereka terbang tinggi menembus awan. Seperti kata kakaknya, dia tadi membayangkan menyenangkannya naik karosel. Dan saat membuka mata, dia melihat ada karosel di atas awan!

“Bisakah kita turun dan bermain di taman bermain ajaib ini?” Tanya adik.

“Tentu saja bisa! Ayo kita bersenang-senang!” ajak kakak.

Mereka turun dari punggung Unicorn dan berlari ke arah karosel. Mereka merasakan lembut dan lembabnya awan di kaki mereka, seperti merasakan rumput yang baru tumbuh di pagi hari di musim semi. Mereka menaiki karosel dan berputar-putar senang. Setelah itu, mereka pun mencoba permainan lain sampai puas dan kembali menunggangi Unicorn saat mereka merasa kelelahan.
Kakak mengajak adiknya pulang untuk beristirahat dan berjanji akan menemaninya lagi untuk bermain ke negeri ajaib esok hari. Setelah kembali ke belakang rumah, mereka berjalan bergandengan masuk ke dalam rumah dengan perasaan gembira. Adik merasa sangat senang dan tidak pernah bersedih lagi karena sebelum dia pulang, dia sempat mengantongi tiket untuk kembali menuju negeri ajaib, yaitu sekantong penuh imajinasi :)

***
Dongeng ini adalah karya asli Damar Wijayanti yang bisa digunakan atau disebarkan dengan mencantumkan nama penulis dan link blog ini. Terima kasih karena telah menghargai karya dan hak cipta penulis.

Thursday, May 10, 2012

Elvie dan Kurcaci Tua


Gambar: Getty Images

Ini adalah cerita Elvie yang membututi seorang kurcaci tua ke dunianya. Elvie adalah gadis kecil yang kurus karena tak pernah mau menghabiskan makanannya. Meskipun diiming-imingi hadiah oleh orang tuanya setiap dia berhasil menghabiskan makanannya, terutama sayur-sayuran, Elvie tetap tidak suka makan.

Suatu malam, seperti biasa Elvie makan malam bersama orang tuanya dan dia hanya memakan beberapa suap dari makanannya. Elvie menyisakan begitu banyak makanan di piringnya dan tidak mau menghabiskannya. Elvie pun hanya mengaduk-aduk makanan di piringnya sambil menyangga dagu karena bosan. Saat sedang bosan dengan makanannya, tak sengaja Elvie melihat sesosok makhluk kecil tua mengintip di jendela. Makhluk berjenggot itu menempelkan muka di kaca jendela dengan mimic sedih, sangat sedih.

Makhluk itu menatap Elvie dengan tatapan sedih sampai orang tua Elvie membereskan meja dan piring Elvie yang masih terisi. Jam makan malam telah usai, dan si makhluk tua itu pun berbalik badan sambil menunduk sedih dan berjalan menjauh.

Malam-malam berikutnya, hal itu terjadi lagi. Tatapan sedih makhluk itu akhirnya membuat Elvie gusar dan setelah jam makan selesai, Elvie memutuskan untuk mencari tahu tentang makhluk itu. Elvie membututinya. Makhluk itu terus berjalan dan tanpa sadar Elvie telah membututi makhluk itu sampai ke dunia ajaib, tempat makhluk itu tinggal. Makhluk tua yang sebenarnya adalah kurcaci itu masuk ke dalam pondok kecil. Kini, giliran Elvie yang mengintip di jendela rumahnya.

Di dalam rumah itu, terdapat tiga sosok kurcaci. Si kurcaci tua, istrinya, dan anak mereka. Begitu memasuki rumah, istri kurcaci menghampiri si kurcaci tua, melepas mantel kumalnya dan bertanya apakah dia membawa pulang makanan malam ini. Kurcaci itu menggeleng dan menatap keluarganya dengan sedih.

“Elvie tidak menghabiskan makanannya lagi malam ini. Mungkin aku kurang bekerja keras di kebun untuk menghasilkan makanan yang ia sukai.” Jawab si kurcaci tua. Elvie bingung mendengarnya. Dia ingin mendengarkan percakapan lain, tapi keluarga kurcaci itu memilih untuk tidur daripada terbangun dengan rasa kelaparan.

Malam berikutnya, Elvie tidak menghabiskan makanannya lagi. Kali ini, dia tidak memainkan makanannya, tapi justru membawa piringnya ke luar rumah. Dia menemui si kurcaci tua yang lagi-lagi mengintipnya.

“Pak tua, ini bawa pulang makanan ini untuk keluargamu. Aku tidak memakannya.” Kata Elvie. Namun, kurcaci tua justru menggeleng.

“Elvie, makanan kami berbeda dengan makananmu. Kami bekerja keras menghasilkan makanan yang lezat untukmu agar kami mendapat imbalan berupa makanan kurcaci yang lezat bagi kami. Tapi, makanan kurcaci baru bisa kami dapatkan kalau anak-anak manusia yang menjadi tanggung jawab kami menghabiskan makanannya.” Jelas kurcaci tua. Elvie mendengarkan dengan baik.

“Aku bertugas untuk menghasilkan makanan untukmu, tapi kau tak pernah menghabiskan makananmu. Akibatnya aku dan keluargaku tidak pernah mendapatkan makanan kurcaci yang cukup. Kalau kau mau membantu kami Elvie, tolong habiskan makananmu. Aku telah bekerja keras untuk menghasilkan makanan lezat untukmu. Bisakah kau melakukannya untukku?” Tanya kurcaci tua dengan nada memohon.

Mendengar penjelasan kurcaci tua itu, kini Elvie mengerti bahwa setiap kali dia tidak menghabiskan makanannya, dia akan membuat kurcaci yang telah menyediakan makanan lezat untuknya menjadi bersedih. Elvie pun segera masuk ke dalam rumah dan melanjutkan makannya hingga habis tak bersisa. Orang tuanya heran namun juga senang melihat Elvie makan dengan lahap.

Kurcaci tua yang tetap mengintip di jendela kini mengintip dengan wajah gembira, dia tersenyum bangga kepada Elvie. Saat suapan terakhir telah ditelan oleh Elvie, secar ajaib, pundi-pundi milik kurcaci tua itu menjadi berat karena telah terisi makanan kurcaci yang cukup banyak. Melihatnya, Elvie tersenyum puas. Kurcaci tua membalasnya dengan tatapan penuh terimakasih. Dia pun pulang ke pondoknya dan disambut dengan gembira oleh istri dan anaknya yang kelaparan.

Sejak saat itu, Elvie selalu bersyukur atas makanan lezat yang telah disiapkan untuknya, dan selalu menghabiskan makanannya.


***
Dongeng ini adalah karya asli Damar Wijayanti yang bisa digunakan atau disebarkan dengan mencantumkan nama penulis dan link blog ini. Terima kasih karena telah menghargai karya dan hak cipta penulis.